TRIBUNNEWS.COM - Leicester City secara resmi menyusul Sheffield Wednesday sebagai dua tim yang telah terdegradasi dari Divisi Championship ke League One musim depan.
Kepastian tersebut didapat setelah Leicester City bermain imbang melawan Hull City, Rabu (22/4/2026) dinihari tadi.
Bermain di King Power Stadium yang merupakan kandangnya sendiri, Leicester City cuma bisa bermain imbang 2-2.
Sempat tertinggal terlebih dahulu oleh gol Liam Millar pada menit ke-18.
Leicester City sempat mampu menyamakan skor hingga membalikkan keadaan pada awal babak kedua.
Gol balasan dari Jordan James (52') dan Luke Thomes (54') membuat Leicester City berbalik memimpin 2-1.
Sayangnya, keunggulan Leicester City kembali sirna setelah Oli McBurnie mencetak gol pada menit ke-63.
Skor akhir 2-2 pun mewarnai drama pertandingan Leicester City vs Hull City di pekan ke-44 Divisi Championship tersebut.
Gegara hasil imbang ini, Leicester City sudah dipastikan bakal turun kasta lagi, dari Championship ke League One.
Dengan koleksi 42 poin, nasib Leicester City sebagai tim yang berada di posisi dua terbawah, mustahil diselamatkan.
Dikatakan demikian.
Karena dengan menyisakan dua laga lagi, Leicester City sudah mustahil menjangkau posisi ke-21 yang ditempati Blackburn Rovers yang menjadi batas aman terakhir lolos dari zona merah.
Dengan demikian, Leicester City bakal bermain di League One musim depan.
Kenyataan pahit tersebut jelas menjadi pukulan telak khususnya bagi para penggemar Leicester City.
Hal ini mengingat sepuluh tahun lalu, Leicester City sempat mengukir dongeng indah dengan menjuarai Liga Inggris bersama pelatih Claudio Ranieri.
Hanya saja, setelah 10 tahun, Leicester City harus menerima kenyataan pilu terdegradasi ke kasta ketiga sepak bola Inggris.
Baca juga: Kejatuhan Leicester City di Inggris: Jawara EPL Tak Berbekas, The Foxes Terancam ke League One
Berbagai reaksi tidak percaya dan sulit diterima pun mewarnai kejatuhan fatal Leicester City hingga turun ke League One.
Tak sedikit pihak yang menyebut terdegradasinya Leicester City ke League One, setelah dua musim lalu, berkompetisi di Liga Inggris, terasa sulit dimaafkan.
Bahkan, ada pula yang menganggap momen pahit ini sebagai bencana bagi Leicester City yang diketahui punya salah satu tempat latihan terbaik di Inggris hingga Eropa.
Pertama, kritikan datang dari sosok Courtney Sweetman-Kirk, mantan pesepakbola wanita yang kini jadi pundit.
Courtney Sweetman-Kirk merasakan kejatuhan Leicester City sebagai bencana besar bagi para penggemar The Foxes.
"Aku tidak percaya dengan apa yang telah kulihat musim ini," kata Courtney Sweetman-Kirk dilansir Sky Sports.
"Saya tahu para pemain peduli sampai batas tertentu, tetapi ketika saya melihat konsistensi mereka sepanjang musim, mereka tidak cukup peduli, itulah kenyataannya,"
"Pihak yang saya kasihani jelas para penggemar dan staff serta orang-orang yang kemungkinan besar akan kehilangan pekerjaan mereka,"
"Sejujurnya saya tidak tahu kemana arah klub ini, saya khawatir dengan kondisi klub ini,"
"Bakal kemana arahnya, karena sekali lagi, saya pikir ini merupakan bencana," tukasnya.
Hal senada juga disampaikan Curtis Davies yang juga merupakan pundit Sky Sport Football di acara yang sama.
Ia sepenuhnya tidak percaya bahwa Leicester City harus berada di titik sekritis ini.
"Aku tidak percaya kita berada disini (red:studio) untuk menyaksikan momen ini, Leicester benar-benar tampil di bawah ekspetasi," kritiks Curtis Davies.
"Secara individu dan kolektif, mereka belum mencapai level yang kami harapkan dari kelompok pemain tim ini,"
"Ini sangat menyedihkan, apalagi ini adalah tim yang promosi ke Liga Inggris dua tahun lalu, dengan pemain serupa, jelas sangat menyakitkan bagi para penggemar,"
"Mereka mungkin akan mendominasi League One musim depan, tetapi jika para pemain tidak ingin berada di sana?,"
"Maka, pembangunan kembali tim ini rasanya akan sangat besar," kritiknya.
Jika menilik sejarahnya sejak Leicester City pertama kali didirikan pada tahun 1884 alias 142 tahun.
The Foxes dipastikan akan bermain di League One alias divisi ketiga sepak bola Inggris untuk kedua kalinya dalam sejarah.
(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)