SRIPOKU.COM - Joko Widodo (Jokowi) angkat bicara menanggapi perkataan mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK) soal perannya dalam perjalanan politik dirinya.
JK pun blak-blakan mengungkap Jokowi kurang berpengalaman.
Kini lih-alih memberikan bantahan panjang, Jokowi memilih merespons dengan nada sederhana.
Saat ditemui di kediamannya di Solo, Jokowi menegaskan bahwa dirinya tidak berasal dari kalangan elit.
“Saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung,” kata Jokowi singkat dikutip TribunTrends dari Instagram Solo Kini, Senin, 20 April 2026.
Baca juga: Patahkan Omongan Jusuf Kalla, Relawan Projo Bereaksi, Tegaskan Jokowi Jadi Presiden Bukan karena JK
Pernyataan tersebut seolah menjadi penegasan gaya khasnya yang selama ini dikenal sederhana, sekaligus menghindari polemik yang berkembang.
Sebelumnya, Jusuf Kalla mengungkap bahwa dirinya sempat memberikan pandangan kepada Megawati Soekarnoputri terkait pencalonan Jokowi dalam Pemilihan Presiden 2014.
Kala itu, Kalla menilai Jokowi masih minim pengalaman untuk memimpin negara.
“Belum cukup berpengalaman, nanti rusak negeri ini,” ujar Kalla dalam konferensi pers di Jakarta Selatan.
JK juga menyinggung perannya dalam perjalanan politik Joko Widodo.
Ia mengklaim memiliki andil besar dalam membawa Jokowi dari Solo ke panggung politik nasional di Jakarta.
“Apa kurangnya saya coba? Saya yang bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu, termul-termul itu. Jokowi jadi presiden karena saya,” kata JK.
Ia kembali menegaskan bahwa dirinya adalah sosok yang mendorong Jokowi untuk maju dari tingkat daerah hingga menjadi pemimpin nasional.
“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur. Saya yang bawa,” ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Jokowi tidak banyak memberikan komentar tambahan.
Ia menegaskan bahwa penilaian terhadap dirinya sebagai pemimpin bukanlah sesuatu yang bisa ia tentukan sendiri.
“Yang menilai bukan saya,” kata Jokowi.
Sikap ini menunjukkan kecenderungan Jokowi untuk tidak terlibat dalam perdebatan terbuka, sekaligus menyerahkan sepenuhnya penilaian kepada publik atas perjalanan kepemimpinannya selama menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Pasca Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) menyarankan tunjukkan ijazah aslinya, Joko Widodo (Jokowi) angkat bicara.
Menurut JK, agar polemik tersebut segera berakhir salah satunya dengan menunjukkan ijazah asli.
Pernyataan itu disampaikan JK usai melaporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik dan fitnah.
Jokowi pun menolak keras permintaan JK, Jumat (10/4/2026).
JK menegaskan dirinya tidak terima dituding sebagai sosok di balik polemik ijazah Jokowi.
Ia menyebut tudingan yang beredar luas di media sosial itu tidak hanya tidak berdasar, tetapi juga merendahkan martabatnya.
Dalam video yang beredar, JK disebut memberikan dana Rp5 miliar kepada Roy Suryo untuk mengusut ijazah Jokowi.
“Bagi saya ini penghinaan. Tidak etis. Pak Jokowi presidennya, saya wakilnya. Kita bersama lima tahun di pemerintahan,” kata JK.
Menurutnya, tuduhan tersebut tidak masuk akal.
“Masak saya bayar orang Rp5 miliar untuk menyelidiki beliau. Itu tidak pantas dan tidak mungkin saya lakukan,” tegasnya.
Ia menilai tudingan tersebut telah mencoreng nama baik dan kehormatannya sebagai mantan wakil presiden.
“Ini merugikan saya, merusak martabat saya,” lanjut JK.
Atas dasar itu, JK memilih menempuh jalur hukum dengan melaporkan Rismon ke Bareskrim Polri.
Langkah tersebut diambil karena isu yang beredar dinilai sudah meluas dan merugikan secara personal.
“Karena ini sudah tersebar luas, saya laporkan ke polisi untuk menjaga nama baik saya,” ujarnya.
Kasus ini menambah panjang polemik hukum yang mengiringi isu ijazah Jokowi.
Di sisi lain, Roy Suryo menyatakan dukungannya terhadap langkah JK.
Ia bahkan kembali menegaskan keyakinannya terkait keaslian ijazah Jokowi.
“Kami mendukung Pak JK agar ijazah itu ditunjukkan. Dari yang kami lihat, 99,9 persen palsu,” ujar Roy.
Roy mengaku pernah melihat langsung dokumen tersebut pada Desember lalu.
Ia mengklaim menemukan sejumlah kejanggalan, mulai dari foto, emboss, hingga watermark.
“Emboss-nya tidak bisa diraba, hanya seperti printing. Tidak ada watermark. Itu jelas,” katanya.
Ia juga menyatakan siap terlibat dalam proses hukum sebagai saksi maupun ahli.
“Saya siap membantu, baik sebagai saksi atau ahli dalam perkara ini,” tegasnya.
Menanggapi desakan tersebut, Joko Widodo menegaskan dirinya tidak keberatan menunjukkan ijazah asli.
Namun, ia menekankan hal itu hanya akan dilakukan dalam forum hukum resmi, bukan di ruang publik.
“Kalau diminta hakim, saya siap tunjukkan semua. Dari SD, SMP, SMA sampai S1,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Jokowi menegaskan bahwa pengadilan adalah tempat yang tepat untuk membuktikan kebenaran.
Ia menilai polemik yang berkembang di ruang publik cenderung sarat spekulasi.
“Forumnya harus jelas, yaitu di pengadilan,” tegasnya.
Jokowi juga mengimbau semua pihak untuk tidak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya persoalan ini ke jalur hukum.
Ia mengingatkan bahwa dalam prinsip hukum, pihak yang menuduhlah yang harus membuktikan.
“Yang menuduh yang harus membuktikan. Bukan saya yang diminta menunjukkan,” ujarnya.
Menurutnya, jika logika dibalik, maka siapa pun bisa menuduh tanpa dasar dan meminta pihak yang dituduh membuktikan sebaliknya.
“Itu bisa jadi kebalik-balik,” katanya.
Diketahui, Rismon Sianipar dan Roy Suryo sebelumnya telah lebih dulu dilaporkan oleh Jokowi di Polda Metro Jaya.
Keduanya bahkan telah berstatus tersangka dalam perkara tersebut.
Dengan adanya laporan balik dari JK, polemik ini diperkirakan akan semakin panjang dan kompleks.
Saling lapor antar pihak menunjukkan bahwa kasus ini tidak lagi sekadar isu publik, tetapi telah masuk ke ranah hukum yang serius.
Di tengah polemik tersebut, publik kini menanti bagaimana proses hukum akan berjalan dan apakah polemik ijazah ini benar-benar dapat menemukan titik terang.