Rofiqoh Darto Wahab disebut sebagai generasi pertama kasidah modern. Dengan tegas dia mengatakan bahwa kasidah adalah musik umum layaknya pop, dangdut, dan sebagainya; alih-alih sebagai musik Islam.
Diolah dari artikel yang tayang di Majalah HAI edisi 25 Oktober-1 November 1983 dengan judul "Rofiqoh Darto Wahab"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Rumah itu agak sepi. Di garasi cuma ada seorang pembantu lelaki sedang melap Super Jimny putih, satu dari tiga kendaraan yang nongkrong di sana. Sebuah Colt minibus yang diparkir di jalan umum depan rumah itu dan ada tulisannya “Rofiqoh Grup” di kaca belakangnya.
Rumah di kompleks PWI Blok V No. 356 itu memang rumah Hajjah Rofiqoh Darto Wahab, penyanyi gambus dan kasidah yang namanya sudah cukup populer saat itu. Menjelang akhir 1983, HAI berkesempatan bertemu dengannya, mengobrolkan musik gambus, musik yang membesarkan namanya. Laporannya tayang di Majalah HAI edisi 25 Oktober-1 November 1983.
Agak lama HAI menunggu di beranda depan rumahnya, menunggunya menyelesaikan tugas rumah tangganya pagi itu. Seperti katanya sendiri, dia memang sedang ditambahi kesibukan, terutama sebagai ibu rumah tangga.
Tapi kesibukan itu mau tak mau harus diterimanya dengan senang hati. Meski tampak makin kurus, tetapi hal itu tak mengurangi sinar cerianya sebagai Nyonya Darto Wahab SH, advokat, pengacara, dan wartawan.
Pada awal 1983, dia dikaruniai Tuhan anak ketiga. Namanya, Mahasidul Akhlaq Hariki Fiham. Anaknya yang pertama, Musafir Ahmad Fatih Habanto, sudah berusia 17 tahun. Sedangkan yang kedua, Andar Vida, 10 tahun sudah usianya dan sempat menelorkan tiga album rekaman diiringi oleh sebuah band pimpinan Mukhtar B, pengorbit Herlina Effendy dalam jalur musik dangdut.
"Fiham sering sakit," katanya menjelaskan tentang si bungsu. “Mungkin juga mau merangkak. Biasanya kalau baby mau merangkak begini, suka sakit-sakitan.”
Tak pernah tenggelam
Rofiqoh Darto Wahab lahir di Pekalongan pada 10 April 1956. Dia dibesarkan dari keluarga yang taat menjalankan agama. Lingkungannya pun kampung Kranji, Kedungwuni, termasuk lingkungan yang sangat agamis di Pekalongan sana.
Ayahnya, Kiai Haji Munawir, biar termasuk agak progresif, tetapi dia 'orang masyarakat' yang dalam banyak hal lebih mementingkan suara masyarakat di sekelilingnya ketimbang kepentingan dan suara keluarganya. Ahli mengaji – dia adalah qari’ andalan Pekalongan – yang yang memang mengetahui bakat si Fiq kecil dalam menyanyi itu secara halus melarang Fiq menyanyi pada awalnya.
"Soalnya apa kata orang dong nanti kalau anak Kyai menyanyi," kata alumnus pesantren di Lasem ini mengenang larangan Ayahnya.
Tetapi di kemudian hari putri tertua dari dua bersaudara ini sudah mencatatkan namanya dalam hati penggemar musik gambus sebagai penyanyi yang susah dicari duanya di Indonesia. Biar yang kasidah modern dari Semarang pernah meledak dengan lagu “Perdamaian”-nya, nama Rofiqoh toh tetap tidak tenggelam.
Tetapi kisah perjalanan kariernya juga cukup panjang. Diawali dengan mencatat prestasi juara provinsi MTQ di Jawa Tengah, dia lalu diboyong suaminya ke Jakarta dan mulai menyanyi. "Suami saya yang mendorong," dia tersenyum.
Ayahnya pun, ceritanya, tidak keberatan lagi seperti ketika dia kecil atau remaja di desanya. Meskipun begitu, selamanya Fiq tetap ingin menjaga nama baik ayahnya. Jika dia sowan ke Pekalongan dan mendapat undangan menyanyi, dia selalu tampil bukan sebagai penyanyi gambus, tetapi kasidah.
Di Jakarta dia kemudian bertemu dengan A. Rahmat, pimpinan Orkes Gambus (OG) Al-Fata, saat dia sedang mengadakan rekaman lagu-lagu kasidah. Pada kesempatan yang lain, dia meminta A. Rahmat yang sedang meniti karir dan mencari penyanyi wanita untuk OG-nya, mengiringinya menyanyi.
"Pak Rahmat menyerahkan soal honor kepada saya," katanya mengenang. Soal berapa kaset yang terjual, royalti dan lain sebagainya, Pak Darto Record saat itu sudah mempunyai ketentuan, honorarium diberikan 5 persen untuk penyanyi dan 10 persen untuk orkes pengiring.
"Tadinya 'kan Pak Rahmat yang menyerahkan honor kepada saya," katanya lebih lanjut, "Nyatanya dia yang dapat lebih besar ya," dia tersenyum kembali. Untuk ini dia berlapang dada. Semua sudah ditentukan haknya.

Masa sibuknya
Lagu “Hamawi Ya Mismis” adalah lagu pertama pengagum Samira Taufiq, Umi Kalsum, dan Wardah Taufiq ini. Lagu itu, menurut Darto Wahab yang menemani ngobrol, sejak direkam tahun 1966 tetap digemari oleh masyarakat penggemar gambus dengan jumlah penjualan mencapai 2 juta kaset. Tentu saja melalui rekaman ulang yang terus menerus.
Dalam soal bisnis, Rofiqoh ditangani oleh suaminya sendiri. Menurut Fiq, popularitasnya tatkala “Hamawi Ya Mismis” beredar, menyamai Dara Puspita dalam jalur pop. Cuma itu yang turun tangan.
"Sulit kalau menyebut kapan masa sibuk saya," ujarnya menyinggung soal masa sibuknya baik rekaman maupun panggilan-panggilan untuk menyanyi di tempat-tempat tertentu.
Dia menyebut masa sibuknya adalah di hari-hari besar Islam. Sebagai satu-satunya penyanyi gambus paling populer ketika itu tampaknya dia juga begitu dekat dengan penggemar-penggemarnya. Oleh sebab itu, dalam kebanyakan acara hari-hari besar Islam dia terlalu sering menerima undangan untuk menyanyi. Bukan cuma di Jakarta, tetapi juga di luar daerah.
“Sedapat mungkin saya melayani mereka," katanya, "Apalagi kalau sudah ada janji, apa pun halangannya saya past! datang."
Suatu kali, dia pernah terjebak di salah satu daerah di Tasikmalaya (sebelum Galunggung meletus, lho) untuk memenuhi undangan. Tiba-tiba jembatan menuju lokasi putus dan tak bisa dilalui oleh kendaraan pembawa perangkat gambus Al-Fata.
Terpaksa seluruh instrumen musik diangkut jalan kaki, padahal dari daerah Tasikmalaya itu mereka harus buru-buru ke Serang memenuhi undangan yang lain. Dengan tekad tidak ingin melukai pihak pengundang, mereka akhirnya harus tiba di Serang setelah jauh malam.
Rofiqoh melayani panggilan baik bersama grup kasidahnya maupun bersama grup gambus (Al-Fata atau gambus yang lain sesuai permintaan). Soal harga, “Tergantung juga sih,” kilahnya, "Kalau hiburan yang sifatnya sosial kita bisa berdamai. Itu 'kan sifatnya untuk beramal."
Sebelas kaset
Rekaman gencarnya terjadi di penghujung tahun 1982 antara November sampai Maret dan pertengahan April 1983. Dalam jangka waktu relatif sangat singkat, bersama OG Al-Fata dia dibombardir untuk menghasilkan tak kurang dari 11 kaset rekaman. Sekali ini memang bukan membawakan lagu-lagu berbahasa Arab, tetapi bahasa Indonesia dengan warna musik semi dangdut (seperti istilah Fiq sendiri).
Album-album yang dihasilkannya tercatat Waspada I sampai V (lima kaset), Perdamaian I sampai dengan IV (empat kaset), Galunggung II, IV, V (tiga kaset). Lebih gila lagi, dua dari kesebelas kaset ini dibuat seminggu sebelum dia melahirkan Fiham.
Kenapa bisa begitu cepat?
Ya, mereka memang memakai sistem rekaman yang agaknya lain daripada yang lain. Setiap album yang direkam, Fiq biasanya hanya dikirimkan sebuah kaset berisi rekaman iringan lagu yang harus dibawakannya. Syair lagu tersebut tanpa tanda-tanda notasi diberikan tertulis. Dari sana dia menghafal sendiri nada-nada yang harus disampaikan. Seluruhnya hanya mengandalkan improvisasi.
Fiq mengaku tidak dapat membaca notasi baik angka atau balok. Begitupun tak satu alat musik yang dikuasai. Karenanya ia kadang jengkel jika ada rekaman mendadak. Dia pernah dikirimkan sebuah rekaman iringan plus teks lagu-lagu yang tidak cukup untuk mengisi satu side. Masih harus ditambah satu atau dua lagu lagi. Dan tambahannya akan diberikan nanti di studio rekaman.
"Ini merepotkan saya," tuturnya menahan napas, "Sebab sebuah lagu kan punya gaya dan vibrasi sendiri-sendiri." Tetapi soalnya A. Rahmat memang sudah sangat percaya pada kemampuan penyanyi andalannya ini untuk berimprovisasi. Sehingga dia tak pernah gentar membuat tambahan lagu-lagu sekaligus siap rekam.
"Memang saya bisa berbuat begitu. Tapi kan hasilnya kurang memuaskan," tuturnya.
Ini juga berarti, untuk sebuah rekaman, mereka tidak pernah mengadakan latihan khusus bersama-sama. Seluruhnya dilakukan secara praktis, kirim kaset plus syair dan Rofiqoh tinggal menyelaraskan suaranya sampai cocok dengan keinginan pencipta dan iringan musiknya. Begitu selalu. Kadang-kadang, besok masuk rekaman bari ini baru dikirimkan kaset iringan musiknya.
Kok bisa ya?
Soalnya memang untuk setiap sebuah lagu mereka tinggal mencomot nada-nada yang sudah ada dari lagu-lagu gambus luar negeri (Mesir). Lagu-lagu yang dinyanyikan Wardah, Umi Kalsum dan lain-Iain dikombinasikan sedemikian rupa untuk akhirnya diselaraskan dengan musik gambus Indonesia.
"Seperti kebanyakan lagu dangdut," dia memberi contoh, "Kebanyakan diambil dari lagu-lagu India. Lebih mudah dan cepat."
Galunggung
Ada beberapa lagu yang ikonik dengan Rofiqoh, tapi “Galunggung” disebut yang memberinya keuntungan terbesar. Rekaman Galunggung II (Galunggung I pertama dibawakan oleh penyanyi lain) meledak pula di pasaran. Sampai seberapa banyak kaset yang terjual sayang dia tak menyebut suatu jumlah. "Katanya, setelah dua hari sudah kembali modal," itu yang diketahuinya.
Seperti katanya selalu, tugasnya memang hanya menyanyi dan menyanyi. Dan dasarnya penyanyi, ketika ke Singapura pun dia didaulat untuk menyanyi. Kehadirannya ke sana padahal bukan untuk menyanyi, tetapi berlibur bersama keluarga.
Ternyata ada orang-orang dari kelompok muslim militan yang melihat Fiq dan mengundangnya untuk menyanyi. Apa boleh buat? Baginya, menyanyi pun memang tidak sekedar mendendangkan suara. Menyanyi juga berpahala asal diniatkan dengan baik. Menyanyi itu ibadah.
"Idkholussurur," katanya. Yang maksudnya kurang lebih, membahagiakan orang lain.
Kesibukannya saat itu selain menyanyi adalah mengajar mengaji, kasidah, dan pengetahuan agama alias jadi mubalig. Murid pengajiannya terdiri atas 50 anak-anak dan 50 remaja. Untuk ibu-ibu rumah tangga dia memberi pelajaran Al-Qur'an (mengaji) dan ilmu agama.
“Tetapi saya juga punya peran ganda lho," katanya mengomentari keterlibatannya sebagai guru agama. Ibu-ibu itu, katanya, selain menimba ilmu, juga menjadikannya sebagai tempat mengadu. Segala problem keluarga diadukan kepadanya dan ia membantu dengan memberikan advis sampai pemecahannya kalau dapat.
"Apakah karena suami ibu advokat?"
"Lha mereka bukan datang kepada Mas Darto," jawabnya tangkas, "Mereka mengadu justru kepada saya yang malah kadang-kadang lebih muda daripada mereka. Tapi nggak tahu ya. Mereka memang akrab dengan saya. Mereka mengira saya ini orang pintar. Pikir-pikir kayak psikolog."
Pernah kena gosip
Pertemuannya dengan Darto Wahab SH terjadi pada acara Rajaban di Pekalongan pada acara peringatan haul (ulang tahun) Mbah Nurul Anom sekaligus memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad. Acara itu diadakan di sebuah mesjid tertua, Masjid Agung Pekalongan yang usianya sudah lebih dari 300 tahun.
Fiq remaja ketika itu bertindak sebagai Humas panitia dan punya gagasan untuk mengundang wartawan. Salah satu wartawan yang datang adalah Darto Wahab, perwakilan dari Duta Masyarakat, dari Jakarta. Di sanalah mereka kemudian bertemu, beradu mata, dan, saling tertarik.
"Setelah ditelusuri, ternyata kami masih ada hubungan famili, kok," dia melirik sang suami yang lagi asyik mengunyah duku oleh-oleh seorang tamu.
Sebagai seorang artis penyanyi, tentu saja dia pun tak lepas dari pena-pena usil wartawan. Rumah tangganya pernah digosipkan hancur oleh seorang wartawan entah dengan motif apa. "Saya membaca berita itu di rumah bersama Mas Darto," katanya. "Koran memberitakan keluarga saya retak, padahal membaca beritanya kami sambil senyum-senyum."
Gosip itu memang tak digubrisnya sama sekali. Apalagi Pak Darto Wahab memang wartawan yang cukup kawakan dan sudah tahu pasti liku-liku kehidupan wartawan usilan.
"Itu cuma satu kisah kecil," katanya pula, "Sebagai penyanyi saya senang punya banyak teman, kenalan dan saudara. Di mana-mana saya menemukan saudara.

Kasidah sebagai musik umum
Tidak, gambus tidak identik dengan Islam, tandas Rofiqoh. Musik gambus menurutnya bukanlah musik Islam. Ia adalah musik umum seperti lagu-lagu Barat, pop, atau dangdut tanpa afiliasi ke satu aliran kepercayaan atau agama apa pun.
Soal anggapan musik Islam terhadap jenis musik ini, barangkali karena penggemarnya kebanyakan kaum muslimin di desa-desa dan beberapa gelintir kalangan tertentu. Memang ada hal-hal khusus yang memberikan anggapan seperti itu.
Pertama karena lagu itu berisi kalimat-kalimat berbahasa Arab. Tetapi apakah seluruh orang yang berbahasa Arab di Timur-Tengah pun beragama Islam? Kedua, karena penyanyinya hanya muncul dari kalangan Islam.
"Itu di Indonesia," ujar Rofiqoh, "Di Mesir, Fairuz penyanyi gambus terkenal itu, bukan beragama Islam."
Musik gambus memang berasal dari Mesir, atau tepatnya dari Timur Tengah. Tetapi tidak benar kalau jenis musik gambus dikatakan musik Islam, sebab gambus sudah ada sejak Islam belum berkembang pesat. Sayang Rofiqoh tidak dapat menjelaskan hal ini dengan baik.
Menurutnya, untuk jenis musik yang satu ini, Indonesia memang masih kekurangan data. Belum ada buku-buku tentang sejarah musik gambus, perkembangan dan prospeknya di masa mendatang.
Ini sebuah tantangan bagi kalangan pecinta musik gambus di mana pun mereka berada.
Rofiqoh Darto Wahab mulai sakit-sakitan sejak 2019 hingga beberapa kali dirawat di rumah sakit. Setelah lama berjuang melawan sakit, pada 12 Juli 2023, Rofiqoh meninggal dunia di RS Haji Pondok Gede, Bekasi, dan jenazahnya dimakamkan di Kranji, Kedungwuni, Pekalongan, sehari kemudian.
Karena kontribusinya, Rofiqoh mendapat pengakuan dari komunitas keagamaan dan budaya lokal atas perannya sebagai pelopor kasidah. Nama Rofiqoh juga dalam liputan-liputan ensiklopedis tentang musik religi Indonesia dan catatan sejarah kebudayaan Islam populer di Tanah Air.