TRIBUNNEWSMAKER.COM - Sosok Hendrikus Rahayaan yang kini menjadi sorotan publik ternyata memiliki latar belakang sebagai atlet profesional di dunia Mixed Martial Arts (MMA) yang cukup berprestasi.
Pria berusia 28 tahun itu diketahui telah malang melintang di berbagai kompetisi pertarungan resmi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Tak hanya sekadar berpartisipasi, Hendrikus Rahayaan juga kerap menunjukkan performa gemilang dengan meraih sejumlah gelar juara dalam ajang Muay Thai maupun kickboxing.
Rekam jejak tersebut semakin diperkuat oleh berbagai unggahan yang ia bagikan melalui akun media sosial pribadinya.
Aktivitasnya di dunia digital pun tergolong aktif, mulai dari Instagram, Threads, hingga TikTok, yang sering ia gunakan untuk membagikan momen latihan maupun persiapan bertanding.
Menariknya, sebelum namanya terseret dalam kasus penikaman terhadap Nus Kei, ia sempat memiliki agenda penting di dunia olahraga.
Ia dijadwalkan mengikuti sebuah pertandingan internasional yang cukup bergengsi di Jepara, Jawa Tengah, pada Sabtu, 11 April 2026.
Ajang tersebut diketahui bertajuk "Sabuk Emas Kakorlantas Polri", yang mempertemukan sejumlah atlet bela diri dari berbagai negara.
Dalam poster yang ia unggah di Threads, Hendrikus Rahayaan bahkan telah dipasangkan dengan lawan tanding dari Timor Leste, yakni Jose Alvaro Da Costa Monteiro.
Antusiasmenya terhadap laga tersebut terlihat jelas dari unggahan singkat yang ia tuliskan.
"Let's go," tulis Hendrikus Rahayaan, dikutip Tribunnews dari akun Threads-nya, pada Selasa (21/4/2026).
Baca juga: Motif Penusukan Nus Kei, Simpan Dendam Lama, Korban Dituding Sebagai Otak Pembunuhan Saudara Pelaku
Unggahan itu seolah menggambarkan kesiapan dan semangatnya untuk menghadapi pertarungan besar yang sudah di depan mata.
Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah duel antara Hendrikus Rahayaan dan Jose Alvaro Da Costa Monteiro benar-benar terlaksana atau tidak.
Situasi yang berkembang setelah insiden penikaman tersebut membuat agenda pertandingan itu menjadi tanda tanya besar.
Kisah ini pun memperlihatkan kontras tajam antara perjalanan karier olahraga yang tengah menanjak dengan kasus hukum serius yang kini menjeratnya.
Karier cemerlang Hendrikus Rahayaan kini terancam sirna karena kasus yang menjeratnya.
Ia terancam hukuman mati, seumur hidup, atau 20 tahun penjara karena dijerat pasal pembunuhan berencana.
Kasus Nus Kei tewas ditusuk di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Minggu (19/4/2026), tengah menjadi sorotan masyarakat.
Dua orang sudah ditahan, yakni Hendrikus Rahayaan dan Finansius Ulukyanan.
Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi mengatakan Nus Kei ditusuk sesaat mendarat dari Jakarta.
Baca juga: Sosok Nus Kei, Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas Ditikam OTK, Pernah Berkonflik dengan John Kei
Ketika sedang berbincang dengan keluarga di pintu keluar bandara, tiba-tiba datang seseorang mengenakan jaket merah dan masker.
"Tiba-tiba korban ditikam orang tak dikenal menggunakan sebilah pisau," kata Rositah dalam keterangannya, Minggu.
Kakak Nus Kei sempat melakukan perlawanan. Dia membanting pelaku, tetapi dibalas hingga akhirnya melarikan diri.
Rositah berujar bahwa Nus Kei sempat dilarikan ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun, tetapi akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Dua jam berselang polisi langsung menangkap Hendrikus Rahayaan dan Finansius Ulukyanan.
"Petugas dengan dipimpin langsung Kapolres Maluku Tenggara AKBP Rian Suhendi menangkap dua terduga pelaku dalam waktu sekitar dua jam setelah kejadian," ujar Rositah.
Hendrikus adalah atlet MMA, sedangkan Finansius Ulukyanan adalah warga sipil biasa.
Menurut Rosita motif kedua orang tersebut menusuk Nus Kei karena dendam.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan adalah balas dendam," ujarnya.
Hendrikus Rahayaan lahir di Watran, Kota Tual, 6 Desember 1997.
Ia dibesarkan di Desa Hollat, Kei Besar.
Hendrikus Rahayaan adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara.
Ia terkenal garang di atas ring dan banyak prestasi yang sudah diraihnya.
Hendrikus pernah menjuarai Kejuaraan Muaythai Open Se-Jawa kelas Senior Elite 63,5 kg pada April 2025 di Semarang.
Prestasi yang pernah diraih antara lain emas Wushu di Pekan Olahraga Provinsi Maluku, dua emas di ajang One Pride MMA, emas Pra-PON, hingga perunggu di PON.
Ia juga bergabung dengan sasana 3H Gym di Maluku.
Namanya tercatat di PDDikti sebagai mahasiswa S1 Hukum di Universitas 17 Agustus 1945 Semarang.
Dijuluki Kei Bad Boy, Hendrikus Rahayaan merupakan fighter aktif di Paguyuban Rambo Muaythai di Semarang.
Di Instagram, ia kerap membagikan aktivitasnya sebagai atlet MMA.
Hendrikus Rahayaan ternyata juga mengenal atlet MMA profesional, yakni Abdul Aziz Calim.
(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews.com/Rakli/Abdi Ryanda Shakti)