Sekelompok Mahasiswa Astronomi Temukan Bintang dari Periode Awal Alam Semesta
GH News April 21, 2026 10:09 PM
Jakarta -

Sekelompok ilmuwan yang di dalamnya termasuk sejumlah mahasiswa S1 di Universitas Chicago, belum lama ini menerbitkan penemuan mereka akan suatu bintang di luar angkasa. Bintang tersebut dinilai paling murni secara kimiawi, yang pernah diketahui di alam semesta.

Bintang tersebut berasal dari periode awal alam semesta, terbentuk jauh sebelum Matahari atau Bumi kita, yakni dalam beberapa miliar tahun pertama setelah peristiwa Big Bang. Temuan ini memberi para ilmuwan suatu pengetahuan langka tentang evolusi bintang-bintang paling awal di alam semesta, khususnya bagaimana mereka bertransisi dari generasi pertama bintang masif menjadi bintang-bintang yang lebih kecil yang umum saat ini.

"Bintang-bintang murni ini adalah jendela menuju fajar bintang dan galaksi di alam semesta," kata asisten profesor astronomi dan astrofisika di Universitas Chicago, Alexander Ji, dikutip dari laman kampus tersebut, Selasa (21/4/2026).

Sejarah Terbentuknya Bintang

Pada awalnya, tepat setelah Big Bang, bintang-bintang mulai terbentuk. Bintang-bintang tersebut berukuran besar dan hanya terdiri dari helium dan hidrogen.

Mereka terbakar panas dan mati lebih awal. Namun di dalam inti mereka, atom-atom telah menyatu menjadi unsur-unsur yang lebih berat. Ketika bintang-bintang raksasa itu meledak, bintang-bintang baru terbentuk dari puing-puingnya. Karena hal ini terjadi berulang kali, maka manusia mendapatkan lebih banyak unsur berat, hingga cukup untuk membentuk zat besi dalam darah dan oksigen yang kita hirup.

Para ilmuwan memang mengetahui hal itu, tetapi masih mempelajari bagaimana generasi bintang berikutnya menjadi lebih kecil dan berumur lebih panjang.

Maka, cara paling langsung untuk mempelajari lebih lanjut adalah dengan menemukan beberapa bintang kuno tersebut. Inilah yang menjadi fokus penelitian Alexander Ji.

Bagaimana Mahasiswa Menemukannya?

Ketika Ji tiba gilirannya untuk mengajar mata kuliah lapangan astronomi tingkat sarjana ia menugaskan para mahasiswa untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mata kuliah tersebut berfokus pada pengamatan ilmiah aktual.

Kelas tersebut menyisir katalog bintang yang dibuat oleh Sloan Digital Sky Survey, mencari bintang-bintang dengan petunjuk pembacaan anomali. Karena dibutuhkan waktu untuk membangun akumulasi unsur berat, maka semakin sedikit unsur berat yang dimiliki suatu bintang, semakin tua bintang tersebut.

Para mahasiswa mengidentifikasi beberapa bintang kandidat. Kemudian, selama liburan musim semi 2025, kelas tersebut melakukan perjalanan ke Teleskop Magellan di Observatorium Las Campanas milik Carnegie Science, yang terletak di pegunungan terpencil di Chile.

Pada malam pertama di sana, para mahasiswa mulai memindai bintang-bintang kandidat yang telah mereka identifikasi. Di pagi hari, mereka mendapat firasat ada sesuatu yang tidak beres.

"Saya rasa kita masih memiliki satu atau dua bintang lagi yang tersisa dalam pengamatan, tetapi sementara itu (asisten pengajar Hillary Diane Andales) sedang melakukan analisis awal terhadap apa yang telah kita kumpulkan sejauh ini," kata Natalie Orrantia, seorang mahasiswa tahun keempat.

Tim mengalokasikan beberapa jam pada malam berikutnya untuk mengamati bintang tersebut dan mengumpulkan semua data yang mereka bisa untuk mendapatkan pembacaan yang jelas.

Selama kuartal berikutnya, kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan mulai menganalisis data dan menulis makalah ilmiah, yang akhirnya diterima di jurnal Nature Astronomy. Mereka juga mempresentasikan temuan mereka kepada seluruh kolaborasi Sloan Digital Sky Survey.

Bintang tersebut diberi nama SDSS J0715−7334. Letaknya sekitar 80.000 tahun cahaya dari kita.

Berdasarkan analisis tim, bintang tersebut hanya memiliki setengah jumlah unsur berat yang diukur pada pemegang rekor sebelumnya. Fakta ini menjadikannya bintang tertua yang diketahui dengan selisih yang cukup besar. Mereka juga menemukan bintang tersebut adalah imigran galaksi, yang awalnya terbentuk di tempat lain tetapi saat ini ditarik ke Bima Sakti.

Temuan ini juga menjelaskan mengapa generasi bintang selanjutnya tumbuh lebih kecil daripada generasi pertama. Sebelumnya, para ilmuwan memiliki dua teori utama yaitu keberadaan unsur-unsur berat dan debu kosmik (partikel padat, seperti jelaga atau silikat).

"Debu itu ada di mana-mana di alam semesta sekarang, tetapi kami tidak yakin apakah debu itu ada pada saat itu," jelas seorang mahasiswa pascasarjana di UChicago dan salah satu penulis studi tersebut, Pierre Thibodeaux.

"Jika ada debu, itu dapat menyebabkan gas terfragmentasi menjadi gumpalan, dan kemudian Anda mendapatkan beberapa bintang yang lebih kecil daripada satu bintang besar," imbuhnya.

Penemuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Astronomy dengan judul "A nearly pristine star from the Large Magellanic Cloud" dan diterbitkan 3 April 2026.

Novia Aisyah
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.