Oleh: Oswal Amnunuh*
Kutemukan Kartini di Pantai Drini
T’lah kutemukan Kartini di Pantai Drini. Datang serupa gelombang, terhuyung kebibir puisi. Sesekali ia menjelma buih. Membonceng gulungan ombak, datang
sampai tepi lalu meletus tiba-tiba di hati.
Kartini, Pantai ini telah tumbuh dan menjadi anak soleha. Selama ini ia sangat patuh mengantar surat-suratmu sampai ke hati puisi. Aku akan menginap di sini. Ngilu dan encokmu akan kuladeni.
Kita lihat siapa yang akan masih bisa berdiri. Aku akan bermalam di sini. Menghabis gelap, menantang terang. Entah, kau akan terbit di mana.
Marlina
Marlina, nama sebuah padang di belakang rumah yang kerontang.
Pada suatu hari, ia diperistri lagi Sepi.
Sedang Umbu telah mati bersama birahi; anak-anak dan cucu terlahir di dalam
moke.
Pernah sekali, sebelum ia ditangkap sepi, Markus membujuk menikah.
“Hah? Menikah?”
Baca juga: Puisi: Ketika Kembali ke Rumah
“Iya, belis sudah saya siapkan. Saya akan angsur empat kali. Tergantung kamu mau berapa lama kita bersama”.
Seperti kata sebuah sabda. Mati datang seperti pencuri. Tidak hati-hati tapi pasti.
Lalu, sabda itu mengikat lehernya dan Markus terbuang ke laut.
Maria mengambil kepalanya, tubuhnya mencari kepalanya, belis tertanam di laut.
Alkisah, perempuan sengaja menyimpan di sana sebab mereka ingin diperistri tepat waktu.
(*setelah menonton film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
yang tak diketahui anak saat ibu dilanda rindu
air mata adalah rindu yang berderai.
jatuh satu per satu.
berdenting, berbunyi nyeri sampai ke ulu hati.
anak-anak tak tahu rindu itu berbunyi.
saat ibu menyanyi meniru suara hati,
air mata ibu jatuh hati-hati, sembunyi-sembunyi.
*) Oswal Amnunuh adalah pemuda asal Kaubele, Timor Tengah Utara, NTT. Mahasiswa Fakultas Filsafat Uwnira Kupang.