Curhat Pelaku Usaha Jambi: Harga Gas Nonsubsidi Naik, Terjepit Biaya dan Kompetisi
Darwin Sijabat April 22, 2026 10:11 AM

 

TRIBUNJAMBI.COM - Suasana senja di kawasan Danau Sipin, Kota Jambi biasanya ramai kini tampak hening dari canda tawa para anak muda. 

Saat lampu-lampu temaram memantul di permukaan air sebelumnya terdengar suara obrolan keluarga bercampur tawa anak muda yang mencari tempat makan “cozy” untuk sekadar melepas penat.

Namun pada Senin (20/4/2026), satu per satu kursi di sebuah Restoran ayam kekinian di pinggir danau itu kosong. 

Di sana hanya tampak pintu yang tertutup. Tak ada lagi aroma masakan ayam yang biasa menguar menggoda.

Restoran itu resmi tutup.

Bukan karena sepi mendadak, bukan pula karena kehilangan pelanggan. Tapi karena biaya yang perlahan mencekik.

“Konsumen itu-itu saja, tapi penjual makin banyak,” ujar sang pemilik, perempuan yang memilih tak disebutkan namanya.

Dia bercerita, kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi ukuran 12 kg menjadi pukulan paling telak, Selasa (21/5/2026) malam.

Dalam usaha kuliner berbasis ayam, LPG nonsubsidi bukan sekadar kebutuhan melainkan nyawa dapur.

“Gas naik, plastik naik, kertas pembungkus naik. Sementara harga jual tidak mungkin dinaikkan, saingan banyak,” katanya.

Baca juga: Pedagang Gas LPG Nonsubsidi di Jambi: Ini bukan Naik, tapi Ganti Harga

Baca juga: Duka di Arab Melayu Kota Jambi: 15 Jiwa Mengungsi dan 1 Petugas Damkar Terluka

Kenaikan harga LPG nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026 memang terasa nyata di lapangan. 

Untuk ukuran 12 kg, harga melonjak signifikan. Di sisi lain, pelaku usaha kecil tidak punya ruang untuk menyesuaikan harga.

Jika harga dinaikkan, pelanggan bisa lari ke kompetitor. Jika tidak, margin makin menipis hingga akhirnya habis.

Terjepit dari Segala Arah

Masalah yang dihadapinya tak berdiri sendiri.

Sejak Maret 2026, harga plastik, kertas pembungkus hingga karton mengalami kenaikan tajam. 

Sementara itu, bahan baku seperti kacang sudah lebih dulu naik sejak akhir 2025.

Di waktu bersamaan, geliat kuliner di Kota Jambi justru semakin ramai. 

Restoran baru bermunculan, tenant makanan di mal bertambah, event kuliner banyak digelar. Persaingan kian ketat.

“Yang jualan makin banyak, tapi pembeli segitu-segitu saja,” ujarnya lirih.

Bagi pelaku usaha, kondisi ini seperti perlombaan tanpa garis akhir. 

Bertahan berarti menambah beban. Menyerah berarti kehilangan sumber penghasilan.

Ia memilih berhenti.

Baca juga: LPG Nonsubsidi 12 Kg dan 5,5 Kg Naik, Bagaimana dengan Tabung Gas 3 Kg?

Baca juga: Sosok Mashuri, Tokoh Jambi dalam Pertemuan 4 Mantan Bupati: Jabat di Bungo 2 Periode

Untuk sementara, ia mengaku akan melihat kondisi pasar. Jika keadaan membaik, bukan tidak mungkin kembali membuka usaha.

“Tapi sekarang belum berani,” katanya.

Nasib Serupa di Pinggir Kota

Cerita serupa datang dari Kecamatan Alam Barajo.

Seorang pedagang siomay dan batagor, wanita berhijab yang juga enggan disebutkan namanya, turut menutup usahanya.

Alasan utamanya sama, PG 12 kg yang makin mahal.

“Tidak bisa nutup biaya produksi,” katanya singkat.

Berbeda dengan resto di Danau Sipin, usaha ini memang bukan sumber penghasilan utama. 

Ia menjalankan usaha hanya untuk mengisi waktu luang.

Namun tetap saja, kenaikan biaya membuat usaha itu tak lagi masuk akal untuk dilanjutkan.

Selain gas, harga bahan baku seperti kacang juga sudah naik sejak Desember lalu. 

Ditambah lagi biaya kemasan yang ikut melonjak.

Akhirnya, ia memilih berhenti. Kini, ia mengandalkan penghasilan dari gaji sang suami untuk bertahan.

Dampak yang Mulai Terlihat

Kenaikan harga LPG nonsubsidi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak global, serta konflik geopolitik yang mengganggu distribusi energi dunia, kini mulai terasa hingga ke level paling bawah: dapur usaha kecil.

Di Kota Jambi, dampaknya bukan sekadar angka di laporan keuangan. 

Tapi nyata dalam bentuk warung yang tutup, dapur yang dingin, dan mimpi usaha yang ditunda.

Bagi pelaku usaha kuliner kecil, pilihan semakin sempit. menaikkan harga dan kehilangan pelanggan, atau bertahan dengan risiko merugi.

Sebagian memilih bertahan.

Sebagian lain, seperti dua pelaku usaha ini, memilih berhenti.

Di balik setiap pintu usaha yang tertutup, ada satu cerita yang sama tentang biaya yang terus naik, dan harapan yang pelan-pelan ikut padam. (Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)

Baca juga: Gubernur Jambi Dukung Penuh Program Pertanian, Al Haris: Harus Nyata, Bukan Sekadar Wacana

Baca juga: Duka di Arab Melayu Kota Jambi: 15 Jiwa Mengungsi dan 1 Petugas Damkar Terluka

Baca juga: Pusaran Uang Panas Ratu Narkoba Jambi: Anak Klaim Saham & Judi Online

Baca juga: Kebakaran di Arab Melayu Kota Jambi Hanguskan 5 Rumah, 6 KK Terdampak

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.