Bermodal Nekat, Warga Teluk Gosong Kotabaru Berhasil Mengolah Ikan Murah Menjadi Bernilai ekonomis
Ratino Taufik April 22, 2026 08:50 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Miliki sumber daya alam berupa hasil laut yang melimpah, tidak serta-merta membuat masyarakat nelayan di Desa Teluk Gosong Kecamatan Pulaulaut Timur Kabupaten Kotabaru hidup memadai secara ekonomi.

Terlebih ikan tangkapan yang paling dominan adalah Selangat. Bersisik, berduri banyak dan daging terbilang sedikit, sesuai dengan ukurannya yang kecil.

Dari ikan segar ini, nelayan hanya mendapatkan Rp 2 ribu per kilogram. Jika tangkapan sedang tinggi dan pengepul terbatas untuk mengangkut, Selangkat kerap kembali dibuang begitu saja ke laut.

“Berangkat dari rasa keprihatinan inilah saya mulai mengolah Selangat,” ujar Hairiah, sosok yang banyak berperan dalam kelompok usaha Dasadaya di desa pesisir Bumi Saijaan tersebut.

Dasadaya merupakan dapur sekaligus market inovasi yang mengkreasikan produk atau potensi lokal di Desa Teluk Gosong.

Dituturkan pemudi berusia 28 tahun ini, titik awal tersebut berlangsung pada 2018. Dengan terbatasnya pengetahuan dan keterampilan, ia nekat mengolah Selangat menjadi olahan yang lebih bernilai ekonomis berupa abon ikan.

Baca juga: Dituntut 12 Tahun Penjara, Terdakwa Pembunuhan di Teluk Tiram Banjarmasin Minta Keringanan Hakim

Inisiatifnya yang sempat diremehkan orang perlahan menapaki hasil yang menggembirakan. Selangat yang kerap dinilai lauk masyarakat ekonomi rendah dan tak dilirik dibandingkan ikan laut lainnya perlahan mencuri perhatian.

Selayat hasil tangkapan nelayan dibeli, dibuang sisik, perut dan kepala, kemudian dipresto. Bahan setengah jadi ini pun ditiriskan dan kemudian diolah menjadi abon.

Menurutnya, abon yang dibuat adalah versi kekinian, dari yang dulunya disebut masyarakat lokal sebagai Iwak Rabuk. “Di sinilah kreasi jiwa muda kami kolaborasikan. Bagaimana produk ini bisa lebih menarik baik itu penyajian, cita rasa dan ketahanan untuk dipasarkan lebih luas,” ujar Hairiah, yang diwawancarai BPost menjelang peringatan Hari Kartini 21 Apri 2026.

Beberapa tahun konsisten memproduksi Abon Ikan Selangat, setidaknya dua varian rasa telah tersedia. Masing-masing original dan pedas manis. Tentunya, juga hadir dengan packaging yang menarik.

Per satu kemasan 800 gram, Abon Ikan Selangat kini dijual Rp 28 ribu. Jauh berbeda dari harga ikan yang baru ditangkap.

Dalam sekali produksi, bisa berkisar 50 hingga ratusan kilogram. Ikan itu dibersihkan belasan Gen-Z dengan upah Rp 2 ribu per kilogram. “Kami memberdayakan masyarakat,” kata Hairiah.

Masyarakat  diberdayakan untuk sejumlah usaha yang dikembangkan Hariah, baik untuk olahan kuliner, kerajian tangan hasil laut, hingga lapak yang dibukanya di Car Free Day setiap akhir pekan.

Berkat keuletan dan semangatnya inilah, Hairiah diganjar berbagai penghargaan, baik dari tingkat Provinsi Kalsel maupun nasional. Seperti Wira Usaha Sosial Muda Indonesia (Wira Bangsa) 2018 dari Kemenko PMK, Kelompok Usaha Pemuda Produktif (KUPP) 2020 dari Gubernur Kalsel dan lainnya.

Membuat inovasi saat ini, menurutnya,  jadi tantangan. Banyak anak muda enggan menggeluti karena terkesan jadul dan tidak memiliki potensi berkembang lebih baik.

Terlebih, Gen-Z cenderung lebih berminat pada hal kekinian dan waktunya banyak disita bermain gadget. Menyiasati itu, Hairiah pun menyesuaikan jam kerja agar para remaja di desanya mau bergabung dalam pengembangan dunia UMKM.

“Jadilah sepekan kami cuma produksi lima hari. Itu pun hanya sampai pukul 15.00 Wita  karena anak-anak kadang ingin nongkrong dan aktivitas lainnya,” beber Juara 1 Pemuda Pelopor Kalsel 2023 Bidang Pangan ini.

Tantangan lainnya adalah harga bahan baku yang mulai melonjak. Memang Selangat masih tersedia seperti biasa, mengikuti musim tangkapan nelayan. Namun biaya melaut naik karena keterbatasan pasokan BBM subsidi. (banjarmasinpost.co.id/muhammad tabri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.