TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Penyelidikan mendalam terhadap kasus nekatnya siswi kelas 6 SD berinisial KA (13) yang melompat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan kini mengarah pada dugaan pengaruh konten gim daring.
Hasil analisis digital forensik yang dilakukan pihak kepolisian menemukan indikasi kuat bahwa aksi berbahaya tersebut terinspirasi dari tren karakter utama dalam gim online berjudul Omori.
Kanit Reskrim Polsek Denpasar Selatan, Iptu Azel Arisandi, mengungkapkan bahwa petunjuk tersebut ditemukan setelah penyidik menelusuri jejak digital pada telepon seluler milik korban.
Baca juga: KRONOLOGI LENGKAP Siswi SD Terjun dari Lantai 3 Pasar Serangan, Bukan Perayaan Ulang Tahun
Diketahui, lagu yang digunakan KA dalam video joget sebelum kejadian adalah soundtrack resmi dari gim tersebut.
"Dari hasil penyelidikan digital forensik, lagu yang digunakan oleh korban untuk joget seperti pada video berjudul 'My Time' oleh Bo En," kata Iptu Azel kepada Tribun Bali.
"Lagu tersebut merupakan lagu yang digunakan pada gim Omori," sambungnya.
Iptu Azel menjelaskan bahwa dalam alur gim Omori terdapat sebuah adegan tragis di mana karakter utamanya melompat dari atas sebuah gedung.
Baca juga: Kronologi Aksi Nekat Siswi SD Lompat dari Lantai 3 di Serangan, Dikaitkan dengan Lokasi Angker
Berdasarkan analisis sementara, polisi menduga kuat bahwa korban berusaha membuat konten atau mengikuti tren yang sedang berkembang di kalangan pemain gim tersebut, yang kemudian dikaitkan dengan pernyataan surprise yang sempat ia lontarkan kepada teman-temannya di lokasi kejadian.
"Hasil analisa sementara, diduga korban membuat tren yang terinspirasi dari gim Omori. Gim tersebut memang memiliki adegan di mana karakter utamanya melompat dari gedung," jelasnya.
Meski temuan digital forensik sudah memberikan gambaran mengenai latar belakang tindakan korban, pihak kepolisian hingga kini belum bisa menggali keterangan secara langsung dari KA.
Baca juga: LOMPAT Dari Lantai 3 Pasar Serangan, Siswi Kelas 6 SD Alami Patah Tulang, Lokasi Dirumorkan Angker!
Kondisi fisik dan mental korban yang masih belum stabil menjadi kendala utama bagi penyidik untuk melakukan pemeriksaan resmi.
"Sampai saat ini kami belum bisa melakukan pemeriksaan terhadap korban, mengingat korban masih dalam masa pemulihan dan masih mengalami *shock* akibat kejadian tersebut," beber Iptu Azel.
Pihak Polsek Denpasar Selatan menegaskan akan terus mendalami perkembangan kasus ini guna memastikan tidak ada faktor lain yang mendorong tindakan tersebut.
Pengawasan terhadap aktivitas digital anak-anak pun kembali menjadi sorotan utama dalam peristiwa ini.
"Perkembangan lebih lanjut akan kami dalami lagi setelah kondisi korban memungkinkan untuk dimintai keterangan," pungkasnya. (*)