Sidang terbuka wisuda kedua ITB Tahun Akademik 2025/2026 dipenuhi momen haru. Pasalnya, anak sopir angkot hingga kuli bangunan berhasil meraih gelar Sarjana.
Wisuda yang berlangsung di Sasana Budaya Ganesa pada 17-18 April 2026 menjadi saksi perjuangan Albert Lukas Pithel Hasugian dari Program Studi Kewirausahaan, Sekolah Bisnis dan Manajemen.
Albert, panggilan akrabnya, menceritakan perjuangannya sebagai anak seorang sopir angkot dari Medan. Dulu ia merasa berkuliah di ITB adalah mimpi yang sangat jauh.
Namun, orang tua Albert tetap yakin jika ia harus mengenyam pendidikan tinggi. Dengan filosofi "Anakkon Hi Do Hamoraon di Au" yang artinya bahwa anak merupakan kekayaan atau harta yang berharga, putra Medan itu melanjutkan kuliahnya.
Albert mengenyam pendidikan tinggi dengan bantuan beasiswa KIP Kuliah. Dibantu dengan dukungan dari dosen, mentor, dan teman-temannya, akhirnya Albert berhasil menamatkan studi.
Albert Lukas Pithel Hasugian Foto: Laman Resmi ITB
|
"Perjalanan di ITB mengajarkan bahwa seseorang tidak harus memiliki segalanya untuk memulai, cukup memiliki alasan untuk tidak berhenti," ujar Albert dalam laman resmi ITB dikutip Minggu (19/4/2026).
Wisudawan juga mendengar cerita dari Zulfi Akbar Harahap dari Program Studi Sarjana Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan. Zulfi, menceritakan jika ia tumbuh dalam keterbatasan.
Zulfi Akbar Harahap Foto: Laman Resmi ITB
|
Ayahnya adalah seorang kuli bangunan, sementara ibunya ibu rumah tangga. Kendati demikian, ayah Zulfi berharap agar anak-anaknya dapat menjadi sarjana.
Zulfi membawa pesan itu sebagai bahan bakarnya berkuliah di ITB. Ia berhasil kuliah melalui beasiswa dari CT Arsa Foundation.
"Melalui beasiswa dari CT Arsa Foundation, kerja keras, dan kegigihan, saya menempuh studi sambil mengajar untuk menambah biaya hidup di Bandung," jelasnya.
Di tengah tantangan itu, Zulfi menjalani perkuliahan dengan gigih, disiplin, dan tahan banting. Zulfi berhasil lulus dan telah diterima di perusahaan multinasional.







