TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memberikan instruksi kepada seluruh jajaran Korps Brimob Polri untuk meningkatkan kewaspadaan penuh dalam menghadapi dinamika situasi global yang kian memanas di tahun 2026.
Instruksi ini disampaikan langsung Kapolri saat menghadiri Apel Pengarahan dan Pembukaan Rakernis Korps Brimob Polri di Lapangan Mako Korbrimob Kelapa Dua, Depok, Selasa (21/4/2026).
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 7.000 personel elite Brimob hadir langsung dalam apel tersebut.
Listyo Sigit menegaskan Brimob adalah "Special Force" atau kekuatan inti Polri yang harus siap digerakkan kapan saja.
Dalam arahannya, Kapolri menyoroti konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Israel dan Iran yang melibatkan Amerika Serikat serta berdampak pada negara-negara teluk seperti Lebanon.
"Kita harus terus mengikuti dan mewaspadai dampak ataupun implikasi dari konflik yang terjadi antara Israel melawan Iran. Ini menimbulkan eskalasi global yang meningkat dan akan menjadi ancaman apabila tidak segera didamaikan," ujar Kapolri di hadapan ribuan personel berbaret biru tersebut.
Baca juga: Langkah Nyata dan Cerdas Kapolri Listyo Sigit
Kapolri menjelaskan, gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital energi dunia dapat memicu lonjakan harga minyak hingga 200 USD per barel, yang secara langsung akan berdampak pada stabilitas keamanan di dalam negeri.
Sebagai garda terdepan Polri dalam menangani gangguan keamanan berintensitas tinggi, Kapolri meminta personel Brimob tidak hanya sekadar berjaga, tetapi juga melakukan persiapan teknis yang matang.
"Rekan-rekan adalah andalan pada saat situasi betul-betul membutuhkan kehadiran rekan-rekan. Tolong pelajari betul eskalasi yang ada, persiapkan peralatan yang rekan-rekan miliki," tegasnya.
Baca juga: Kapolri dapat Arahan Khusus Presiden Prabowo Sebelum ke Rusia, Ini Kata Pengamat
Di akhir arahannya, mantan Kabareskrim ini juga menitipkan pesan penting mengenai sinergitas.
Ia meminta Brimob untuk terus membangun komunikasi yang kuat dengan mitra strategis, terutama TNI.
"Jaga soliditas dengan mitra-mitra dan rekan-rekan lain, dengan TNI. Bangun komunikasi yang baik sehingga di lapangan kita bisa menghadapi masalah bersama-sama," pungkas Jenderal Listyo Sigit.