TRIBUNJATENG.COM - Motif di balik penikaman tragis Nus Kei akhirnya terungkap sebagai aksi balas dendam atas kematian saudara pelaku di tahun 2020 silam.
Namun, aksi "mata ganti mata" ini justru membawa Hendrikus dan Finansius ke ambang hukuman mati sesuai aturan hukum yang berlaku.
Pasalnya, kedua pelaku dijerat pasal pembunuhan berencana.
Baca juga: Mengenal Sosok Hendrikus Rahayaan, Penusuk Nus Kei Ternyata Pernah Kuliah di FH Untag Semarang
Nus Kei tewas setelah menjadi korban penikaman di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara di Provinsi Maluku, Minggu (19/4/2026).
Peristiwa penikaman itu terjadi tidak lama setelah korban tiba dari Jakarta.
Saat berjalan menuju pintu keluar bandara, korban tiba-tiba diserang oleh orang tak dikenal menggunakan senjata tajam.
“Kejadiannya itu terjadi di area pintu keluar Bandara Karel Sadsuitubun,” kata Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi kepada wartawan, Minggu.
"Korban yang baru saja tiba dari Jakarta dengan pesawat, diserang oleh orang tidak dikenal menggunakan senjata tajam," tambahnya.
Setelah melalui gelar perkara intensif, kedua pelaku kini langsung dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Polda Maluku.
Langkah hukum ini diambil guna memastikan proses penyidikan berjalan transparan dan profesional.
"Sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Polda Maluku tadi malam," kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Rosita Umasugi, Selasa (21/4/2026).
Keduanya dijerat dengan pasal berlapis dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru, yakni Pasal 459 jo 20 huruf c terkait pembunuhan berencana.
Dengan jeratan ini, kedua tersangka terancam hukuman maksimal yang sangat berat.
"Ancaman hukuman terhadap kedua tersangka yakni hukuman mati, seumur hidup, atau maksimal 20 tahun penjara," tambah Rosita.
Alasan 2 Pelaku
Kasus penikaman yang menimpa Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, mengungkap latar belakang yang cukup mengejutkan dan sarat emosi.
Peristiwa tersebut diduga kuat dipicu oleh motif balas dendam yang telah lama dipendam oleh para pelaku.
Dua orang tersangka berinisial HR (28) dan FU (36) diketahui menyimpan rasa dendam mendalam terhadap Nus Kei.
Dendam itu muncul karena keduanya meyakini bahwa Nus Kei adalah sosok di balik kematian saudara mereka beberapa tahun silam.
Korban yang dimaksud adalah Fenansius Wadanubun alias Dani Holat, yang tewas dalam sebuah insiden pembunuhan pada 2020.
"Kedua pelaku dendam karena korban Nus Kei adalah otak di balik pembunuhan saudara kedua pelaku atas nama Fenansius Wadanubun Alias Dani Holat," kata Kabid Humas Polda Maluku Kombes Rosita Umasugi saat dihubungi, Senin (20/4/2026).
Berdasarkan pengakuan para pelaku, tragedi yang merenggut nyawa saudara mereka itu terjadi di wilayah Jakarta dan masih membekas hingga kini.
"(Insiden pembunuhan ke Dani Holat) terjadi pada tahun 2020 di Jakarta, samping apartemen Metro Galaxi, Kalimalang, Bekasi," ucapnya.
Baca juga: Peristiwa Lama Jadi Motif di Balik Penusukan Nus Kei, Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara Tewas
Perasaan kehilangan yang tidak terselesaikan selama bertahun-tahun akhirnya berubah menjadi aksi kekerasan yang berujung penikaman.
Saat ini, kedua pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif oleh pihak kepolisian untuk mengungkap lebih jauh rangkaian peristiwa dan memastikan seluruh fakta yang terkait dengan kasus tersebut. (*)