Romo Wilfrid Ubah Riipua "Kampung Krisis Air" Jadi Kampung Kreatif dan Mandiri di Sikka
Hilarius Ninu April 22, 2026 04:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Cristin Adal

TRIBUNFLORES.COM,  MAUMERE- Selama puluhan tahun, warga Kampung Riipua di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, hidup dalam belenggu krisis air bersih. 

Tekanan ekonomi dan sosial akibat sulitnya akses air tidak hanya menguras isi dompet, tetapi juga mengikis rasa bangga warga terhadap tanah kelahirannya sendiri, hingga memicu arus migrasi ke luar wilayah.

Namun, wajah kampung itu kini mulai bersalin rupa. Melalui inisiatif "Kampung Kreatif Riipua" yang diinisiasi oleh RD. Dr. Wilfrid Valiance, S.S., M.Si, warga mulai menata kembali kemandirian ekonomi mereka. Perubahan ini diawali dari satu langkah fundamental: mendatangkan air dari sumber sejauh 3 kilometer.

Baca juga: Riipua dari Kampung Tandus Menjadi Pusat Kreativitas dan Agrowisata di Sikka Berbasis Komunitas

Memutus Belenggu Psikologis

Sebagai seorang doktor di bidang sosiologi politik sekaligus dosen Psikologi Universitas Nusa Nipa (Unipa), Wilfrid mendeteksi adanya persoalan psikologis yang mendalam pada masyarakat Riipua. 

"Mengapa orang Riipua tidak betah di kampung? Karena tidak ada rasa bangga. Secara sosiologis dan geografis, ini kampung yang dianggap 'tidak ada' karena kekurangan sumber daya, terutama air," ujarnya dalam bincang Flores Bicara, Kamis (16/4/2026).

Wilfrid menggunakan pendekatan yang disebutnya sebagai soft movement (gerakan lunak). Alih-alih melakukan protes atau tuntutan keras, ia memilih mengirimkan pesan-pesan perubahan melalui ranah rohani dan budaya. 

Ia menginisiasi musyawarah kampung yang bersifat inklusif, melampaui struktur formal gereja, untuk menyatukan visi warga.

"Air adalah titik start kami. Dulu, warga harus menghabiskan sekitar Rp 200.000 per bulan untuk membeli air tangki. Secara kolektif, satu kampung bisa mengeluarkan Rp 40 juta per bulan. Sekarang, air mengalir ke rumah-rumah dengan harga hanya Rp 200 per liter. Ini adalah pembebasan," tegas Wilfrid.

Baca juga: Agrowisata Inpekma, Menikmati Kuliner dengan Pemandangan Tanaman Hortikultura di Maumere

Pemberdayaan Perempuan dan Ekonomi Kreatif

Salah satu eksperimen sosial yang menarik dalam gerakan ini adalah penyerahan otoritas pengelolaan air kepada perempuan. Saat ini, 10 Komunitas Basis Gereja (KBG) di Riipua dipimpin oleh perempuan yang juga memegang kendali atas distribusi air bersih. 

Romo Wilfrid menilai, dalam masyarakat patriarkis, memberikan peran strategis kepada perempuan terbukti menciptakan pola kepemimpinan yang lebih mengayomi dan transparan.

Kehadiran air kemudian memicu geliat ekonomi baru melalui agrowisata. Di lahan seluas 2.500 meter persegi, sekitar 46 keluarga kini mengembangkan family garden. 

Mereka tidak lagi hanya bertani untuk konsumsi, tetapi juga untuk edukasi dan daya tarik wisata. Tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan paria mulai dipanen dan dipasarkan secara lokal.

"Mindset pertanian kita pelan-pelan diubah. Pertanian tidak boleh membosankan. Melalui agrowisata, orang muda mulai kembali ke kebun. Mereka bangga karena kebunnya dikunjungi orang dan menjadi tempat wisata," katanya.

Menuju Hilirisasi dan Kemandirian

Meski hulu produksi mulai bergerak, Wilfrid menekankan pentingnya hilirisasi. Ia mendorong warga untuk tidak sekadar menjual bahan mentah, tetapi memberikan nilai tambah melalui pengemasan dan pelabelan yang profesional.

Rencana besar berikutnya adalah pembangunan Sentra Kampung Kreatif di lahan seluas 3.000 meter persegi. Pusat ini akan dinamai Pelataran Inanonamapeke diambil dari nama legenda masyarakat Sikka yang akan menjadi ruang pertunjukan seni budaya, pujasera, dan kafe.

Bagi Wilfrid, Kampung Kreatif Riipua bukanlah sekadar gerakan ekonomi, melainkan gerakan pastoral yang membebaskan. 

"Ini adalah cara umat menyatakan imannya. Bahwa sebagai ciptaan Tuhan, kita bermartabat dan mampu bangkit dari belenggu kesulitan ekonomi dan sosial," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.