TRIBUNNEWSDEPOK.COM, SUKABUMI — Sejak 19 Februari lalu, duka menyelimuti wilayah Bantargadung, Sukabumi, Jawa Barat.
Pergerakan tanah ekstrem menyebabkan ratusan rumah ambles hingga kedalaman lima meter, memaksa warga bertahan di pengungsian.
Namun, di tengah tanah yang masih labil dan bergerak, sebuah secercah harapan emas justru hadir membawa isak tangis bahagia.
Sebuah program amal berskala dunia, 100 CTFP Happiness Golden Hope, turun langsung menyambangi tenda-tenda pengungsian.
Inisiatif yang lahir dari Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF) ini membawa misi khusus: memberikan perlindungan masa depan bagi perempuan berkebutuhan khusus yang menjadi tulang punggung keluarga.
Momen Mengharukan "6 Kartini Bantargadung"
Kehadiran yayasan ini bermula dari informasi relawan 100 CTFP, Paula Meliana, kepada pendiri MMLWF, Natalia Tjahja, mengenai kondisi tragis di Bantargadung.
MMLWF langsung bergerak ke lokasi dan memilih enam perempuan hebat penyandang disabilitas sebagai simbol ketangguhan, yang kemudian dijuluki "6 Kartini Bantargadung".
Puncak keharuan terjadi saat pembagian bantuan berupa emas dan tabungan emas. Empat perempuan penerima emas tersebut adalah:
Suasana seketika haru biru ketika Natalia Tjahja menempelkan kepingan emas tersebut tepat di atas perut Elis. Air mata Elis tumpah. Sambil terisak, ia mengucap syukur; meski rumahnya telah raib ditelan bumi, ia kini memiliki simpanan emas untuk menyambut kelahiran sang buah hati.
Sementara itu, dua penerima lainnya mendapatkan bantuan kursi roda, yakni Waliti, yang selama ini harus selalu digendong untuk beraktivitas, dan Yayu (yang diwakilkan karena berhalangan hadir).
Kolaborasi Kebaikan dari Tokoh Global hingga Warga Lokal
Program 100 CTFP (100 Celebrities Talk for Para Athletes) sendiri melibatkan tokoh dunia, salah satunya Presiden International Paralympic Committee, Andrew Parsons.
Setelah sukses dengan Paralympic Winter Games Milan Cortina 2026, Parsons menjadi salah satu penggerak awal gerakan inspiratif ini, yang kini meluas dari Bali, Parung, Pekalongan, Banda Aceh, Langsa, Sleman, hingga ke Sukabumi.
Di Bantargadung, kebahagiaan tidak hanya dirasakan oleh 6 Kartini. Berbagai pihak turut menyalurkan bantuan:
Papin, perwakilan warga Cijambe, mengungkapkan rasa syukurnya. Bantuan ini membawa kebahagiaan luar biasa di tengah kondisi warga yang masih mengungsi.
"Kami berharap akan ada lebih banyak dermawan yang tergerak hatinya," kata Papin di Sukabumi, Selasa (21/4/2026).
Diwarnai Insiden Mencekam di Jalan Tol
Kegiatan kemanusiaan ini turut digerakkan oleh generasi muda dari berbagai belahan dunia, dipimpin oleh Jadrianna Aletta Sutrisno (Jakarta), bersama relawan dari Italia, Kroasia, LA, Taiwan, hingga Melbourne, serta didukung sponsor seperti Bentani Hotel Cirebon, Amigos, Papa Ron's, Horappa Semarang, dan Meliana Decoration.
Namun, misi mulia ini tak lepas dari ujian. Dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, rombongan MMLWF mengalami peristiwa menegangkan.
Ban depan kendaraan mereka pecah di jalan tol saat melaju kencang—sebuah insiden yang berpotensi memicu kecelakaan fatal. Beruntung, seluruh penumpang selamat tanpa luka.
“Terima kasih Tuhan, kami semua dalam keadaan baik,” ungkap Natalia Tjahja dengan lega.
Meski masih diliputi ketegangan dan rasa syok, Natalia mencoba menenangkan diri dengan menonton serial favoritnya, Terikat Janji, selama sisa perjalanan.
Bencana di Bantargadung menjadi bukti nyata betapa rapuhnya kehidupan, namun juga menunjukkan kekuatan solidaritas antarmanusia. Di atas tanah yang mungkin masih bergerak, harapan warga kini dibiarkan tetap hidup.
“Kita semua hanya bergantung dan berharap kepada Tuhan,” tutup Natalia.