WARTAKOTALIVE.COM, CIKINI - Kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) kini memiliki ikon baru yang memadukan kenyamanan akomodasi modern dengan kedalaman sejarah seni Indonesia.
Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated di TIM, Cikini, Jakarta, resmi membuka operasionalnya pada Senin (20/4/2026).
Pembukaan ini juga dirangkaikan dengan pameran arsip bertajuk 'Raden Saleh & Cikini: Genealogi Ruang, Seni, dan Ingatan' yang mengangkat hubungan sejarah, seni, dan perkembangan kawasan Cikini sebagai salah satu episentrum kebudayaan di Jakarta.
Direktur Utama PT Jakarta Propertindo, Iwan Takwin mengatakan peresmian ini bukan sekadar menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga upaya menghidupkan kembali narasi besar kawasan Cikini yang memiliki akar sejarah kuat.
“Kita berkumpul hari ini bukan hanya sekadar meresmikan operasional hotel, tetapi juga menguatkan konsep kawasan Taman Ismail Marzuki sebagai pusat seni dan budaya,” ujar Iwan dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, penamaan Raden Saleh pada paviliun tersebut memiliki makna penting. Sosok Raden Saleh dinilai tidak hanya sebagai pelukis besar, tetapi juga figur visioner yang membawa seni Indonesia dikenal hingga ke tingkat global.
“Dengan kita menetapkan nama Raden Saleh ini, menjadi salah satu komitmen untuk menguatkan citra dan marwah Taman Ismail Marzuki sebagai kawasan seni budaya,” katanya.
Menurut Iwan, kehadiran Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated dirancang berbeda dari konsep hotel pada umumnya.
Fasilitas ini mengusung konsep hospitality yang terintegrasi dengan aktivitas seni, sehingga menghadirkan atmosfer budaya yang kuat, tidak hanya di ruang publik tetapi juga hingga ke area kamar.
“Hotel ini kami harapkan menjadi semacam wisma seni, yang bukan hanya menyediakan penginapan, tetapi juga menghadirkan ruang bagi karya-karya seniman untuk ditampilkan dan berkembang,” ujarnya.
Ia menambahkan, kawasan ini ke depan akan terus diaktifkan dengan berbagai kegiatan seni dan budaya, sehingga pengunjung maupun tamu hotel dapat merasakan langsung dinamika kreativitas yang hidup di TIM.
“Kami berharap fasilitas ini tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga mendukung aktivitas seni, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, sehingga pelaku seni dan masyarakat dapat menikmati ekosistem yang terintegrasi,” ucap Iwan.
Ruang temu gagasan
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Bambang Prihadi menyambut hangat pengoperasian fasilitas ini.
Ia menyebut kehadiran penginapan di dalam TIM sudah sangat mendesak setelah absen selama 30 tahun sejak hilangnya wisma seni.
"Paviliun Raden Saleh bukan sekadar tempat menginap, melainkan ruang pertemuan gagasan kebudayaan. Nama ini diusulkan DKJ sebagai pengingat kontribusi Raden Saleh pada ilmu pengetahuan dan seni yang semangatnya masih terjaga hingga kini di TIM dan Planetarium," kata Bambang.
Senada dengan hal tersebut, Chief Operating Officer Artotel Group, Eduard Rudolf Pangkerego menyatakan komitmennya untuk menjadikan hotel ini sebagai creative hub.
“Kami ingin menghadirkan Cultural Symphony, Artistic Hospitality. Pameran arsip ini adalah langkah awal untuk menghadirkan program budaya yang relevan dan berkelanjutan bagi masyarakat luas,” ungkap Eduard.
Bagi masyarakat dan pecinta seni yang ingin merasakan pengalaman menginap di tengah atmosfer budaya, Paviliun Raden Saleh memberikan penawaran harga spesial pembukaan mulai dari Rp 630.000 per malam.
Pameran dibuka untuk umum
Pameran arsip "Raden Saleh & Cikini" sendiri akan mulai dibuka untuk umum dan tamu hotel pada 21 April 2026 di Selasar Nashar, lantai 8, Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated di TIM, Cikini, Jakarta.
Berdasarkan pantauan Wartakotalive.com diokasi, suasana pameran arsip "Raden Saleh & Cikini dihadirkan terasa seperti galeri seni yang edukatif. Di sepanjang dinding paviliun, pengunjung disuguhi deretan arsip visual yang memukau. Terdapat foto-foto pertunjukan kesenian dan kegiatan pemutaran film di era 1920-an yang menggambarkan geliat kreativitas Cikini di masa lampau.
Salah satu daya tarik utama adalah arsip video mengenai kebun binatang di Cikini tahun 1864. Sejarah mencatat, Raden Saleh menghibahkan sekitar 10 hektar tanah miliknya untuk menjadi Planten en Dierentuin (Tanaman dan Kebun Binatang).
Sebagai bentuk penghormatan, pihak hotel mendekorasi dinding paviliun dengan ilustrasi binatang-binatang yang pernah mendiami kebun binatang tersebut.
Tak hanya visual, pengunjung juga dapat mendengarkan rekaman audio bersejarah berisi pidato dan diskusi seni yang pernah terjadi di kawasan Cikini, memberikan pengalaman menarik terkait perkembangan seni dikawasan Cikini Jakarta.