Harga Elpiji Naik, Pelaku IKM Kue Semprong di Tanah Bumbu Terpaksa Menaikkan Harga Jual
Ratino Taufik April 21, 2026 07:48 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Langkah pemerintah menaikkan harga elpiji nonsubsidi pada Sabtu (18/4) langsung dirasakan masyarakat Kabupaten Tanahbumbu. “Hari ini saya beli Bright Gas 5,5 kilogram di pengecer langganan Rp 125 ribu. Padahal biasanya Rp 100 ribu,” kata Wardah Kamila, pelaku industri kecil menengah (IKM) kue semprong di Kota Batulicin, Senin (20/4).

Berdasarkan edaran Pertamina harga Bright Gas 5,5 kg di Kalimantan Selatan yang semula Rp 97 ribu menjadi Rp 114 ribu atau naik Rp 17 ribu.  Sementara 12 kg dari Rp 202 ribu menjadi Rp 238 ribu atau naik Rp 36 ribu. Harga tersebut adalah harga resmi di tingkat agen/pangkalan.

Wardah mengaku terpaksa tetap menggunakan gas nonsubsidi lantaran elpiji subsidi 3 kg sangat sulit ditemukan di pasaran. Padahal dalam sebuan ia memerlukan sedikitnya dua tabung 5,5 kg.

Kenaikan harga Bright Gas tersebut tentu berdampak langsung pada biaya operasional usahanya. Agar tidak merugi, Wardah mengaku terpaksa melakukan penyesuaian harga jual wadai semprong.

Agen elpiji nonsubsidi di Batulicin, H Mardiansyah, mengatakan harga gas 5,5 kg, yang sebelumnya dijual ke pengecer Rp 95 ribu kini menjadi Rp 118 ribu-Rp 120 ribu.  Sedangkan untuk 12 kg dari Rp 210 ribu menjadi Rp 240 ribu.

Untuk pembelian di atas 100 tabung, agen mematok Rp 113 ribu untuk tabung 5,5 kg dan Rp 236 ribu untuk ukuran 12 kg. Mardiansyah menjelaskan selisih harga tersebut berkaitan dengan beban operasional distribusi.

“Karena operasional yang mengambil banyak itu lebih kurang, sementara untuk pengecer yang mengambil sedikit, operasionalnya lebih banyak jadi harganya berbeda sedikit,” kata Mardiansyah.

Sementara pengecer, Karsono, mengaku masih menjual stok kiriman bulan lalu dengan harga lama. Ia menjual ukuran 5,5 kg seharga Rp 110 ribu dan ukuran 12 kg senilai Rp 210 ribu. “Saya mengambil 10 sampai 15 tabung per bulannya,” ujarnya.

Baca juga: Angka PHK Tertinggi di kalsel, Disnakertrans Kotabaru Akui Beberapa Sektor Justru Kekurangan Pekerja

Makin mahalnya elpiji nonsubsidi membuat penjual jajanan wadai iwak di Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) makin mantap menggunakan gas melon. Ia beralasan,  selain kerepotan membawa tabung elpiji besar, penggunaan elpiji 3 kg sudah cukup untuk kebutuhan 1-2 minggu.

“Saya biasanya buka di Kampung Kuliner Kandangan. Setiap minggu hanya tiga hari. Jadi penggunaan elpiji 3 kg sudah cukup,” ungkapnya.

Hal serupa diutarakan Mado, pedagang gorengan di Kandangan. “Gas melon mudah dicari. Banyak di warung,” ujarnya.

Naiknya harga elpiji, plastik dan bahan bakar minyak secara bertubi-tubi, menurut Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Banjarmasin Erni Rianti, bakal berpengaruh terhadap usaha mereka. Apalagi bagi mereka yang terikat kontrak. “Untuk harga jual produk, kami tidak bisa menaikan begitu saja sebab sudah terikat kontrak,” tegasnya.

Sedang Ketua PPJI Kalsel H Aftahudin menyatakan akan mengadakan rapat untuk membahas persoalan ini. “Kami berusaha semaksimal mungkin memperpendek mata rantai pembelian bahan baku, supaya keuntungan UMKM tidak banyak diambil orang lain,” jelasnya.

Naik tajamnya harga BBM nonsubsidi membuat pengendara mulai mulai mengubah pola konsumsi.

Pantauan di sejumlah SPBU di Banjarmasin, antrean kendaraan masih terlihat normal. Namun, terjadi pergeseran jenis BBM yang dibeli masyarakat.

Seorang pengendara mobil, Andi (34), mengaku kini tidak lagi membeli Pertamax Turbo.

“Sekarang sudah nggak kuat. Selisihnya jauh banget, jadi turun ke Pertamax,” ujarnya saat ditemui di SPBU Sabilal Muhtadin, Senin.

Hal serupa juga disampaikan Rahmat (41), sopir travel antarkota. Ia mengaku sebelumnya menggunakan Dexlite, namun kini beralih ke Biosolar.

“Kalau tetap pakai Dexlite, biaya jalan jadi berat. Sekarang mau nggak mau pakai solar subsidi, selama masih bisa,” katanya.

Peralihan ini secara tidak langsung mulai meningkatkan tekanan pada konsumsi BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar. Beberapa pengendara bahkan mengaku harus menyesuaikan waktu pengisian agar tidak antre terlalu lama.

Isan, staf SPBU Adhyaksa, mengatakan penggunaan barcode cukup membantu membatasi pembelian berlebih.

“Masih pakai barcode untuk kendaraan dan mobil. Jadi nggak semua bebas isi, ada batasannya,” ujarnya.

BBM nonsubsidi Pertamax Turbo sekarang Rp 20.250 per liter. Sebelumnya Rp 13.650 per liter atau naik Rp 6.600. Dexlite Rp 24.650 per liter dari sebelumnya Rp 14.800 atau naik Rp 9.850. Pertamina Dex Rp 24.950 per liter dari semula Rp 15.100 atau naik Rp 9.850. Sementara Pertamax masih Rp 12.900 dan Biosolar Rp 6.800 per liter. Demikian pula BBM bersubsidi yakni Pertalite masih Rp 10 ribu per liter.

Kenaikan harga solar nonsubsidi mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku rental mobil di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Para pemilik usaha mengeluhkan penurunan minat sewa, khususnya untuk kendaraan berbahan bakar solar dengan konsumsi tinggi.

Yusran, pemilik rental mobil di Sungaisipai, Banjar, mengaku cukup berat menghadapi kondisi tersebut. Ia menyebut kenaikan harga BBM jenis Dexlite maupun solar membuat operasional semakin mahal, terutama untuk unit kendaraan tertentu.

“Kalau dilihat, yang naik ini lebih banyak Dexlite atau solar. Kami yang paling terasa itu untuk rental Pajero, karena memang konsumsi BBM-nya besar,” ujarnya, Selasa.

Menurut Yusran, sebelumnya mobil jenis tersebut masih cukup diminati pelanggan. Namun sejak harga BBM kembali naik, permintaan mulai menurun.

“Biasanya ada saja yang sewa Pajero, tapi sekarang mulai sepi. Orang jadi pikir dua kali karena biaya BBM juga ikut tinggi,” tambahnya.  (rin/ady/dea/sul/lis)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.