Emansipasi Naik Level: Dari Perjuangan Membuka Pintu Menuju Perjuangan Kesetaraan
suhendri April 22, 2026 11:03 PM

Oleh: Eqi Fitri Marehan, S.I.Kom. - Guru MTs Plus Bahrul Ulum Sungailiat

SETIAP tanggal 21 April, wajah Raden Ajeng Kartini kembali menghiasi dinding-dinding kelas, media sosial, dan berbagai spanduk peringatan Hari Kartini. Namun, jika kita mau merenung sejenak, makna Hari Kartini hari ini sudah mengalami pergeseran yang sangat signifikan dibandingkan satu abad yang lalu. Jika dahulu perjuangannya adalah soal "bertahan hidup" dan "mencari hak dasar", maka hari ini perjuangannya telah berevolusi menjadi soal "kualitas", "keadilan", dan "kesetaraan mutlak".

Betul sekali, emansipasi wanita di Indonesia kini sudah bergeser jauh. Kita tidak lagi berada di era 1879 di mana perempuan pribumi nyaris buta huruf dan dipenjara oleh tradisi yang menempatkan mereka hanya di ruang domestik—urusan dapur, sumur, dan kasur. Zaman telah berubah, dan tantangan yang dihadapi wanita Indonesia pun ikut berubah wajah.

Dulu: berjuang agar "diizinkan"

Pada masa Kartini, medan pertempurannya sangat jelas dan nyata. Hambatannya berupa tembok tebal ketidakadilan struktural dan budaya. Perempuan tidak memiliki akses pendidikan, tidak memiliki kebebasan berpikir, dan ruang geraknya sangat dibatasi.

Oleh karena itu, visi Kartini saat itu sangat revolusioner: memperjuangkan hak dasar agar perempuan boleh bersekolah, boleh berilmu, dan boleh keluar dari sekat-sekat yang mengurung mereka. Itu adalah perjuangan untuk membuka pintu. Kartini dan para pelopor emansipasi lainnya berjuang mati-matian agar pintu kesempatan itu bisa sedikit demi sedikit terbuka bagi kaum wanita. Mereka ingin membuktikan bahwa perempuan juga memiliki akal, potensi, dan hak yang sama untuk berkembang.

Sekarang: berjuang agar "setara"

Kini, pintu itu sudah terbuka lebar. Bahkan, sebagian besar pintu itu tidak lagi berpagar. Tantangan zaman now bukan lagi soal "boleh atau tidak boleh", melainkan soal "bagaimana menjadi yang terbaik dan dihargai setara". Fokus perjuangan telah bergeser ke arah kualitas dan keadilan akses.

Transformasi ini sangat terasa di berbagai lini kehidupan:

1. Pendidikan dan karier
Angka buta huruf pada perempuan terus menurun drastis. Saat ini, kita melihat dominasi perempuan di bangku kuliah, bahkan sering kali melebihi laki-laki. Mereka tidak hanya menamatkan sekolah, tetapi melanjutkan ke jenjang tertinggi.

Hasilnya? Perempuan kini menduduki posisi-posisi strategis yang dahulu didominasi kaum adam, mulai dari chief executive officer (CEO), insinyur, dokter spesialis, pilot, hingga personel militer dan polisi.

Di era digital, perempuan juga makin agresif menguasai dunia teknologi dan informasi. Ruang kerja mereka tidak lagi di rumah, tetapi di gedung-gedung pencakar langit, laboratorium, hingga lapangan kerja yang berat sekalipun.

2. Politik dan ruang publik
Partisipasi politik perempuan kini bukan lagi hal yang aneh. Representasi wanita di parlemen, kementerian, hingga di pemerintahan daerah sudah menjadi keniscayaan. Indonesia bahkan pernah dipimpin oleh seorang presiden wanita. Ini membuktikan bahwa kapasitas kepemimpinan tidak dilihat lagi dari jenis kelamin, melainkan dari kapabilitas. Wanita kini berani bersuara, berani mengambil keputusan, dan berani memimpin perubahan di ruang publik.

3. Ekonomi dan kemandirian
Sektor ekonomi adalah bukti paling nyata pergeseran ini. Perempuan kini bukan lagi objek ekonomi, melainkan subjek yang sangat kuat. Ribuan UMKM digerakkan oleh tangan-tangan tangguh wanita. Mereka menjadi pengusaha mandiri, investor, hingga pekerja profesional yang memiliki penghasilan setara bahkan melebihi laki-laki. Kemandirian finansial ini membuat posisi tawar perempuan dalam keluarga dan masyarakat makin kuat.

Tantangan baru yang lebih "halus" namun berat

Meski pintu sudah terbuka, bukan berarti perjuangan selesai. Seperti yang diungkapkan oleh aktris dan aktivis Cinta Laura, tantangan zaman sekarang justru lebih halus namun bobotnya sangat berat. Kita kini dihadapkan pada standar ganda, ekspektasi sosial yang tidak masuk akal, dan tekanan psikologis.

Ada stigma yang menuntut perempuan harus "sempurna"—harus sukses berkarier, tetapi tetap harus terlihat lemah lembut; harus tegas memimpin, tetapi tetap harus rendah hati; harus mandiri, tetapi tetap tergantung. Ini adalah bentuk penindasan modern yang tidak terlihat tetapi sangat melelahkan.

Senada dengan itu, anggota DPD RI Andi Nirwana menegaskan bahwa emansipasi hari ini bukan lagi soal izin, tetapi soal kesetaraan. "Apakah kita sudah benar-benar diperlukan sama? Apakah hak dan kewajiban sudah berjalan berimbang?" Itulah pertanyaan besarnya.

Pekerjaan rumah yang belum selesai

Jika kita melihat realitas di lapangan, terutama di daerah seperti Sumatra dan sekitarnya, masih banyak PR besar yang menanti. Masih ada kasus pernikahan dini yang memutus masa depan pendidikan anak perempuan. Masih ada budaya yang membatasi ruang gerak wanita untuk berkarya. Di dunia kerja, diskriminasi upah dan peluang promosi masih sering terjadi. Representasi di posisi puncak kepemimpinan pun belum sepenuhnya seimbang.

Oleh karena itu, semangat Kartini itu tidak pernah usai, ia hanya "naik level". Dahulu, levelnya adalah Quest membuka pintu yang terkunci rapat. Sekarang, levelnya adalah Boss Battle mempertahankan ruang, menjaga martabat, dan memastikan bahwa di dalam ruangan yang sudah terbuka itu, kita merasa aman, dihargai, dan bisa tumbuh utuh tanpa harus mengorbankan jati diri atau feminitas kita.

Semoga peringatan Hari Kartini tidak hanya menjadi seremonial belaka, tetapi menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan adalah tanggung jawab kita bersama, laki-laki maupun perempuan, untuk menciptakan Indonesia yang lebih adil dan beradab. (*)
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.