Masyarakat Manfaatkan Penurunan Harga Emas Jadi Peluang Tambah Investasi
Vito April 20, 2026 11:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Galeri 24 melaporkan fenomena menarik terjadi di sejumlah outlet dalam beberapa hari terakhir.

Ketika harga emas mengalami penurunan, justru terjadi lonjakan pembeli yang memicu antrean panjang di berbagai daerah. 

Kondisi itu berbanding terbalik dengan tren awal 2026. Pada periode Januari hingga Februari, harga emas sempat menunjukkan kenaikan signifikan. 

Untuk ukuran 10 gram, harga emas pada Januari berada di kisaran Rp 24,819 juta, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp 29,222 juta pada Februari, atau berrti terjadi kenaikan lebih dari Rp 4 juta hanya dalam waktu satu bulan. 

Namun dalam beberapa waktu terakhir, harga emas mulai mengalami koreksi. Situasi itu memunculkan dua respons berbeda di masyarakat.

Sebagian melihatnya sebagai sinyal kekhawatiran, sementara sebagian lainnya justru memanfaatkannya sebagai peluang investasi. 

Kepala Divisi Komersial dan Pengembangan Bisnis Galeri 24, Ihdina Inti Rachma mengatakan, tingginya minat beli masyarakat di tengah penurunan harga menjadi indikasi meningkatnya pemahaman terhadap karakter investasi emas. 

"Alih-alih panik saat harga turun, mereka memanfaatkannya sebagai momentum untuk menambah aset emasnya," katanya, dalam keterangan tertulis, Senin (20/4). 

Menurut dia, kondisi itu menunjukkan adanya perubahan pola pikir masyarakat dalam memandang emas sebagai instrumen investasi.

Jika sebelumnya emas kerap dianggap sebagai alat spekulasi jangka pendek, kini semakin banyak masyarakat yang menjadikannya sebagai aset lindung nilai untuk jangka panjang. 

Secara karakter, Ihdina menuturkan, emas memang lebih tepat digunakan sebagai instrumen investasi jangka panjang.

"Secara karakter, emas memang dikenal sebagai investasi jangka panjang, minimal 5 tahun agar nilainya dapat berkembang optimal," jelasnya. 

Dengan karakter tersebut, dia menambahkan, fluktuasi harga dalam jangka pendek dinilai sebagai hal yang wajar. Penurunan harga seperti yang terjadi saat ini tidak serta-merta menjadi alasan untuk menghindari pembelian.

"Sebaliknya, bagi investor yang memahami siklus pasar, momen koreksi harga justru dimanfaatkan untuk menambah portofolio," terangnya.

Ihdina menyatakan, fenomena antrean panjang di gerai Galeri 24 mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas fisik. 

Dalam beberapa hari terakhir, ia berujar, sejumlah outlet dilaporkan mengalami lonjakan jumlah pembeli dibandingkan dengan periode sebelumnya. 

Kondisi itu terjadi bersamaan dengan tren penurunan harga emas, yang dalam praktiknya membuka peluang bagi masyarakat untuk membeli dengan harga yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya. 

Ihdina mengungkapkan, perubahan perilaku ini tidak lepas dari meningkatnya literasi keuangan masyarakat.

Pemahaman mengenai konsep 'buy on weakness' atau membeli saat harga turun mulai diterapkan dalam keputusan investasi sehari-hari. 

"Hal ini juga menunjukkan masyarakat semakin memahami bahwa nilai emas tidak hanya dilihat dari pergerakan jangka pendek, tetapi dari potensi pertumbuhan nilai dalam jangka panjang," paparnya. (Kompas.com/Sakina Rakhma Diah Setiawan)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.