Tribunlampung.co.id, Bogor - Pagi itu, Rohidin berdiri memandangi rumah yang dulu ia tempati bersama keluarganya. Kini bangunan itu hanya menyisakan tembok retak dan lantai yang amblas.
Beberapa hari sebelumnya, rumah itu masih berdiri utuh. Namun pergerakan tanah yang perlahan terjadi membuat bangunan tersebut akhirnya tak lagi bisa diselamatkan.
Bagi Rohidin, kehilangan rumah tentu bukan hal mudah. Meski begitu, ia bersyukur karena dirinya dan seluruh anggota keluarganya masih selamat.
Ia masih mengingat jelas bagaimana tanda-tanda bencana itu muncul. Retakan kecil yang awalnya terlihat di rumah tetangga, perlahan mulai merambat ke rumah-rumah lain di sekitarnya.
Pergerakan tanah yang terjadi di wilayah tersebut akhirnya membuat sejumlah rumah rusak, termasuk rumah milik Rohidin yang kini hancur.
Baca juga: Rumah di Pekon Way Handak Tanggamus Ambruk, Diduga Bangunan Rapuh
Dikutip dari TribunnewsBogor.com, Rohidin dan keluarganya berhasil selamat dari kejadian alam yang membuat rumahnya hancur di Kampung Cimangurang RT 04/02, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor.
Rumah tinggal Rohidin terpantau, Selasa (21/4/2026), sudah tak lagi utuh karena remuk.
Retakan-retakan besar menganga membelah dinding-dinding tembok rumahnya.
Lantai keramik rumahnya juga amblas ditambah sebagian atap juga roboh.
Kerusakan rumah yang dialami Rohidin ini disebabkan pergerakan tanah.
Rumah Rohidin dalah salah satu dari beberapa rumah yang remuk karena peristiwa tersebut.
Rohindin menceritakan bagaimana dia bisa selamat dari kejadian yang membuat rumahnya hancur tersebut.
Dia menjelaskan awalnya pergerakan tanah membuat rumah tetangganya mengalami keretakan.
"Udah sempet lapor ke desa," kata Rohidin kepada TribunnewsBogor.com, Selasa (21/4/2026).
Namun kemudian, pergerakan tanah itu terus terjadi dan merembet ke rumahnya dan rumah lain di sekitarnya.
Sehingga akhirnya beberapa rumah lain secara perlahan retak dan akhirnya remuk.
"Pelan-pelan, jadi tanah tuh, 'krek-krek' jadi rumah gak langsung ambruk," katanya.
Setelah tahu tanah bergerak ini terus perlahan terjadi, sebelum rumahnya benar-benar hancur, Rohidin langsung menyelamatkan barang-barang di dalam rumah.
Terpantau, di sekitar lokasi pergerakan tanah banyak tumpukan barang-barang warga yang dititipkan ke rumah lain yang aman.
Beberapa rumah lain yang kerusakan belum parah, terpantau ada yang masih mengangkut barang-barang mereka dibantu petugas BPBD, Tagana, Linmas setempat.
Kini Rohidin sendiri bersama keluarganya terpaksa mengontrak rumah namun kebetulan masih di wilayah kampung yang sama.
Karena rumahnya kini sudah benar-benar hancur dan tak bisa ditempati.
"Alhamdulillah keluarga gak ada yang kenapa-kebapa, masih sempet nyalamatin barang-barang juga," katanya.
Sementara menurut BPBD Kabupaten Bogor menjelaskan, pergerakan tanah ini terjadi beberapa kali setelah kawasan itu diguyur hujan.
Yaitu pada 16 April 2026 pukul 10.00 WIB terjadi pergerakan tanah ditandai dengan munculnya retakan pada tanah dan beberapa rumah milik warga dengan lebar sekitar 10 cm.
Kemudian pada hari Minggu (19/4/2026) saat hujan deras kembali turun, tepatnya pukul 22.00 WIB.
BPBD mencatat sedikitnya tujuh unit rumah milik warga terdampak, empat rumah diantaranya rusak rusak berat dan tiga lainnya rusak sedang.
Beruntung, kejadian ini tidak menimbulkan adanya korban jiwa.
Namun ada 9 KK total 28 jiwa penghuni rumah yang terpaksa harus mengungsi.
Sampai Selasa (21/4/2026), pergeseran tanah masih terus terjadi di lokasi, ditandai suara retakan bangunan yang terus terdengar.