TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Usai pandemi Covid-19, kini Bali kembali menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat usai terjadinya konflik antara Israel-Amerika dan Iran.
Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra mengungkapkan, tantangan berat ini tak hanya dirasakan oleh Bali saja.
"Kebetulan saat ini, kita sedang menghadapi tantangan ekonomi yang sangat berat. Dan bukan hanya kita yang sangat berat, tapi seluruh dunia menghadapi tantangan ekonomi yang sangat berat."
Baca juga: Ditengah Konflik Geopolitik Timur Tengah Okupansi di Kawasan The Nusa Dua Stabil
"Konflik yang terjadi di Timur Tengah yang eskalasinya tidak menentu, kadang mereda, kadang meluas, sehingga dampak ekonominya menjadi sangat luar biasa," jelasnya pada saat memberi sambutan di Balinomics Update Kebijakan Ekonomi Bali dan Dinamika Ekonomi Ditengah Gejolak Geopolitik, Selasa 21 April 2026.
Lebih lanjutnya ia mengatakan, kondisi ini diperparah sebab menurut catatan yang ada, 25 persen minyak dunia berasal dari daerah konflik.
Dengan demikian, maka konflik di Timur Tengah yang eskalasinya terus meluas, tadinya hanya melibatkan tiga negara, sekarang sudah melibatkan banyak negara, dan juga saling mendukung dari negara-negara yang lain.
Baca juga: IMBAS Konflik Timur Tengah, Harga Daging Sapi Naik 20 Persen, Eceran di Pasar Rp160.000 Per Kg
Maka konflik ini telah menimbulkan dampak ekonomi yang sangat luar biasa.
"Nilai tukar uang kita semakin mengalami goncangan, harga-harga bergerak naik, komoditas-komoditas yang terkait dengan energi menjadi semakin kesulitan dan karena itu harganya naik," imbuhnya.
Dan dampak dari itu semua merambat ke semua sektor ekonomi yang lainnya.
Oleh karena itu Kata Dewa Indra, tidak ada satu negara yang tidak terdampak oleh konflik di Timur Tengah ini baik terdampak secara politik maupun terdampak secara ekonomi.
Baca juga: Dampak Konflik Israel Amerika dan Iran, DPRD Bali Lakukan Penghematan Perjalanan Dinas Rp21 Miliar
"Terlebih di Bali, sudah menjadi pengetahuan bersama, bahwa Bali ekonominya sebagian besar ditopang oleh sektor pariwisata. Suka tidak suka, setuju tidak setuju tapi faktanya perekonomian Bali ini digerakkan oleh sektor pariwisata."
"Konflik yang terjadi di Timur Tengah tentu akan memiliki dampak terhadap kita, terhadap Indonesia, dan juga terhadap Bali khususnya," tambahnya.
"Oleh karena itu, karena perekonomian ini menyangkut sektor kehidupan yang sangat penting bagi kita semua, maka menjadi sangat penting bagi kita semua stakeholder di Bali, untuk mendiskusikan tentang perekonomian kita hari ini dan juga ke depan."
"Setelah mengetahui dampak dari konflik Timur Tengah terhadap perekonomian kita di Bali, maka sebaiknya dilakukan diskusi untuk menyasar peluang-peluang apa yang masih tersedia.
"Pasti akan ada peluang ketika satu aspek, satu sektor terganggu, pasti akan ada peluang di sektor yang lain. Ini tergantung kemampuan kita untuk melihatnya," terangnya.
Kemudian juga fokus pada alternatif-alternatif solusi kebijakan yang bisa dibuat. Lalu dibahas bersama dan direkomendasikan kepada para pengambil kebijakan.
Sehingga dengan demikian forum Balinomics ini akan memberikan manfaat bagi semua orang. Sebab menghasilkan rumusan-rumusan tentang peluang-peluang yang bisa diraih dan juga solusi-solusi kebijakan yang bisa dibuat. Sehingga perekonomian Bali ini tetap survive.
"Ada pariwisata yang harus kita jaga dengan baik. Kemudian sektor UMKM harus kita jaga supaya tetap survive dan bertumbuh, berkembang. Kemudian digitalisasi keuangan yang tetap harus kita jaga dan juga sektor-sektor yang lainnya. Maka dari itu sekali lagi saya menyambut baik forum Balinomics ini sebagai forum diskusi kita semua," ujarnya.
Forum diskusi para pemerhati ekonomi, para pengambil kebijakan di bidang ekonomi, para pelaku ekonomi dan para ilmuwan di bidang ekonomi.
Sehingga ekonomi Bali memiliki daya tahan Daya tahan untuk survive dan daya tahan untuk terus bertumbuh di tengah eskalasi konflik yang belum tentu kita ketahui kapan ujungnya.
"Tetapi saya mengingatkan kepada forum yang terhormat ini bahwa eskalasi konflik ini belum tahu ujungnya kapan. Maka semua strategi harus kita susun dengan baik agar kita bisa menghadapi guncangan-guncangan ini dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi kita."
"Supaya pertumbuhan ekonomi kita tetap tumbuh dengan baik, inflasinya terkendali dengan baik, serta sektor-sektor yang lainnya, lapangan kerja tetap dapat bertumbuh," pungkasnya. (*)