Stop Anggap Lucu, Psikiater Ingatkan Candaan Seksual di Medsos Bisa Bikin Mental Korban Hancur
Abd Rahman April 21, 2026 03:07 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM- Pelecehan seksual diruang digital hari-hari ini sudah kerap terjadi dan menjadi ancaman bagi kaum perempuan.

Praktek ini banyak ditemukan di ruang media sosial seperti di kolom komenter akun medsos kita.

Praktik ini jamak ditemukan dalam bentuk komentar, lelucon, hingga percakapan yang merendahkan martabat individu. 

Baca juga: Ramalan Zodiak Pisces Besok 22 April, Jangan Ragu Buka Diri, Ada Sosok Menarik Menanti

Baca juga: Pilu ! Anak di Mamuju Disetubuhi Ayah Tiri Selama 6 Tahun, Terbongkar saat Korban Hamil

Kejadian ini membuat risih dan merupakan tindakan asusila melalui digital kita.

Psikiater dr. Lahargo Kembaren menekankan bahwa penanganan kondisi ini tidak cukup hanya mengandalkan sanksi hukum,melainkan harus menyentuh akar permasalahan, edukasi dan empati.

Menurut Lahargo, kekerasan seksual dalam bentuk verbal atau digital memiliki daya rusak yang setara dengan tindakan fisik. 

"Kata-kata dan isi percakapan dapat melukai sama dalamnya dengan tindakan fisik, terutama ketika menyerang harga diri dan rasa aman korban," ujarnya melansir Tribunnews.com, Selasa (21/4/2026)

Membangun Etika Digital

Pencegahan yang efektif harus dimulai dari penanaman etika digital yang komprehensif.

Hal ini mencakup pemahaman mengenai persetujuan (consent), batasan dalam bercanda, serta penghormatan terhadap martabat orang lain.

Lahargo mengingatkan bahwa persepsi subjektif dalam berkomunikasi sering kali menjadi jebakan. 

"Hal yang dianggap lucu oleh satu kelompok bisa saja menjadi pengalaman yang menyakitkan atau trauma bagi orang lain. Karena itu, pencegahan terbaik adalah menumbuhkan empati," kata Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor tersebut.

Normalisasi Bahasa dan Peran Lingkungan

Salah satu tantangan terbesar adalah normalisasi bahasa yang melecehkan. 

Komentar terhadap bentuk tubuh atau lelucon bernuansa seksual sering kali dianggap lumrah jika terus diulang dalam interaksi sosial. 

Padahal, saat martabat seseorang direndahkan, kekerasan telah terjadi meski tanpa kontak fisik.

Dampaknya pun tidak sederhana. Pelecehan digital mengganggu rasa aman, menghancurkan harga diri, hingga memengaruhi cara kerja otak korban dalam memandang dunianya.

Untuk memutus rantai ini, lingkungan sosial dituntut untuk tidak bersikap permisif. Lahargo menyarankan beberapa langkah nyata bagi masyarakat saat menemui praktik pelecehan di ruang digital:

Jangan Ikut Tertawa: Tidak memberikan apresiasi terhadap candaan yang merendahkan.

Menegur Pelaku: Menyampaikan keberatan dengan cara yang tepat untuk menghentikan percakapan tidak pantas.

Mendampingi Korban: Memberikan dukungan moral serta membantu korban jika ingin menempuh jalur pelaporan.

Kesadaran kolektif dapat dibangun melalui pertanyaan reflektif yang sederhana namun mendalam: "Bagaimana jika hal ini terjadi pada orang yang kita sayangi?". 

Perubahan perilaku di ruang digital tidak akan terjadi tanpa adanya transformasi cara berpikir dan kemampuan untuk berempati terhadap perspektif korban.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.