TRIBUNTRENDS.COM - Isu yang menyebut Panglima Kopassus, Letjen TNI Djon Afriandi, melakukan tindakan menampar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di lingkungan Istana sempat beredar luas di publik.
Kabar tersebut kemudian memicu perhatian dan spekulasi di berbagai kanal media sosial.
Namun, informasi itu segera ditepis oleh Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Satuan elite TNI Angkatan Darat tersebut menegaskan bahwa kabar yang beredar tidak benar dan tidak memiliki dasar fakta.
Kopassus memastikan bahwa peristiwa seperti yang dituduhkan sama sekali tidak pernah terjadi.
Dalam klarifikasi resminya, pihak satuan juga menyebut isu tersebut sebagai bentuk informasi palsu atau hoaks.
Baca juga: Kekayaan Seskab Teddy Meroket, Naik Rp 4,7 M dalam Setahun, Tak Punya Utang, Total Capai Rp 20 M
Pernyataan resmi itu disampaikan untuk meluruskan berbagai narasi yang dianggap menyesatkan.
Dalam keterangannya, Kopassus juga menyoroti adanya penyebaran kabar yang menyeret nama pejabat TNI serta lingkungan Istana.
"Waspada sedang beredar kabar bohong yang menyeret nama petinggi TNI dan lingkungan Istana, narasi ini mengeklaim adanya keributan Pangkopassus dan pihak protokoler."
Lebih lanjut ditegaskan pula bahwa, “Kami pastikan kabar tersebut tidak sesuai fakta,” demikian disampaikan dalam klarifikasi resmi melalui Instagram @penkopassus, Selasa (21/4/2026).
Kopassus menilai informasi yang beredar tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Selain itu, ditegaskan pula bahwa hubungan antarperwira di lingkungan satuan tetap berjalan secara profesional dan solid.
Pihak Kopassus menambahkan bahwa nilai disiplin serta etika militer senantiasa dijunjung tinggi oleh seluruh prajuritnya.
Oleh karena itu, tidak pernah ada bentuk tindakan kekerasan internal seperti yang diklaim dalam isu yang beredar di publik.
Mereka juga menyayangkan kemunculan kabar tersebut karena dinilai berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi TNI.
“Faktanya ini hanyalah karangan yang tidak memiliki bukti valid, informasi ini sengaja disebar untuk menciptakan kegaduhan dan memecah soliditas internal institusi negara,” ujar Penerangan Kopassus.
Mereka mengingatkan pentingnya verifikasi informasi sebelum disebarluaskan.
Isu tersebut disebut berpotensi memicu kesalahpahaman jika tidak segera diluruskan.
Selain itu, Kopassus memastikan mekanisme pengawasan internal berjalan dengan baik.
Setiap dugaan pelanggaran, jika ada, pasti akan diproses sesuai aturan yang berlaku.
Namun dalam kasus ini, ditegaskan tidak ditemukan adanya kejadian tersebut.
Kopassus juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya.
Media sosial diharapkan tidak menjadi sarana penyebaran kabar yang belum terverifikasi.
Klarifikasi ini diharapkan dapat meredam polemik yang berkembang.
Kopassus menegaskan komitmennya menjaga profesionalisme dan soliditas internal.
Mereka juga memastikan situasi di lingkungan satuan tetap kondusif.
Dengan adanya bantahan ini, publik diharapkan mendapatkan informasi yang lebih akurat dan berimbang.
Baca juga: Terungkap Harga Per Malam Hotel Tempat Prabowo Rayakan Ultah Seskab Teddy, Setara Harga Rumah Mewah
Sebelumnya, beredar unggahan di media sosial yang menarasikan Letjen Djon Afriandi menampar Seskab Letkol Tedy
Berdasarkan informasi yang beredar dari laman Threads, dikatakan peristiwa tersebut terjadi beberapa hari lalu.
Saat itu, Pangkopassus Letjen Djon Afriandi dijadwalkan bertemu dengan Presiden Prabowo, dengan durasi selama 30 menit.
"Singkat cerita, Djon Afriandi datang ke istana, dan yang mengatur tamu untuk ketemu Presiden, termasuk protokoler, yah si bunted," tulis keterangan di Threads, dikutip Minggu (19/4/2026).
Tetapi, setibanya di lokasi, Djon Afriandi disuruh menunggu di ruang tamu. Dengan patuh, dirinya pun menunggu.
"Menurut ordal ini, Pangkopassus nunggu sampai 20 menitan dan sisa waktu tinggal 5-10 menit tapi masih belum diminta masuk, sampai tiba-tiba Prabowo keluar dari ruang kerjanya," ungkapnya.
Melihat Djon Afriandi duduk di ruang tunggu, Presiden meradang.
"Ditegur keraslah sama Prabowo: Kau gimana ada janji bertemu saya malah duduk duduk disitu, jendral apa kau!," terangnya.
Mendapat omelan karena perintah menunggu, kontan membuat Djon Afriandi berang. "Siap bapak Presiden," ungkapnya.
Usai pertemuan dengan Presiden, Djon Afriandi merasa kalap dan akhirnya mengamuk. Dia mencari ajudan Presiden itu dan tanpa banyak basa basi langsung menampar wajahnya.
"Keluar ruangan dengan muka merah, Djon Afriandi langsung cari si bunted. Begitu ketemu tanpa basa basi langsung digampar sambil bilang, 'kamu anak kecil mainin saya hah!'," ungkapnya.
Dalam unggahan tersebut, ajudan yang disebut bunted dikatakan berasal dari Kopassus dan merupakan junior Djon Afriandi.
"Kejadian ini tidak banyak yang tahu.. Konon, cuma sampai di ring 1 istana, dan pati elit TNI (jenderal-jenderal)," sambungnya.
(TribunTrends/Bangkapos)