KWI Apresiasi Misi PWKI Temui Paus Leo XIV di Vatikan, Tugas Selesai meski Berisiko
Robertus Didik Budiawan Cahyono April 21, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) melaporkan kepada Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) atas misi ke Vatikan. Misi tersebut membawa tiga agenda utama.

Yaitu, bertemu dengan Paus Leo XIV, penandatanganan MOU penggunaan resmi bahasa Indonesia oleh Vatikan dan penyerahan buku 75 Tahun Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci. 

Atas laporan itu, Ketua Presidium KWI, Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC mengapresiasi langkah nyata PWKI yang melaksanakan misi pada pekan akhir bulan Maret 2026. 

Apresiasi itu disampaikan Mgr Antonius  saat menerima delegasi PWKI di Kantor KWI, Menteng Jakarta Pusat, Senin (20/04/2026).  Pada kesempatan itu, Ketua KWI didampingi Sekretaris Eksekutif, Rm Jatmiko dan tim KWI.

Sementara delegasi  PWKI dipimpin AM Putut Prabantoro (Founder) dan  Asni Ovier Dengen Paluin (Ketua), Lucius Gora Kunjana dan, Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris), Bonfilio Mahendra Wahana Putra (Bidang Hubungan Antar Lembaga) serta, Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Bidang Hubungan Luar Negeri).

Baca juga: Awal Mula Indonesia Jadi Bahasa Resmi di Vatikan, Usulan PWKI

“PWKI melaporkan kepada KWI atas misi ke Vatikan yang diawali pada 25 Maret 2026 dengan tiga agenda utama. Kami bersyukur karena tugas tersebut sudah selesai dilaksanakan. Tugas tetap dilaksanakan meski perang masih terjadi. Perjalanan ini berisiko dengan kemungkinan sulit untuk kembali ke tanah air.  Ada risiko tetapi juga ada kebahagiaan selama kami melaksanakan tugas tersebut. Lebih bersyukur rombongan mendarat kembali di Indonesia dengan selamat,” ujar Putut.

Kehadiran delegasi PWKI  di Vatikan dalam rangka mendampingi  Ketua Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) KWI, Mgr Agustinus Tribudi Utomo dan Sekretaris Komisi, Rm Petrus Noegroho Agoeng Pr. Delegasi PWKI selain dirinya, menurut Ketua PWKI Asni Ovier,  terdiri dari Putut Prabantoro, Stanislaus Jumar Sudiyana, Bonfilio Mahendra dan Mayong Suryo Laksono yang merupakan penasihat organisasi.

Agenda pertama adalah, menghadiri penandatanganan MOU penggunaan resmi bahasa Indonesia oleh Vatikan. Penandatangan dilakukan Komisi Komsos KWI dan Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Vatikan pada Rabu (25/03/2026).

Pertama kali penggunaan resmi bahasa Indonesia diusulkan oleh PWKI pada Juni 2022. Proses dikawal dan berakhir pada penandatanganan Maret 2026.

Dalam kunjungan ke Vatikan itu, rombongan KWI dan PWKI juga beraudiensi dengan Paus Leo XIV. Audiensi ini dilakukan sebelum dilakukan penandatanganan MOU dilaksnakan. Ini merupakan agenda kedua.  

Sedang agenda ketiga adalah penyerahan buku 75 tahun Hubungan Diplomatik Antara Indonesia–Takhta Suci kepada Dubes RI Untuk Takhta Suci Trias Kuncahyono. Buku ini disusun Tim KBRI yang diterbitkan PWKI dan Palmerah Syndicate. 

Dalam kesempatan silaturahmi di Kantor KWI tersebut, kepada Mgr Antonius Bunjamin diserahkan oleh Bonfilio Mahendra, buku tersebut yang dikirim khusus oleh Dubes RI Trias Kuncahyono. Penyerahan itu sebagai bentuk kontribusi literasi dan dokumentasi sejarah hubungan kedua negara.

Mgr Antonius menyatakan kebanggaannya atas jerih payah PWKI.  Ia menyambut capaian tersebut dengan rasa syukur dan bangga, serta mengapresiasi konsistensi PWKI dalam mengawal proses panjang hingga membuahkan hasil nyata.  Terkait dengan itu, Mgr Antonius menegaskan komitmen KWI membahas secara teknis tindaklanjut MoU, terlebih soal akomodasi penerjemah. PWKI juga diminta bantuannya untuk teknis pelaksanaannya.

“Upaya-upaya baik yang dimulai sejak Juni 2022 akhirnya membuahkan hasil. Namun, ini tidak boleh berhenti pada seremonial. Perlu terus dikawal agar memberi manfaat luas bagi umat. Ya saya bangga sekaligus terharu atas perjuangan kawan-kawan PWKI yang akhirnya bisa audiensi dengan Paus Leo, ini berkah yang luar biasa atas penantian panjang," tegas Mgr. Antonius.

Kebenaran di Media Sosial

Pertemuan di KWI ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, namun juga ruang refleksi bersama tentang peran komunikasi terlebih kerja-kerja jurnalistik yang jujur, bijak, dan bermartabat di tengah dinamika zaman serba cepat dan digital.

Dalam dialog yang berlangsung terbuka dan penuh keakraban tersebut, PWKI juga menyinggung fenomena maraknya narasi negatif di platform media sosial terkait kehidupan menggereja yang kerap menyudutkan salah satu pihak.

Dampaknya, kolom komentar dibanjiri dengan pendapat yang beragam, ada yang mendukung dan juga membantah narasi yang diunggah. 

Menyikapi fenomena itu Mgr Antonius menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam yakni kebenaran harus selalu disampaikan dengan cara yang benar, baik, santun, dan kudus. Itu sebabnya,  komunikasi tidak cukup hanya berisi fakta. 

"Cara menyampaikan kebenaran menjadi sama pentingnya dengan isi itu sendiri. Kebenaran yang disampaikan tanpa kebijaksanaan dapat melukai, sementara kebaikan tanpa dasar kebenaran berpotensi menyesatkan," ujar Mgr Anton.

Pesan itu mengalir tenang, tetapi kuat: komunikasi yang baik harus berakar pada nilai nilai kejujuran, disampaikan dengan cara yang etis, dibalut kesantunan, dan diarahkan untuk membangun kehidupan bersama. Dalam konteks iman, komunikasi bahkan menjadi bagian dari panggilan untuk menghadirkan nilai-nilai kasih dan kedamaian.

Dengan begitu, Mgr Antonius berharap pesan yang disampaikan bisa sampai dan disimak oleh seluruh pihak dengan baik. (*/Tribunlampung.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.