PSIM Yogyakarta Terlempar dari 10 Besar, Kini Tantang Persija Tanpa Dukungan Suporter
Yoseph Hary W April 21, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, GIANYAR - PSIM Yogyakarta menghadapi ujian berat saat menjamu Persija Jakarta pada pekan ke-29 BRI Super League 2025/26, di tengah tren buruk yang belum terputus.

Alih-alih mendapat keuntungan sebagai tuan rumah, PSIM justru dirugikan. Laga yang semula dijadwalkan berlangsung di Stadion Sultan Agung pada Rabu (22/4/2026), dipindahkan ke Stadion Kapten I Wayan Dipta dan akan digelar tanpa kehadiran penonton.

Situasi ini semakin berat karena Laskar Mataram tengah terpuruk. Mereka menelan tiga kekalahan beruntun dan belum meraih kemenangan dalam lima laga terakhir, dengan catatan dua hasil imbang dan tiga kekalahan.

Dampaknya, PSIM kini terlempar dari 10 besar dan menempati peringkat ke-11 klasemen dengan 38 poin. Sementara Persija tampil lebih konsisten di papan atas dengan duduk di posisi ketiga dan mengoleksi 58 poin.

Kecewa, kehilangan atmosfer kandang

Pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel, mengaku kecewa dengan pemindahan lokasi pertandingan yang membuat timnya kehilangan atmosfer kandang.

“Sangat mengecewakan karena pertandingan ini tidak diadakan di Jogja. Klub dan pendukung sudah lama menunggu untuk menghadapi tim besar seperti Persija di kandang sendiri,” ujarnya saat konferensi pers, Selasa (17/4/2026).

Ia menilai laga kandang seharusnya menjadi momentum penting, terlebih dengan dukungan suporter yang selama ini selalu hadir.

“Seharusnya kami bisa bermain dengan dukungan penuh. Apalagi saat kami ke Jakarta, pendukung kami juga diperlakukan dengan sangat baik. Jadi ini jelas mengecewakan, tapi kami harus tetap siap,” lanjutnya.

Strategi putus tren buruk

Van Gastel juga sempat melontarkan candaan saat ditanya strategi memutus tren negatif.

“Kami akan memasang 12 pemain di lapangan. Mungkin wasit tidak akan menghitungnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski begitu, ia memastikan kondisi fisik pemain tidak menjadi masalah. Fokus utama justru pada hasil buruk yang terus berulang di paruh kedua musim.

“Saya tidak khawatir soal kebugaran. Yang jadi perhatian adalah kami terlalu banyak kalah. Padahal di paruh pertama musim kami tampil baik. Sekarang kami sering sudah dekat dengan kemenangan, tapi hasil akhirnya justru negatif,” jelasnya.

Ia menegaskan target utama tim tetap bertahan di kompetisi, meski mengaku tidak puas dengan performa belakangan ini.

Persiapan singkat

Sementara itu, pemain PSIM, Ze Valente, menyebut persiapan tim kali ini cukup singkat.

“Persiapan memang sedikit lebih pendek karena biasanya kami punya waktu recovery. Tapi kami harus siap menghadapi Persija,” katanya.

Ia juga memprediksi laga akan berlangsung menarik karena kedua tim memiliki gaya bermain yang sama-sama ingin menguasai permainan.

“Ini akan jadi pertandingan yang bagus karena kedua tim ingin mengontrol permainan. Ini laga yang layak ditunggu,” tutupnya.

Persiapan Persija

Pelatih Persija, Mauricio Souza, mengakui adanya perubahan rencana yang cukup mendadak. Timnya semula mempersiapkan diri untuk tampil di Yogyakarta, namun harus beradaptasi dengan kondisi baru di Bali.

“Kita tidak menyangka harus berangkat ke Bali karena awalnya berpikir akan bermain di Yogyakarta. Tapi waktu persiapan yang kita punya sudah dimaksimalkan dengan baik. Kami sangat termotivasi dan tahu betapa pentingnya pertandingan ini,” ujar Mauricio saat konferensi pers, Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, bermain di Bali tetap memberi sisi positif, terutama dari kualitas lapangan yang dinilai mendukung gaya bermain tim. Meski begitu, ia menegaskan laga tidak akan mudah karena lawan memiliki organisasi permainan yang solid.

Mauricio juga menyinggung evaluasi dari pertandingan sebelumnya melawan PSBS Biak. Ia menilai timnya sempat tampil menjanjikan di awal laga, namun kehilangan kreativitas saat memasuki area pertahanan lawan.

“Kita sempat bermain bagus selama 15-20 menit dengan intensitas tinggi. Tapi setelah itu, kita kurang kreatif. Terlalu banyak bola lambung ke kotak penalti tanpa penyelesaian yang baik. Ke depan, kita harus lebih variatif dan berani improvisasi,” jelasnya.

Kontrol emosi

Selain aspek teknis, Mauricio turut menyoroti pentingnya kontrol emosi pemain. Ia mengakui Persija kerap dirugikan akibat kartu merah yang berdampak pada hilangnya poin penting sepanjang musim.

“Kami sudah banyak bicara soal kontrol emosi. Saya selalu minta pemain tidak berlebihan dalam protes ke wasit. Mereka harus tetap fokus bermain karena keputusan wasit adalah bagian dari pertandingan,” tegasnya.

Sementara itu, penyerang Persija, Eksel Runtukahu, memastikan seluruh pemain tetap bertekad meraih kemenangan meski tidak bermain di kandang lawan yang sebenarnya.

“Kami akan tetap memberikan yang terbaik walaupun tidak bermain di Yogyakarta. Target kami jelas, meraih tiga poin dan membawanya pulang ke Jakarta,” ujar Eksel.

Terkait peluang dipanggil ke Timnas Indonesia, Eksel memilih fokus pada tugas utamanya sebagai penyerang.

“Tugas saya mencetak gol. Soal Timnas, itu butuh kerja ekstra. Kalau ada kesempatan, tentu saya akan berikan yang terbaik,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.