TRIBUNGORONTALO.COM – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memicu pengendara menurunkan kadar oktan bahan bakar. Hal ini demi tetap berhemat di tengah lonjakan harga BBM.
Namun, siasat ini ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan mesin kendaraan, ibarat "menabung bom waktu" bagi mesin.
Fenomena "downgrade" BBM ini mencuat setelah PT Pertamina melakukan penyesuaian harga per 18 April 2026, di mana harga Pertamax Turbo meroket ke angka Rp19.400 per liter, sementara lini Dex Series juga mengalami kenaikan signifikan hingga menyentuh angka Rp23.000-an.
Selisih harga yang kian lebar dengan BBM subsidi dan Pertamax (RON 92) memicu konsumen untuk beralih ke oktan yang lebih rendah atau melakukan praktik pencampuran (mixing).
Yannes menjelaskan bahwa mesin kendaraan modern telah dirancang dengan spesifikasi kompresi tertentu yang menuntut bahan bakar presisi. Ketika dipaksa menelan oktan rendah, efek sampingnya akan langsung terasa pada kesehatan mesin.
Mesin Panas Berlebih (Overheat): Pembakaran yang tidak sempurna menyebabkan suhu ruang bakar meningkat di luar batas normal.
Tenaga Drop: Efisiensi termal yang hilang membuat tarikan kendaraan terasa berat dan loyo.
Konsumsi BBM Boros: Ironisnya, alih-alih hemat, mesin justru butuh asupan lebih banyak untuk menghasilkan tenaga yang sama, sehingga angka konsumsi liter per kilometer semakin membengkak.
Bahaya tidak berhenti pada penurunan tenaga. Yannes menyoroti risiko yang mengintai saat kendaraan mencapai jarak tempuh 10.000 hingga 20.000 kilometer dengan BBM yang tidak sesuai spesifikasi.
"Akan terjadi penumpukan deposit karbon yang masif di ruang bakar dan injektor. Efeknya, mesin akan mengalami idle kasar (bergetar), akselerasi tersendat, dan emisi gas buang yang buruk," jelas Yannes.
Bagi pemilik mobil keluaran terbaru dengan teknologi mesin turbo atau rasio kompresi tinggi, risiko kerusakan menjadi berkali-kali lipat. Komponen internal seperti ring piston sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Ketidakstabilan pembakaran dapat mempercepat keausan komponen ini, yang pada akhirnya memerlukan turun mesin (overhaul).
Baca juga: Soal Pembatasan BBM Subsidi, Begini Respons Pedagang dan Sopir Gorontalo
Selain menurunkan oktan secara total, praktik mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa juga sangat tidak disarankan. Menurut Yannes, setiap jenis BBM memiliki formulasi yang berbeda secara fundamental.
"Tidak disarankan mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa, sebab kedua jenis BBM ini memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran berbeda," jelasnya.
Campuran tersebut dapat menghasilkan nilai oktan yang tidak stabil. Dampaknya, pembakaran menjadi tidak merata dan memicu knocking, yaitu suara ketukan pada mesin yang terjadi secara tidak teratur.
Lebih lanjut, campuran BBM juga berisiko menimbulkan endapan yang dapat menyumbat filter dan merusak sistem injeksi bertekanan tinggi, seperti Common Rail atau Gasoline Direct Injection (GDI).
Kerusakan pada sistem ini tidak murah. Biaya perbaikan bisa mencapai belasan juta rupiah, jauh lebih besar dibandingkan potensi penghematan yang diharapkan dari penggunaan BBM murah.
Yannes menegaskan, mencampur atau menurunkan kualitas BBM bukanlah strategi penghematan yang efektif.
"Lebih bijak pilih satu jenis sesuai spesifikasi yang ditentukan pabrikan," ucapnya.
Sementara itu, harga BBM lain seperti Pertamax (RON 92) masih dipertahankan di Rp12.300 per liter, Pertamax Green Rp12.900 per liter, serta BBM subsidi seperti Pertalite Rp10.000 dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Kondisi ini membuat selisih harga antar jenis BBM semakin lebar, yang pada akhirnya mendorong sebagian masyarakat mencari alternatif penghematan.
Namun, di tengah tekanan biaya, para ahli mengingatkan keputusan penggunaan BBM sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga dampaknya terhadap kendaraan dalam jangka panjang. (*)