Laporan Wartawan Wartakotalive.com, M Rifqi Ibnumasy
WARTAKOTALIVE.COM, BEJI - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Prof Rifelly Dewi Astuti turut mengomentari kenaikan harga plastik.
Menurut Rifelly, kenaikan harga plastik disebabkan oleh kelangkaan bahan baku pembuatannya.
Pasalnya, pembuatan plastik menggunakan minyak mentah atau bahan bakar fosil sebagai komponen utamanya.
Baca juga: Harga Plastik Naik Berdampak bagi Konsumen, Aditya: Beli Lauk di Warteg Enggak Boleh Lagi Rp3 Ribu
Namun, bahan baku minyak bumi tersebut menjadi langka imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang berujung penutupan Selat Hormuz.
“Harga minyak per barelnya sekarang naik luar biasa karena penutupan Selat Hormuz,” kata Rifelly kepada Warta Kota, Sabtu (11/4/2026).
Rifelly menilai, kenaikan harga minyak mentah secara otomatis menaikkan biaya produksi plastik, yang kemudian berdampak pada harga jual plastik di tingkat konsumen.
Dampak Kenaikan Harga Plastik
Bagi banyak pelaku ekonomi di Indonesia, plastik merupakan kebutuhan vital untuk kemasan yang masuk dalam kategori biaya produksi langsung.
Alhasil, meningkatnya biaya kemasan memaksa produsen menaikkan harga jual produk akhir kepada masyarakat.
Dalam jangka panjang, Rifelly menilai, kenaikan harga plastik berdampak pada keberlangsungan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).
“Meningkatkan biaya produksi akhirnya adalah kalau produsen mau enggak mau dia akan meningkatkan harga jual produknya,” ungkapnya.
“Jika harga terus naik sementara daya beli masyarakat menurun, produk UMKM tidak akan terbeli, yang berisiko menyebabkan banyak unit usaha gulung tikar,” sambungnya.
Solusi dan Alternatif Kemasan
Dalam pandangan Rifelly, ada solusi dan alternatif untuk mengatasi kenaikan harga plastik bagi masyarakat.
Masyarakat dapat mendaur ulang plastik yang telah dipakai, mengolah kembali sampah plastik menjadi biji plastik untuk diproduksi ulang.
“Namun, tantangannya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga dapat menggunakan kemasan alami seperti daun pisang untuk membungkus makanan.
Konsumen juga dapat membawa wadah sendiri saat berbelanja atau membeli makanan siap saji guna mengurangi plastik sekali pakai.
Potensi Bioplastik
Menurut Rifelly, sudah banyak penelitian di universitas mengenai bioplastik berbahan dasar rumput laut atau pati singkong.
Misalnya, Politeknik Media Kreatif Jakarta telah mengembangkan bioplastik dari singkong yang sudah diuji coba pada kemasan UMKM.
“Nah tetapi permasalahannya karena itu belum bisa diproduksi secara massal jadi jatuhnya masih apa tinggi produksinya,” jelasnya.
Untuk itu, diperlukan peran pemerintah dan industri untuk melakukan pabrikasi secara masif agar harga lebih terjangkau. (m38)