Harga Gas Non Subsidi Naik, Warga Mulai Beralih ke Gas Melon 3 Kg
Sesri April 22, 2026 01:20 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -- Kenaikan harga LPG non subsidi memunculkan keresahan di tengah masyarakat. 

Tanpa banyak sosialisasi, harga gas ukuran 5 kilogram dan 12 kilogram melonjak cukup signifikan, bahkan mencapai puluhan ribu rupiah per tabung.

Sejumlah warga mengaku tidak lagi mampu membeli LPG non subsidi karena harganya yang terus naik. 

Kondisi ini mendorong mereka beralih ke gas subsidi ukuran 3 kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon.

Peralihan tersebut kini mulai terlihat di lapangan. Permintaan gas subsidi meningkat dalam beberapa hari terakhir, baik dari kalangan rumah tangga maupun pelaku usaha kecil.

Erdin, salah seorang warga Delima Pekanbaru mengaku terpaksa beralih ke gas subsidi karena harga LPG non subsidi sudah tidak terjangkau. 
Sebelumnya ia menggunakan gas 5,5 kilogram, namun kini memilih gas melon agar pengeluaran rumah tangga bisa ditekan.

Hal serupa disampaikan warga lainnya Sari. Ia menilai kenaikan harga gas non subsidi sangat memberatkan, terlebih di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Baca juga: Gas LPG Non Subsidi Naik, Pertamina Perketat Pengawasan di Riau

Baca juga: Harga Sudah Naik, Ini Daftar Harga Terbaru Gas LPG 12 Kg dan 5,5 Kg di Provinsi Riau

Tak hanya rumah tangga, pelaku usaha kecil juga ikut terdampak. Fadli, pedagang nasi goreng, mengatakan sebelumnya ia menggunakan gas LPG ukuran 12 kilogram untuk usahanya, agar bisa tahan lama dan tidak terlalu sering diganti.

Namun sejak harga gas non subsidi terus naik, ia terpaksa beralih ke gas subsidi agar biaya operasional tetap bisa ditekan. 

Menurutnya, jika tetap menggunakan gas non subsidi, keuntungan yang didapat akan semakin menipis.

Di sisi lain, peningkatan permintaan gas subsidi membuat stok di tingkat pangkalan dan pengecer semakin cepat habis. 

"Kalau di pangkalan habis, beli di pengecer. Kini harga di pengecer juga sudah mulai naik 1.000 atau 2.000. Mau tidak mau ya beli," ujar Fadli.

Erni, pemilik pangkalan di Jalan Cipta Karya, mengaku saat ini gas melon jauh lebih cepat habis dibandingkan biasanya. 

Ia menyebut, dalam waktu singkat stok yang datang bisa langsung ludes dibeli masyarakat.

Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab lonjakan tersebut. Namun ia merasakan adanya peningkatan jumlah pembeli dalam beberapa hari terakhir.

"Sekarang memang lebih cepat habis. Kalau dulu masih bisa bertahan dalam empat hari, sekarang cepat sekali kosong," ujarnya.

Kondisi ini juga berdampak pada distribusi gas subsidi yang terasa semakin ketat di lapangan. Sejumlah warga bahkan harus berkeliling untuk mendapatkan gas melon.

Selain itu, di beberapa titik harga gas subsidi juga mulai merangkak naik di atas harga eceran tertinggi akibat tingginya permintaan.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini bergantung pada gas subsidi untuk kebutuhan sehari-hari.

(Tribunpekanbaru.com/Alexander)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.