Emosi Meledak, Rismon Sianipar Semprot Roy Suryo Soal Ijazah Jokowi: Nyampai Nggak Ilmumu
Moch Krisna April 21, 2026 10:46 PM

 





TRIBUNSUMSEL.COM --
Ahli digital forensik Rismon Sianipar akhirnya kembali tampil di ruang publik pasca-berhentinya penyidikan kasus ijazah Jokowi terhadap dirinya. 

Dalam sebuah acara televisi, Rismon yang kini merasa lega setelah "pecah kongsi" dengan Roy Suryo, berani blak-blakan mengenai alasannya meninggalkan kelompok penuding ijazah palsu tersebut.

Dalam acara tersebut, keduanya sempat saling adu argumen dan saling tuding berbohong.

Awalnya, Rismon menjelaskan bahwa font pada skripsi Jokowi yang sebelumnya dipermasalahkan sebenarnya bukan memakai Times New Roman, tetapi Times Roman.

Sebelum ini, Rismon menuding ijazah Jokowi palsu karena mengira skripsi eks presiden tersebut menggunakan font Times New Roman, di mana pada tahun 1984 font itu belum ada.

Adapun, font Times Roman diketahui sudah ada sejak 1984 di teks editor operating system Apple Macintosh.

Rismon mengakui sebenarnya sejak awal dia sudah menyadari bahwa font dan hurufnya sama semua antara ijazah Jokowi dengan ijazah-ijazah yang ada di fakultas lain di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Namun, Rismon mengakui menyembunyikan fakta terkait penggunaan font tersebut.

"Seperti ini tuh banyak loh saya temukan, di Fakultas Hukum saya temukan, di Fakultas Ekonomi juga saya temukan. Jadi karena mahal lembar pengesahan itu, mereka pergi ke percetakan, yang dicetak hanya 1,2, sampai 5 halaman pertama."

"Itu banyak (ditemukan), dan saya sembunyikan untuk mendukung kebohongan saya sebelumnya. Meskipun hipotesis saya mengatakan bahwa ini nggak benar saat itu," ungkap Rismon, dikutip dari YouTube iNews, Selasa (21/4/2026).

Saat ditanya, kenapa Rismon tidak dari awal menyampaikan hal tersebut, Roy langsung menimpalinya sehingga membuat Rismon tampak emosi.

"Nah itu," ucap Roy.

 Rismon lantas menanyakan kepada Roy, apakah ilmu Roy mampu untuk membuatnya paham atas apa yang ia sampaikan.

"Nyampai Nggak Ilmu mu Roy?" ujar Rismon.

Roy pun menimpalinya dengan santai dan mengatakan bahwa dirinya tidak menyampaikan kebohongan seperti yang dilakukan Rismon.

Mendengar hal tersebut keluar dari mulut Roy, Rismon pun tidak terima dan menyebut Roy yang berbohong.

"Yang jelas aku nggak bohong kayak kamu," ucap Roy.

"Kamu yang bohong!" tegas Rismon.

"Tukang bohong," timpal Roy lagi dengan tawanya sembari menunjuk Rismon.

Rismon menjelaskan bahwa pada tahun 1984-1985 itu percetakan mahal dan mahasiswa saat itu tidak mampu untuk membayar keseluruhan jika semua halaman skripsi dicetak.

"Di sistem percetakan saat itu, 1984-1985, ada printer laser, di situ ada Apple Macintosh Macwrite. Kenapa itu mahal? Karena harga komputer saat itu harga mobil."

"Mahasiswa hanya mampu supaya cantik itu skripsi, maka dicetak ke percetakan, mereka edit lah itu dengan teknologi font postcrypt saat itu," jelas Rismon.

Di mana, font tersebut sangat mirip dengan Times New Roman yang sebelumnya dia teliti.

"Bentuknya, lengkungannya itu mirip dengan digital font Times New Roman yang merupakan hipotesis saya sebelumnya yang salah, padahal seharusnya Times Roman, ada di Macwrite," ujar Rismon.

Untuk diketahui, selain Rismon, tersangka lain yang mengajukan RJ adalah Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Mereka justru lebih dulu bebas dari status tersangka usai mengajukan RJ, tetapi Eggi dan Damai mengaku tidak meminta maaf kepada Jokowi.

Dengan demikian, tersangka yang tersisa dalam klaster kedua adalah Roy dan Dokter Tifa. Kemudian klaster pertama ada Kurnia Tri Rohyani, Rustam Effendi, dan Muhammad Rizal Fadillah.

Meski para ketiga tersangka yang mengajukan RJ resmi menghirup udara bebas secara hukum, Roy tetap teguh pada pendiriannya tidak akan pernah mengajukan RJ kepada Jokowi.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.