Rumah Ambles Ditelan Bumi, Ibu Hamil di Bantargadung Sukabumi Dapat Kejutan Emas di Tengah Bencana
Hironimus Rama April 22, 2026 06:35 PM

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, SUKABUMI — Sejak 19 Februari lalu, duka menyelimuti wilayah Bantargadung, Sukabumi, Jawa Barat.

Pergerakan tanah ekstrem menyebabkan ratusan rumah ambles hingga kedalaman lima meter, memaksa warga bertahan di pengungsian.

Namun, di tengah tanah yang masih labil dan bergerak, sebuah secercah harapan emas justru hadir membawa isak tangis bahagia.

Sebuah program amal berskala dunia, 100 CTFP Happiness Golden Hope, turun langsung menyambangi tenda-tenda pengungsian.

Inisiatif yang lahir dari Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF) ini membawa misi khusus: memberikan perlindungan masa depan bagi perempuan berkebutuhan khusus yang menjadi tulang punggung keluarga.

Momen Mengharukan "6 Kartini Bantargadung"

Kehadiran yayasan ini bermula dari informasi relawan 100 CTFP, Paula Meliana, kepada pendiri MMLWF, Natalia Tjahja, mengenai kondisi tragis di Bantargadung.

Bumil di Sukabumi
BAKTI SOSIAL - Momen mengharukan ketika Natalia menempelkan emas ke perut Elis, seroang ibu hamil yang kehilangan rumah karena bencana tanah bergerak, di Bantargadung, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026).

MMLWF langsung bergerak ke lokasi dan memilih enam perempuan hebat penyandang disabilitas sebagai simbol ketangguhan, yang kemudian dijuluki "6 Kartini Bantargadung".

Puncak keharuan terjadi saat pembagian bantuan berupa emas dan tabungan emas. Empat perempuan penerima emas tersebut adalah:

  • Nong: Tuna rungu dengan kelainan pada wajah, namun tetap tangguh menjadi tulang punggung keluarga.
  • Marni: Perempuan dengan kelainan pada tangan yang tak kenal lelah menopang ekonomi keluarganya.
  • Diah: Tuna rungu yang bekerja serabutan demi menghidupi keluarga.
  • Elis: Seorang ibu yang tengah mengandung.

Suasana seketika haru biru ketika Natalia Tjahja menempelkan kepingan emas tersebut tepat di atas perut Elis. Air mata Elis tumpah. Sambil terisak, ia mengucap syukur; meski rumahnya telah raib ditelan bumi, ia kini memiliki simpanan emas untuk menyambut kelahiran sang buah hati.

Sementara itu, dua penerima lainnya mendapatkan bantuan kursi roda, yakni Waliti, yang selama ini harus selalu digendong untuk beraktivitas, dan Yayu (yang diwakilkan karena berhalangan hadir).

Kolaborasi Kebaikan dari Tokoh Global hingga Warga Lokal

Program 100 CTFP (100 Celebrities Talk for Para Athletes) sendiri melibatkan tokoh dunia, salah satunya Presiden International Paralympic Committee, Andrew Parsons.

Setelah sukses dengan Paralympic Winter Games Milan Cortina 2026, Parsons menjadi salah satu penggerak awal gerakan inspiratif ini, yang kini meluas dari Bali, Parung, Pekalongan, Banda Aceh, Langsa, Sleman, hingga ke Sukabumi.

Di Bantargadung, kebahagiaan tidak hanya dirasakan oleh 6 Kartini. Berbagai pihak turut menyalurkan bantuan:

  • Kebutuhan Pokok & Busana: Sembako, pakaian indah, serta 6 tas anyaman dari Siti Marifah Ma'ruf Amin (Ketua MUI Bidang Perempuan dan Keluarga).
  • Pakaian & Makanan: Pembagian 200 kaos "Road to Give" dari Marriott Business Council Jakarta dan makanan ringan dari GarudaFood.
  • Pemberdayaan Lokal: MMLWF sengaja tidak membawa konsumsi dari Jakarta, melainkan memberdayakan warga setempat untuk memasak, agar roda ekonomi desa tetap berputar.
  • Fasilitas Ibadah: Pemberian karpet masjid baru dari 100 CTFP Nisa Sakera.

Papin, perwakilan warga Cijambe, mengungkapkan rasa syukurnya. Bantuan ini membawa kebahagiaan luar biasa di tengah kondisi warga yang masih mengungsi.

"Kami berharap akan ada lebih banyak dermawan yang tergerak hatinya," kata Papin di Sukabumi, Selasa (21/4/2026).

Diwarnai Insiden Mencekam di Jalan Tol

Kegiatan kemanusiaan ini turut digerakkan oleh generasi muda dari berbagai belahan dunia, dipimpin oleh Jadrianna Aletta Sutrisno (Jakarta), bersama relawan dari Italia, Kroasia, LA, Taiwan, hingga Melbourne, serta didukung sponsor seperti Bentani Hotel Cirebon, Amigos, Papa Ron's, Horappa Semarang, dan Meliana Decoration.

Namun, misi mulia ini tak lepas dari ujian. Dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, rombongan MMLWF mengalami peristiwa menegangkan.

Ban depan kendaraan mereka pecah di jalan tol saat melaju kencang—sebuah insiden yang berpotensi memicu kecelakaan fatal. Beruntung, seluruh penumpang selamat tanpa luka.

“Terima kasih Tuhan, kami semua dalam keadaan baik,” ungkap Natalia Tjahja dengan lega.

Meski masih diliputi ketegangan dan rasa syok, Natalia mencoba menenangkan diri dengan menonton serial favoritnya, Terikat Janji, selama sisa perjalanan.

Bencana di Bantargadung menjadi bukti nyata betapa rapuhnya kehidupan, namun juga menunjukkan kekuatan solidaritas antarmanusia. Di atas tanah yang mungkin masih bergerak, harapan warga kini dibiarkan tetap hidup.

“Kita semua hanya bergantung dan berharap kepada Tuhan,” tutup Natalia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.