TRIBUNPAPUABARAT.COM, KAIMANA – Kabut tipis masih menggantung di atas sungai berliku Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana Papua Barat.
Di atas perahu kecil bermesin, seorang guru muda menatap jauh ke depan, menuju kampung tempat ia mengabdikan diri.
Namanya Alexander Lakotani, sosok yang sejak 2019 memilih jalan sunyi "menjadi guru di pedalaman Papua Barat".
Perjalanan menuju Yamor bukan perkara mudah. Dari Kota Kaimana, Alexander harus berangkat subuh, berharap cuaca bersahabat agar bisa tiba di malam hari. Sungai berliku, kayu hanyut, hingga mesin perahu yang kadang bermasalah menjadi tantangan sehari-hari.
“Kalau cuaca tidak bagus, kita bisa bermalam di perjalanan,” kenangnya.
Awal kariernya dimulai sebagai guru honorer di SMP YPK Rehobot pada 2017. Dua tahun kemudian, ia dipindahkan ke SD YPK Gariauw di Kampung Urubika, Distrik Yamor. Di sana, ia mengabdi lebih dari lima tahun, hidup berdampingan dengan masyarakat tanpa listrik, tanpa sinyal telepon, dan tanpa internet.
Tahun 2020 menjadi fase terberat. Selama hampir setahun penuh, Alexander tetap mengajar meski belum menerima gaji karena keterlambatan SK.
“Dari Januari sampai Desember saya tetap mengajar, walaupun tidak ada gaji,” katanya.
Baginya, panggilan hati lebih kuat daripada sekadar imbalan.
Baca juga: Guru dan Tenaga Kesehatan di Yamor Kembali Bertugas, Kapolres Kaimana Pastikan Situasi Aman
Di sela mengajar, Alexander menjalani kehidupan sederhana, yakni berburu di hutan, memasang jerat, memenuhi kebutuhan hidup. Bersama warga, ia menginisiasi berbagai kegiatan, dari lomba futsal hingga turnamen sepak bola antar kampung.
“Antusias masyarakat luar biasa. Semua ikut terlibat, dari anak-anak sampai orang tua,” ujarnya.
Ia bahkan pernah berjalan kaki enam hingga tujuh jam bersama warga menuju kampung terpencil Wusukonu, demi menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Setelah lulus seleksi PPPK pada 2024, Alexander dipindahkan ke SD Negeri Ure, masih di Distrik Yamor. Meski sudah ada listrik dan jaringan komunikasi, akses jalan menuju ibu kota distrik tetap lumpuh. Untuk keluar masuk, ia harus melintasi sungai Jepre dengan speed boat, lalu berjalan kaki sejauh 3–4 kilometer.
Harga kebutuhan sehari-hari pun jauh lebih tinggi. Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa mencapai Rp25 ribu per liter, berdampak langsung pada biaya transportasi dan kehidupan masyarakat.
Baca juga: Nakes dan Guru Diungsikan Sementara dari Yamor, Bupati Hasan Imbau Warga Tak Terprovokasi
Di balik semua keterbatasan, Alexander menyimpan harapan sederhana: perhatian lebih dari pemerintah.
Ia berharap ada perbaikan akses jalan, peningkatan fasilitas pendidikan, serta dukungan bagi tenaga guru dan masyarakat di Yamor.
“Selama masih bisa mengajar, saya akan tetap bertahan,” ucapnya pelan.
Kisah Alexander Lakotani adalah potret nyata dedikasi seorang guru di pedalaman Papua Barat. Tentang ketulusan, perjuangan, dan cinta terhadap pendidikan yang tak pernah padam.
Di tengah sunyi tanpa sinyal, di antara sungai berliku dan hutan lebat, ia terus menyalakan harapan kecil bagi masa depan Papua Barat.