Opini: Iman yang Terkoneksi- Menggugat Kesenjangan Digital dan Spiritual di NTT
Dion DB Putra April 22, 2026 10:19 AM

Refleksi atas Humor Bluetooth dan Konektivitas 1 Petrus 1: 1-12

Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT di Sabu Raijua
johnmhwaduneru@gmail.com

POS-KUPANG.COM - Di sebuah percakapan sederhana yang kemudian viral, seorang laki-laki mencoba memperkenalkan dirinya kepada seorang perempuan. Ia tidak membawa banyak hal. 

Ia hanya membawa satu kalimat bahasa Inggris yang ia hafal dari perangkat di tangannya: “Bluetooth device has connected successfully.” Kita tertawa. Lagu itu dinyanyikan ulang. Video itu menyebar luas. 

Tetapi jika kita jujur, itu bukan sekadar humor. Itu adalah cara paling telanjang untuk menunjukkan bahwa di banyak tempat di Nusa Tenggara Timur, orang belajar tentang dunia bukan dari pendidikan yang utuh, tetapi dari suara mesin. 

Baca juga: Opini: Kebangkitan yang Memberi Pengharapan di Tengah Luka NTT

Apa yang terdengar seperti lelucon, sesungguhnya adalah potret tentang bagaimana modernitas dibagikan secara tidak adil, bukan melalui proses yang membangun manusia, tetapi melalui serpihan serpihan pengalaman yang terputus.

Data menunjukkan bahwa sekitar 82,45 persen rumah tangga di NTT pernah mengakses internet, tetapi kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan tetap nyata (BPS, 2024). 

Secara statistik, kita bisa mengatakan NTT sudah terkoneksi. Tetapi justru di sinilah masalahnya: angka itu menciptakan rasa puas yang prematur, seolah semua sudah bergerak maju, sementara keterputusan tetap menjadi pengalaman sehari hari. 

Di banyak tempat, anak anak harus berjalan keluar rumah hanya untuk menemukan titik sinyal. 

Mereka mengerjakan tugas sekolah di pinggir jalan, di bawah pohon, atau di sudut sudut desa yang kebetulan menangkap jaringan. 

Guru mengajar dengan keterbatasan akses digital, sering kali tanpa dukungan perangkat yang memadai. 

Informasi tentang pendidikan, kesehatan dan ekonomi tidak selalu sampai tepat waktu, bahkan tidak selalu sampai sama sekali.

Di atas kertas, kita terlihat terhubung. Di dalam kehidupan nyata, banyak yang tetap hidup dalam keterputusan. Modernitas hadir, tetapi hadir tanpa tubuh. 

Ia terdengar melalui perangkat, tetapi tidak sepenuhnya bisa dihidupi sebagai pengalaman yang utuh. 

Akibatnya, yang lahir bukan kemampuan, tetapi tiruan, bukan pemahaman, tetapi pengulangan. 

Kalimat “Bluetooth device has connected successfully” menjadi simbol yang terlalu jujur untuk diabaikan. 

Ia memperlihatkan bagaimana teknologi masuk ke ruang ruang hidup masyarakat tanpa benar benar membangun jembatan antara manusia dan kesempatan. 

Perangkatnya terhubung, tetapi manusianya tetap dibiarkan mencari jalan sendiri di tengah sistem yang tidak pernah benar benar memihak. 

Di titik ini kita perlu mengatakan sesuatu yang sering kita hindari: ini bukan sekadar kesenjangan digital, ini adalah ilusi keterhubungan, ilusi yang membuat kita merasa sudah maju, padahal banyak orang tetap berjalan di tempat yang sama.

Sistem yang Tidak Pernah Berniat Adil

Masalahnya tidak berhenti pada keterbatasan akses. Ia menjadi jauh lebih serius ketika keterbatasan itu mulai diterima sebagai sesuatu yang wajar. 

Ketika anak terbiasa mencari sinyal di luar rumah, kita menyebutnya perjuangan. Ketika akses pendidikan tidak merata, kita menyebutnya keterbatasan. 

Ketika biaya koneksi menjadi beban, kita menyebutnya konsekuensi dari perkembangan. 

Tetapi jika kita jujur, semua itu bukan sekadar keadaan, itu adalah hasil dari pilihan, pilihan tentang siapa yang diprioritaskan dan siapa yang dibiarkan menunggu.

Masalahnya bukan pada lemahnya jaringan. Masalahnya ada pada sistem yang tidak pernah benar benar berniat menghubungkan semua orang secara adil. Dan kita perlu berani mengatakan lebih jauh bahwa setiap sistem yang tidak adil selalu bekerja untuk seseorang dan hampir tidak pernah bekerja untuk semua orang. 

Penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital tanpa pendekatan inklusi sosial justru memperlebar ketimpangan yang sudah ada (Djatmiko et al., 2025). 

Kesenjangan digital bukan hanya soal siapa yang memiliki akses, tetapi siapa yang mampu menggunakan, siapa yang memiliki kapasitas untuk mengolah informasi dan siapa yang akhirnya diuntungkan dari seluruh proses itu (van Dijk, 2020; Hollimon et al., 2025).

Artinya, kita tidak sedang bergerak menuju keterhubungan yang adil. Kita sedang mempercepat ketimpangan dengan wajah yang lebih modern dan lebih sulit dikenali. 

Karena itu kalimat ini menjadi penting untuk terus diingat: kita tidak kekurangan koneksi, kita kekurangan keadilan dalam koneksi. Yang lebih berbahaya adalah ketika semua ini mulai dinormalisasi. 

Ketika ketidakadilan diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari hari, ia berhenti dipertanyakan dan ketika sesuatu berhenti dipertanyakan, di situlah ia menjadi kuat dan sulit digoyahkan.

Di tengah situasi seperti ini, humor menjadi ruang yang unik. Humor Bluetooth bukan sekadar hiburan. Ia adalah bentuk kesadaran yang lahir dari pengalaman kolektif. 

Dalam perspektif James C. Scott, ini adalah bentuk resistensi diam, cara masyarakat tetap menyuarakan realitas tanpa harus berhadapan langsung dengan struktur kuasa (Scott, 1990). 

Namun kita juga perlu jujur bahwa humor tidak boleh menjadi tempat bersembunyi dari kenyataan. 

Jika kita hanya tertawa tanpa menggugat, maka kita sedang ikut merawat sistem yang membuat ketimpangan itu terus berlangsung.

Iman Menghubungkan, Dunia Memutuskan

Di tengah realitas yang kompleks ini, teks 1 Petrus justru berbicara dengan cara yang sangat berbeda. Surat ini ditujukan kepada mereka yang tersebar, terasing dan hidup di luar pusat kuasa. 

Mereka bukan kelompok yang memiliki akses atau pengaruh. Mereka hidup di pinggiran, baik secara sosial maupun politik. Namun yang mengejutkan, teks ini tidak mulai dari keterasingan mereka, tetapi dari identitas mereka. 

Mereka disebut terpilih sebelum disebut tersebar. Ini bukan sekadar penghiburan rohani. Ini adalah pembalikan radikal terhadap cara dunia memberi nilai pada manusia.

Dunia mengatakan bahwa nilai manusia ditentukan oleh akses, status dan koneksi. Iman mengatakan bahwa nilai manusia ditentukan oleh relasi yang tidak bisa diputuskan oleh sistem apa pun. 

Di sinilah ketegangan itu menjadi nyata. Jika dalam iman manusia sudah “terhubung”, mengapa dalam realitas sosial manusia tetap dibiarkan terputus? 

Jika iman berbicara tentang keterhubungan yang hidup, mengapa sistem yang kita bangun justru menghasilkan keterputusan yang terus berulang?

Dan kita harus berani mengatakan ini dengan jujur bahwa setiap sistem yang membuat sebagian manusia terus hidup dalam keterputusan bukan hanya gagal secara sosial, tetapi juga bertentangan dengan arah iman yang kita akui. 

Miroslav Volf mengingatkan bahwa identitas manusia tidak boleh ditentukan oleh struktur eksklusi, tetapi oleh relasi yang memulihkan (Volf, 1996). 

Namun dalam praktiknya, kita justru hidup nyaman di dalam sistem yang terus memisahkan. Kita mengaku percaya pada Allah yang menghubungkan manusia, tetapi kita tidak selalu merasa terganggu ketika manusia tetap tidak pernah benar benar terhubung.

Sherry Turkle menyebut kondisi ini sebagai paradoks konektivitas, yaitu situasi di mana semakin manusia terkoneksi secara digital, semakin berisiko kehilangan kedalaman relasi (Turkle, 2015). Dan kita hidup tepat di dalam paradoks itu. 

Kita lebih cemas kehilangan sinyal daripada kehilangan arah hidup. Kita lebih sibuk memastikan diri terlihat daripada memastikan hidup bermakna. Koneksi berubah menjadi standar sosial, sementara relasi berubah menjadi formalitas yang dangkal.

Ketika seorang laki laki mencoba diterima dengan menirukan suara Bluetooth, kita tidak hanya melihat kelucuan. Kita sedang melihat dunia yang telah mengganti makna koneksi. 

Koneksi tidak lagi tentang kehadiran, tidak lagi tentang relasi yang nyata, tetapi tentang memenuhi standar yang tidak semua orang punya kesempatan untuk mencapainya. Masalahnya bukan pada manusia yang berusaha, tetapi pada sistem yang menentukan syarat keterhubungan dengan ukuran yang tidak adil.

Pertanyaannya menjadi tidak nyaman, tetapi tidak bisa dihindari. Apakah kita benar benar sedang membangun keterhubungan, atau hanya menciptakan ilusi bahwa semua orang sudah terhubung? 

Apakah digitalisasi sedang membuka jalan bagi semua, atau hanya mempercepat siapa yang tertinggal? Apakah kita sungguh ingin semua orang terhubung, atau kita hanya ingin terlihat hidup di dunia yang sudah terhubung?

Pada akhirnya, iman tidak pernah dimaksudkan untuk tinggal di ruang yang aman. Ia selalu bergerak menuju yang terpinggirkan, mendekat kepada yang terputus dan menghubungkan kembali apa yang dunia biarkan terpisah. 

Max Stackhouse mengingatkan bahwa iman harus hadir dalam struktur sosial sebagai kekuatan yang membentuk kehidupan bersama (Stackhouse, 2007). Artinya, iman tidak boleh berhenti pada penghiburan, tetapi harus bergerak menuju perubahan.

Tuhan tidak pernah berbicara kepada manusia seperti mesin. Ia tidak mengatakan “connected successfully.” Ia mengenal, memanggil dan mengasihi. 

Selama masih ada manusia yang harus mencari sinyal untuk sekadar belajar, selama masih ada yang terhubung hanya di layar tetapi tetap terputus dalam hidup, maka kita belum hidup dalam dunia yang benar benar terkoneksi. 

Kita hanya hidup dalam sistem yang pandai terlihat maju, tetapi belum sungguh adil. (*)

Daftar Rujukan 

  • Badan Pusat Statistik. (2024). Persentase rumah tangga yang pernah mengakses internet dalam 3 bulan terakhir menurut provinsi.
  • Djatmiko, G. H., et al. (2025). Digital transformation and social inclusion in public services. Sustainability, 17(7), 2908. https://doi.org/10.3390/su17072908
  • Hollimon, L. A., et al. (2025). Redefining and solving the digital divide and exclusion. Frontiers in Digital Health. https://doi.org/10.3389/fdgth.2025.1508686
  • Scott, J. C. (1990). Domination and the arts of resistance: Hidden transcripts. Yale University Press.
  • Stackhouse, M. L. (2007). Public theology and political economy. Eerdmans.
    Turkle, S. (2015). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age. Penguin Press.
  • van Dijk, J. (2020). The digital divide. Polity Press.
  • Volf, M. (1996). Exclusion and embrace. Abingdon Press.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.