TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah menilai industri otomotif nasional masih menyimpan potensi besar, baik dari sisi kapasitas produksi maupun pasar.
Berdasarkan data industri, terdapat 24 pabrikan kendaraan roda empat dan 52 pabrikan roda dua dan roda tiga di Indonesia, dengan berbagai model bisnis, termasuk manufaktur penuh hingga skema maklon.
Dari sisi kapasitas, industri roda empat nasional bahkan mampu memproduksi hingga 2,5 juta unit per tahun, meski realisasi produksi masih jauh di bawah angka tersebut.
Baca juga: BYD Hentikan Impor, Penjualan Mobil Listrik Akan Disuplai dari Pabrik Subang Jabar
"Ini kalau kita lihat kapasitas kendaraan untuk produksi di Indonesia, passenger car itu sampai dengan 2,5 juta unit. Ini produksi kita mencapai 1,2 juta," tutur Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta dalam agenda Forum Wartawan Industri "Bincang-bincang Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle (EV)", Kementerian Perindustrian, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (22/4/2026).
Sayangnya, dari potensi kapasitas produksi tersebut, penjualan mobil dalam negeri hanya 803.687 unit secara wholesale menurut data Gaikindo, menurun sekitar 7,2 persen dibandingkan 2024.
Di tengah perlambatan penjualan domestik, Indonesia justru mulai menunjukkan peran sebagai basis ekspor kendaraan, seiring masuknya investasi baru dan pergeseran teknologi menuju kendaraan listrik.
Produksi kendaraan roda empat tercatat sekitar 1,14 juta unit pada 2025, dengan penjualan domestik sekitar 800.000 unit. Sisanya ditopang oleh ekspor yang mencapai ratusan ribu unit.
"Di saat kita pasar mungkin ada penurunan, tapi satu sisi mulai menunjukkan keunggulan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor untuk kendaraan roda empat," terang Setia.
Baca juga: BYD Prediksi 30.000 Kendaraan Listrik Digunakan untuk Mudik Lebaran 2026
Menurutnya, lonjakan ekspor dari sekitar 300.000 unit menjadi lebih dari 500.000 unit di tahun 2025 menjadi sinyal positif bahwa Indonesia mulai dipercaya sebagai hub produksi global.
Di sisi lain, transformasi menuju kendaraan listrik juga mulai terlihat. Pangsa pasar mobil listrik pada tahun lalu mencapai sekitar 12,9 persen, sementara jika digabung dengan teknologi hybrid dan plug-in hybrid, angkanya mendekati 22-23 persen.
Perpindahan minat konsumen Indonesia ke mobil listrik juga didorong oleh situasi geopolitik yang memengaruhi suplai energi dunia, sehingga membuat harga bahan bakar naik signifikan.
"Artinya apa? Ini sudah ada pergeseran paradigma sendiri di masyarakat bahwasanya butuh kendaraan yang memang hemat energi," ucap Setia.