TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemain Bhayangkara FC U20 Fadly Alberto Hengga membuat pengakuan di balik aksi viral tendangan kungfu ke pemain Dewa United U20.
Pengakuan itu disampaikan di hadapan manajer Bhayangkara U20.
Meski demikian, manajemen memastikan alasan yang disampaikan Berto tetap tidak bisa dibenarkan.
Pemain timnas kelompok umur itu diduga mendapat perlakuan rasis sebelum melancarkan aksi tendangan kungfu.
Hal itu disampaikan Manajer Bhayangkara U-20, Yongki Pandu Pamungkas.
Baca juga: "Sangat Kecewa" Respons Pelatih Timnas Asal Semarang Setelah Viral Tendangan Kungfu Alberto Hengga
Baca juga: Bukan Hanya Dicoret Timnas, Buntut Tendangan Kungfu Fadly Alberto di Semarang Juga Diputus Sponsor!
Dalam klarifikasinya, pihak Bhayangkara menegaskan tidak membenarkan aksi tendangan kungfu yang dilakukan pemainnya, Fadly Alberto Hengga. Namun, mereka menyebut insiden tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu rangkaian kejadian di lapangan.
Manajer Bhayangkara U-20, Yongki Pandu Pamungkas, menjelaskan bahwa pertandingan awalnya berjalan normal tanpa masalah berarti dengan pihak lawan.
“Pada prinsipnya kami tidak membenarkan apa yang dilakukan pemain kami. Itu tindakan yang tidak baik, apalagi di level usia muda,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, ketegangan mulai muncul pada menit ke-81 saat timnya kebobolan gol yang dianggap offside.
Protes kepada wasit kemudian menjadi pemicu awal situasi memanas.
Setelah itu, menurut Yongki, terjadi cekcok antarpemain yang berujung pada pemukulan terhadap pemain Bhayangkara oleh pemain Dewa United. Situasi semakin memanas ketika pemain yang terlibat disebut berlari ke area bench.
“Di situ ada provokasi. Pemain kami terpancing emosi, apalagi situasi pertandingan sedang panas karena kami tertinggal,” jelasnya.
Kericuhan pun tak terhindarkan. Ia menyebut, dalam momen tersebut juga terjadi aksi tendangan dari pihak lawan sebelum akhirnya muncul insiden tendangan yang dilakukan Alberto yang kemudian viral di media sosial.
Lebih lanjut, Yongki mengungkapkan bahwa berdasarkan pengakuan Alberto, ada dugaan perlakuan rasis yang diterimanya di lapangan sehingga memicu emosinya.
“Dari pengakuan yang bersangkutan, dia merasa ada ucapan yang bersifat rasis terhadap dirinya. Itu yang membuat emosinya terpancing,” ujarnya.
Meski demikian, Bhayangkara tetap menyesalkan kejadian tersebut dan memastikan akan melakukan pembinaan terhadap pemain yang bersangkutan.
Selain itu, pihak tim juga menyoroti beredarnya potongan video viral yang dinilai tidak menggambarkan kejadian secara utuh.
“Yang beredar di media sosial hanya potongan akhir, padahal ada rangkaian kejadian sebelumnya yang tidak terlihat,” katanya.
Terkait langkah lanjutan, Bhayangkara U-20 menyatakan tengah melakukan evaluasi internal dan berencana melaporkan kronologi lengkap kejadian kepada PSSI.
“Kami akan sampaikan secara lengkap agar penanganannya bisa adil dan menyeluruh,” pungkasnya.
Pelatih Timnas Kecewa
Pelatih Timnas U20 Indonesia, Nova Arianto, mengaku sangat kecewa dengan sikap mantan anak asuhnya di Timnas U17, yakni Fadly Alberto Hengga.
Dia pun memastikan bakal ada konsekuensi yang didapat oleh sang pemain.
Pemandangan miris kembali terjadi di sepak bola Indonesia.
Panggungnya kali ini adalah kompetisi usia muda Elite Pro Academy (EPA) Super League U20 2025-2026 yang melibatkan Bhayangkara FC U20 dan Dewa United U20.
Beredar luas di media sosial rekaman video keributan yang terjadi usai pertandingan EPA U20 antara Dewa United U20 vs Bhayangkara FC U20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026).
Laga berakhir untuk kemenangan Dewa United U20 dengan skor 2-1.
Situasi memanas ketika wasit meniup peluit panjang dan para pemain dari kedua tampak terlibat keributan.
Tiba-tiba seorang pemain Bhayangkara FC berlari kencang dan mendaratkan tendangan kepada pemain lawan di tengah kerumunan.
Aksi tak terpuji ini lantas memperkeruh situasi.
Akibat tendangan tersebut, salah seorang pemain Dewa United U20 terkapar dan langsung mendapat tindakan medis.
Belakangan, terduga pelaku tendangan kungfu mengarah pada sosok Fadly Alberto Hengga.
Sang pemain kabarnya telah menutup kolom komentar di media sosialnya.
Hal tersebut sangat disayangkan mengingat Fadly merupakan pemain berlabel timnas yang membantu Timnas U17 Indonesia mengukir kemenangan bersejarah di Piala Dunia U17 2025 lewat golnya ke gawang Honduras.
Aksi tersebut jelas mencederai sportivitas yang seharusnya dikedepankan dalam sebuah pertandingan sepak bola.
Kekecewaan Nova Arianto Mengetahui mantan anak asuhnya terlibat dalam keributan ini, Nova Arianto pun mengaku kecewa dengan tindakan tidak sportif yang ditunjukkan oleh Fadly Alberto.
"Pastinya saya sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Berto karena apa pun alasannya, tindakan itu tidak bisa dibenarkan," kata Nova dikutip tribunjateng.com dari kompas.com lewat pesan singkat, Senin (20/4/2026).
"Apalagi status Berto adalah pemain Timnas U17 yang seharusnya memberikan contoh kepada pemain lainnya," lanjut dia.
Nova mengaku sudah berkomunikasi dengan Fadly Alberto terkait insiden ini.
Pelatih berkepala pelontos itu pun memastikan Fadly Alberto akan mendapatkan sanksi atas tindakannya tersebut.
Namun, dia belum bisa memastikan sanksi seperti apa yang akan diberikan.
"Sudah (berkomunikasi) dan Berto harus belajar dari situasi ini," ujar Nova.
"Saya tidak mentolerir kejadian itu dan pastinya ada konsekuensi dengan apa yang dilakukan Berto dan itu sedang dalam pembahasan kami di tim kepelatihan," lanjut dia.
Meski begitu, Nova menyatakan akan tetap memberikan pendampingan bagi Fadly Alberto.
"Kami akan tetap berikan pendampingan agar Berto ada efek jera di sana," tutur dia.
Akibat dari kejadian ini, sanksi dengan kategori berat kemungkinan menanti Fadly Alberto.
Tentu, ini merupakan kerugian bagi Timnas U20 Indonesia yang berpotensi kehilangan satu pemain penting jelang menghadapi Piala AFF U19 2026 pada Juni mendatang. (Franciskus Ariel/Kompas.com)