Bahlil Ungkap Peluang Penyesuaian Harga Pertamax 
Vito April 20, 2026 11:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, seluruh harga bahan bakar minyak (BBM) maupun elpiji yang bersubsidi tidak akan naik dalam waktu dekat.

Pernyataan itu disampaikan menyusul mulai dilakukannya penyesuaian harga terhadap BBM dan elipiji non-subsidi oleh PT Pertamina.

Menurut dia, pemerintah yang akan menjamin seluruh harga BBM jenis subsidi, dalam hal ini Pertalite maupun Solar untuk tidak naik, meski Indonesia Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah global mencapai 100 dolar AS per barel.

"Kalau subsidi sampai dengan harga ICP dunia 100 dolar, (harganya-Red) tidak akan naik. Rata-rata, sekarang average rata-rata dunia ICP kita dari Januari sampai tertanggal yang saya ngomong itu kurang lebih sekitar 76 dolar," katanya, saat ditemui awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4).

Diketahui, harga BBM Pertalite saat ini dibanderol dengan Rp 10.000 perliter, sedangkan Solar dihargai Rp 6.800 perliter.

Sementara, elpiji ukuran 3 kg saat ini dijual sekitar Rp 17.000-Rp18.000 per tabung sesuai dengan harga standar nasional. Namun, harga elpiji melon itu bisa berbeda-beda di setiap wilayah.

"Kalau untuk elpiji 3 kilogram, sejak elpiji diterapkan pada 2006, 2007, itu sampai dengan sekarang belum pernah kami naikkan harga dari pemerintah," ucapnya.

Bahlil menuturkan, kenaikan harga elpiji melon saat ini kerap terjadi karena adanya permainan harga dari pengecer atau distributor.

Sementara, menurut dia, harga yang sudah ditetapkan pemerintah sejatinya harus sampai ke masyarakat. "Yang ada itu adalah dimainkan harganya di distributor dan pangkalan. Itu kira-kira," tukasnya.

"Harga yang ditetapkan waktu itu berapa? Rp 17.000 sampai Rp 18.000. Itu harga subsidi, harus sampai di rakyat. Tapi kan ada yang sampai Rp 25.000 waktu itu dibuat. Tapi begitu mau ditertibkan kan ya macam-macam-lah. Yaudah-lah, sudah berlalu," sambungnya.

Adapun, Bahlil juga menanggapi soal kenaikan harga BBM non-subsidi, dalam hal ini Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. 

Ia menyebut, kenaikan harga terhadap bensin non-subsidi itu merupakan penyesuaian yang dilakukan PT Pertamina di tahap pertama dalam menyikapi dinamisnya harga minyak dunia.

"Saya katakan bahwa kalau yang untuk BBM non-subsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang," tuturnya.

Dengan begitu, dia menambahkan, dimungkinkan juga akan dilakukan penyesuaian terhadap jenis bensin non-subsidi lain, dalam hal ini RON 92 Pertamax. Diketahui, harga Pertamax 92 saat di level Rp 12.300 per liter.

Bahlil menyatakan, kemungkinan penyesuaian harga itu bisa saja terjadi apabila harga minyak dunia tidak kunjung turun.

"Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian. Kalau harga (minyak-Red) turun, ya (Pertamax-Red) nggak naik. Tapi kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian," jelasnya.

Meski demikian, ia berujar, pemerintah tidak pada kapasitas menjamin naik atau tidaknya harga bensin non-subsidi. Yang diatur dan bisa dijamin tidak adanya kenaikan harga bensin yakni terhadap BBM subsidi, dalam hal ini RON 90 Pertalite dan CN 48 Solar.

"Karena kan yang bisa kita jamin, negara, pemerintah bisa menjamin itu kan adalah harga subsidi. Dan itu kan peraturan Menteri ESDM 2022 kan sudah jelas itu ada formulasinya," tandasnya. (Tribunnews/Rizki Sandi Saputra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.