TRIBUNSTYLE.COM - Kabar viral mengenai mundurnya I (14), siswa kelas 8 SMPN 1 Tanjungsari, Sumedang, dari bangku sekolah sempat memicu spekulasi miring mengenai eksploitasi anak. Namun, di balik video perpisahan yang menyayat hati itu, tersimpan sebuah kedewasaan dini yang lahir dari rasa cinta seorang anak kepada ayahnya.
Saat ditemui di kediamannya pada Senin (20/4/2026), remaja ini menepis semua anggapan negatif. Baginya, keputusannya meninggalkan sekolah bukanlah karena tekanan, melainkan pilihan sadar melihat sang ayah, Imam Agus Faisal (34), berjuang sendirian sebagai tulang punggung keluarga.
"Ini niat saya sendiri, ingin membantu ayah jualan. Bahkan, ayah sempat melarang saya dan meminta tetap fokus sekolah," ungkap I dengan nada tenang namun tegas.
Sejak pukul 09.00 pagi hingga larut malam pukul 22.00 WIB, I kini menyibukkan diri menjajakan fried chicken dan tahu crispy di kawasan Alun-alun Tanjungsari. Sebagai anak sulung, hatinya tak tega melihat ayahnya terseok-seok menanggung beban hidup sendirian.
Baca juga: Diduga Culik Siswi SD, Guru Honorer di Sumedang Ngaku Kenal Korban Lewat Aplikasi Hijau
Kondisi ekonomi keluarga ini mulai goyah pasca-perceraian. Imam, sang ayah, menceritakan kenyataan pahit yang baru ia sadari setelah berpisah: tumpukan utang dalam jumlah besar yang ditinggalkan mantan istrinya.
"Mantan istri saya sebelumnya punya utang yang cukup besar, yang tanpa sepengetahuan saya. Jadi, utangnya itu numpuk ke mana-mana, hingga memengaruhi kondisi keuangan keluarga,” tutur Imam dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan kelelahan.
Meski terjepit keadaan, Imam menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat menjadikan anaknya sebagai mesin pencari uang. "Saya tidak pernah meminta I berhenti sekolah. Tapi, dia sendiri yang ingin membantu karena kondisi keluarga kami," tambahnya.
Kisah I yang viral berkat solidaritas teman-teman sekelasnya akhirnya sampai ke telinga pemerintah. Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila, segera mengambil langkah nyata dengan mengunjungi kediaman I.
Fajar menegaskan bahwa isu eksploitasi dalam kasus ini sama sekali tidak terbukti. "Pemerintah daerah hadir untuk membantu keluarga Pak Imam. Soal isu adanya eksploitasi itu sama sekali tidak benar," tegasnya.
Sebagai solusi, I dipastikan akan kembali ke sekolah mulai esok hari karena wajib belajar 12 tahun adalah harga mati. Selain itu, keluarga Imam akan dimasukkan ke dalam skema Program Keluarga Harapan (PKH) untuk meringankan beban ekonomi mereka.
Baca juga: Dedi Mulyadi Tegur Pengatur Jalan di Lokasi Longsor Sumedang, Janjikan Rp10 Juta
Kepulangan I ke sekolah tentu disambut hangat oleh teman-temannya di kelas VIII-I yang sebelumnya sempat "mengetuk" pintu hati para pejabat melalui media sosial. Pesan-pesan haru masih terus mengalir untuk I, menguatkan mental remaja yang rela berkorban ini.
"Kita percaya di balik kesulitan ini, kamu sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Jangan pernah merasa rendah diri ya, karena kamu sudah melakukan yang terbaik," tulis salah satu rekannya dalam kolom komentar video viral tersebut.
Kini, I tidak lagi harus memilih antara bakti dan edukasi. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, ia bisa kembali mengejar mimpi tanpa harus merasa bersalah melihat ayahnya berjuang sendirian.