Imbas Sisa Material Banjir Bandang, Tim SAR Batasi Kedalaman Penyelaman Cari Bocah Hanyut di Padang
Rezi Azwar April 22, 2026 09:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Pencarian dua bocah terseret ombak di kawasan Pantai Ujung Karang, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, belum membuah hasil. Petugas juga telah melakukan penyelaman untuk pengamatan permukaan.

Petugas gabungan terus melakukan berbagai upaya dalam rangka pencarian korban terseret ombak bernama Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9), warga yang tinggal di kawasan Gunung Pangilun, Padang.

Saat pencarian, petugas hanya melakukan penyelaman secara dangkal. Petugas tidak mencapai dasar laut dalam dikarenakan mengantisipasi risiko akibat jarak pandang yang terbatas.

Penyelaman dangkal ini dilakukan difokuskan di titik terakhir korban terseret ombak saat berenang bersama dengan teman-temannya pada Sabtu (18/4/2026) lalu.

Baca juga: Radius Pencarian 2 Bocah Hanyut di Padang Diperluas, Tim SAR: Pencarian Hari Kelima Masih Nihil

Untuk penyelaman untuk mengamati area titik terakhir korban adalah permintaan pihak keluarga.

Komandan Regu (Danru) Kantor SAR Kelas A Padang, Tri Desyu, mengatakan selain penyisiran menggunakan perahu bot dan kapal nelayan, tim gabungan juga melakukan penyelaman dengan masker snorkel.

"Kami saat briefing diminta oleh keluarga korban untuk pendampingan, karena dengan ikhtiarnya, ada beberapa tempat yang dicurigai untuk dilakukan penyisiran. Jadi dalam hal ini, kita dampingi dengan masker snorkel," kata Tri usai menutup pencarian hari kelima, Rabu (22/4/2026).

Pendampingan ini berfokus untuk memonitoring tim yang beraktivitas di air, tepatnya pada permukaan laut dangkal.

Ia juga menjelaskan alasan tim gabungan tidak melakukan penyelaman ke dasar laut, dikarenakan visibility nol atau negatif (jarak pandang terbatas).

Baca juga: Turap Longsor di UIN Imam Bonjol Padang Mulai Diperbaiki, Rektor: Target Rampung September 2026

Visibility dalam konteks SAR (Search and Rescue atau Pencarian dan Pertolongan) merujuk pada jarak pandang atau tingkat kejelasan objek dapat dilihat oleh tim penyelamat di lokasi.

"Negatif, tidak bisa maksimal kita melaksanakan penyelaman. Apa yang ada di bawah laut, itu tidak bisa kita memastikannya," sebutnya.

Dengan kata lain, kondisi laut tempat hilangnya korban tidak bisa terlihat secara jelas. 

Hal ini dikarenakan air laut keruh usai material banjir bandang akhir November 2025 lalu, menumpuk di dasar laut.

"Itu bisa menyebabkan risiko tinggi terhadap tim penyelam, untuk meminimalisir hal itu tidak terjadi, kita tidak melakukan penyelaman," tegasnya.

Korban Diduga Tersangkut Kayu Sisa Banjir

PENCARIAN ORANG HILANG - Warga, Jon Lewer, memberikan keterangan di Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Rabu (22/4/2026). Jon menduga dua korban tersangkut di material kayu sisa banjir yang ada di dalam laut.
PENCARIAN ORANG HILANG - Warga, Jon Lewer, memberikan keterangan di Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Rabu (22/4/2026). Jon menduga dua korban tersangkut di material kayu sisa banjir yang ada di dalam laut. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Lokasi dua bocah yang hanyut terseret ombak di kawasan Pantai Ujung Karang, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, dipenuhi material kayu yang terbawa banjir bandang, Rabu (22/4/2026).

Hal itu disampaikan oleh warga sekitar, Jon Lawer, saat ditemui TribunPadang.com di lokasi pencarian dua korban hanyut terseret ombak.

Diketauhi bahwa dua orang bocah bernama Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9) dilaporkan terseret ombak di kawasan pantai yang berada tepatnya di belakang Universitas Bung Hatta (UBH) pada Sabtu (18/4/2026).

Petugas gabungan telah berupaya melakukan pencarian secara bersama-sama. Namun, hingga pencarian hari kelima, tanda-tanda keberadan korban belum diketahui.

Baca juga: Tak Kunjung Ditemukan, Tim Gabungan Kerahkan Penyelam Cari 2 Bocah Tenggelam di Padang

Setiap harinya, petugas terus melakukan evaluasi dan memperluas area pencarian yang juga dibantu nelayan sekitar.

Jon Lawer menyebut area korban terseret ombak dipenuhi oleh material berupa kayu dan pasir yang terbawa saat banjir bandang pada akhir November 2025 lalu.

Selain banyaknya material kayu dan sedimen pasir, beberapa karang laut juga terhampar di sekitar lokasi korban hilang.

"Iya, di sini memang banyak kayu dan pasir yang terbawa saat galodo (banjir bandang). Banyak juga kayu dan bambu yang mengapung," kata Jon memberikan keterangan di lokasi pencarian korban.

Baca juga: Hari Kelima Pencarian 2 Bocah Hanyut di Pantai Ujung Karang Padang, Nelayan Ikut Bantu Penyisiran

Ia menduga, dua korban yang belum ditemukan hingga pencarian hari kelima, diduga tersangkut di material kayu di dalam laut.

Selain itu, dugaannya terhadap korban berkemungkinan juga tersangkut di karang yang ada di tengah laut.

"Kalau dugaan saya memang tersangkut di kayu atau bambu, karena saat galodo banyak material yang terbawa ke laut ini," ujarnya.

Kata dia, lokasi hilangnya korban juga berada dekat palung laut. Masyarakat lokal maupun nelayan meyakini adanya palung tersebut sejak dahulunya.

Akan tetapi, terkait kemungkinan korban terseret ombak ke pulau terdekat di lokasi terakhir hanyut, Jon membantahnya.

Baca juga: Jadwal dan Harga Tiket Bioskop Padang Hari Ini 22 April 2026: Ada Film Michael

"Kalau palung ini kata orang tua kita dulu memang ada, tapi tidak tahu masuk ke sana, dugaan saya tersangkut di kayu. Tapi kalau terbawa ombak hingga ke pulau, saya rasa tidak, karena ini sudah pencarian hari kelima," sebutnya.

Ia sebagai warga lokal mengatakan, pada umumnya cuaca akan hujan dan badai saat ada korban hanyut.

Fenomena itu sudah muncul jelang hari kelima pencarian kata Jon, namun korban belum kunjung ditemukan.

"Seharusnya usai hujan dan badai, korban sudah ditemukan, biasanya tanda alam khususnya di laut seperti itu, saya tidak tahu juga kenapa belum ditemukan. Bisa saja memang tersangkut, meski cuaca buruk sudah muncul," tambahnya.

Jon diketahui masih bagian dari keluarga korban hanyut di sekitar Pantai Ujung Karang. Di lokasi ia juga menyusuri pinggir laut di dekat bebatuan, untuk mencari korban hanyut.

Pencarian Hari Kelima Masih Nihil

PENCARIAN ORANG HILANG- Proses pencarian korban hanyut menggunakan perahu karet tim gabungan dan perahu nelayan di hari kelima, Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Rabu (22/4/2026).
PENCARIAN ORANG HILANG- Proses pencarian korban hanyut menggunakan perahu karet tim gabungan dan perahu nelayan di hari kelima, Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Rabu (22/4/2026). (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Proses pencarian hari kelima korban hanyut di Pantai Ujung Karang, belakang kampus Universitas Bung Hatta (UBH), Kecamatan Padang Utara, Kota Padang tengah berlangsung, Rabu (22/4/2026) sore.

Korban hanyut berjumlah dua orang, identitas mereka yakni Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9), warga Gunung Pangilun.

Dua orang ini sebelumnya dilaporkan hanyut saat berenang bersama teman-temannya pada Sabtu (18/4/2026) siang lalu.

Hingga kini, pencarian belum membuahkan hasil sejak dilaporkan hilang Sabtu siang lalu.

Baca juga: Harga BBM dan Gas Elpiji Naik, Kepala BGN Jamin Kualitas Makan Bergizi Gratis Tetap Terjaga

Pantauan TribunPadang.com di lapangan sekira pukul 16.03 WIB, pencarian masih berlangsung di lokasi terakhir hilangnya korban.

Di tengah laut, tampak lima perahu karet milik tim gabungan tengah menyusuri sekitar lokasi hilangnya korban.

Selain itu, terdapat tiga kapal nelayan yang juga ikut membantu proses pencarian di hari kelima ini.

Sementara di pinggir pantai, masyarakat sangat ramai menyaksikan proses pencarian yang dilakukan oleh tim gabungan.

Baca juga: Haru dan Bahagia Warnai Pelepasan Calon Jemaah Haji dan Purna Tugas di UIN Imam Bonjol Padang

Hingga pukul 16.23 WIB, pencarian masih berlangsung di tengah cuaca panas dan terik.

Pantauan di lapangan, air laut tampak surut, batu-batu di pinggir pantai terlihat. Sebelumnya batu-batu ini sempat tertutup oleh air laut.

Di bagian tengah, air laut tampak keruh, namun ombak tak begitu besar pada pencarian hari kelima.

Meski begitu, perahu karet dan perahu nelayan terus memutari sekitar lokasi untuk mencari dua bocah tersebut.

Warga: Tiba-Tiba Ada Teriakan Minta Tolong

Upaya menyelamatkan bocah yang tenggelam kawasan Pantai Ujung Karang, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sabtu (18/4/2026), dilakukan warga, sesaat setelah mengetahui kejadian.

Mayang seorang warga yang ada di lokasi bahkan sempat melarang anak-anak yang hendak berenang saat mereka ada di pantai yang berada di belakang kampus Universitas Bung Hatta itu. 

Sebelum kejadian, dirinya sempat melihat enam orang anak berada di lokasi pantai. 

Dua orang berada di pinggir, sementara empat lainnya berada di bagian tengah laut.

“Awalnya saya melihat ada dua anak di pinggir dan empat di tengah. Tiba-tiba saya mendengar teriakan minta tolong, lalu saya lihat ke arah pantai, ternyata ada yang hanyut,” ujarnya.

Pegangan Terlepas Akibat Ombak

Berdasarkan informasi dari teman korban, dua anak yang pertama kali hanyut adalah Rasyid dan seorang lainnya yang akrab disapa Popo.

Mayang menyebut, saat kejadian sempat ada upaya penyelamatan oleh salah seorang teman korban bernama Naufal. 

Namun usaha tersebut gagal akibat kuatnya ombak.

“Saya lihat Naufal sempat menarik temannya yang hanyut, tapi karena ombak besar, pegangannya terlepas. Akhirnya mereka terpisah, satu ke arah pantai, satu lagi ke arah laut,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, Mayang langsung berupaya mencari pertolongan. 

Ia berlari menuju arah kampus dan meminta bantuan kepada petugas keamanan yang ditemuinya.

“Saya sempat ke kampus, ketemu satpam yang sedang makan, lalu dia langsung meninggalkan makanannya dan menuju ke pantai,” katanya.

Baca juga: Breaking News 2 Bocah Tenggelam di Pantai Ujung Karang Padang Belakang Kampus Bung Hatta

Pinjam Ban Bekas untuk Evakuasi

Tak berhenti di situ, Mayang juga berusaha mencari alat bantu untuk evakuasi. 

Ia menuju kawasan pintu muara dan meminta bantuan nelayan yang baru pulang melaut untuk meminjam pelampung dari ban bekas.

Namun saat kembali ke lokasi, para korban sudah tidak terlihat lagi di permukaan air.

“Waktu saya kembali, anak-anak yang hanyut sudah tidak nampak. Teman-temannya juga sudah tidak ada di lokasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sebelumnya dirinya bersama beberapa warga juga sempat berinisiatif melakukan penyelamatan.

Bahkan ada dua pemuda yang mencoba menuju ke tengah laut, namun terhambat karena kondisi karang yang melukai kaki.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.49 WIB. 

Saat itu, menurut Mayang, kondisi pantai relatif sepi dan tidak ada pengawasan.

“Saya sebenarnya sudah heran melihat mereka berenang di sana. Saya sempat melarang dan menyuruh mereka naik, tapi tidak dihiraukan. Tidak lama setelah itu, mereka hanyut,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyampaikan bahwa dua anak yang dilaporkan tenggelam masing-masing bernama Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9), warga Kelurahan Gunung Pangilun.

Ia menjelaskan, kejadian bermula saat enam anak berenang di lokasi dengan kondisi ombak yang tidak bersahabat serta air yang keruh.

“Empat anak berada di tengah dan berusaha kembali ke pinggir. Namun dua anak diduga terseret ombak dan hilang,” kata Hendri.

Terus Berdoa Demi Cucu

BERHARAP- Yulidar, nenek Zafran Al Malik Akbar (9), bocah yang tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kota Padang. Dirinya terus berdoa dan berharap agar sang cucu yang duduk ke kelas 3 SD itu ditemukan.
BERHARAP- Yulidar, nenek Zafran Al Malik Akbar (9), bocah yang tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kota Padang. Dirinya terus berdoa dan berharap agar sang cucu yang duduk ke kelas 3 SD itu ditemukan. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Sabak mengungkung wajah Yulidar, nenek Zafran Al Malik Akbar (9), bocah yang tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kota Padang, Sabtu (18/4/2026) sore

Cucu Yulidar hanyut di pantai tersebut saat berenang bersama teman-temannya sekira pukul 12:40 WIB.

Sabtu siang sekira pukul 16:00 WIB, kabar tak mengenakan itu sampai juga ke telinga Yulidar.  Dengan hati kacau balau, ia melangkah ke Pantai Ujung Karang.

Di sana, mata merah dan tetesan tangis tak terbendung, melihat dua perahu karet milik Kantor SAR Kelas A Padang ditarik ke daratan. Sementara, sang cucu tak kunjung ditemukan hingga pukul 18:00 WIB. 

Pergi Bermain Bersama Teman, Keluarga Tidak Tahu

Yulidar tak tahu jika sang cucu pergi meninggalkan rumah untuk pergi berenang ke Pantai Ujung Karang.

Tiba-tiba, kabar duka datang, mengabarkan sang cucu telah hanyut saat berenang di pantai bersama teman-temannya.

"Tidak tahu kalau pergi berenang, tiba-tiba dapat informasi kalau dia hanyut di sini," terang Yulidar dengan tatapan kosong ke arah laut.

Sementara di lokasi, masyarakat begitu ramai menyaksikan proses pencarian. 

Bahkan saat dua perahu milik Kantor SAR Kelas A Padang ditarik ke daratan, rasa penasaran masyarakat tak kunjung mereda.

Perlahan, matahari mulai tenggelam ke laut, awan mulai meredup, pertanda pergantian siang ke malam.

Baca juga: SAR Padang Ungkap Alasan Hentikan Proses Pencarian 2 Bocah Tenggelam di Malam Hari

Di tengah suasana itu, keluarga lainnya tak berhenti berharap terhadap korban. 

Sembab mata cukup membuktikan bagaimana mereka kehilangan sosok anak atau cucu kesayangan.

Mulai dari ibu, ayah, kakak dan kerabat lainnya. Kesedihan mereka tak terbendung, dan harus ditenangkan oleh masyarakat sekitar.

"Saya berdoa terus, bertemu lah cucu saya, dia sekarang kelas 3 di SDN 06 Padang," terangnya.

Perlahan, gelap pun datang, para keluarga masih berharap di tengah derasnya gelombang. 

Menanti cucu kesayangan balik ke daratan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.