TRIBUNWOW.COM - Leicester City harus meneriman kenyataan bahwa mereka harus terdegradasi ke kasta kegita sepak bola Inggris.
Leicester harus terdegradasi seusai menahan imbang 2-2 saat melawan Hull city dalam lanjutan Championship, Selasa (21/4/2026) waktu setempat.
Bermain di King Power Stadium, Leicester datang dengan pehuh tekanan besar.
Tim asuhan Gary Rowett wajib meraih kemenangan untuk menjaga peluangnya bertahan di Championship.
Namun, hasil imbang pada pertandaingan tersebut membuat tim mereka tak mampu keluar dari zona degradasi.
Hampir 10 tahun berselang sejak keberhasilan fenomenal Claudio Ranieri membawa Leicester City menjuarai Liga Inggris dengan peluang 5.000/1, klub itu kini kembali terpuruk.
Pada musim 2026/27, Leicester City akan tampil di divisi ketiga sepak bola Inggris untuk kedua kalinya sepanjang sejarah 142 tahun klub tersebut.
Baca juga: Tak Cuma PSG, Klub Liga Inggris juga Goda Target Naturalisasi Timnas Indonesia, Manchester United?
Bagaimana Leicester Terderadasi?
Hull City membuka keunggulan lebih dulu pada menit ke-17 melalui gol Liam Millar.
Leicester kesulitan membalas di babak pertama dan tertinggal 0-1 hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Leicester bangkit, lewat penalti Jordan James pada menit ke-52 dan mereka bisa menyamakan kedudukan dengan skor 1-1.
Hanya berselang dua menit, tuan rumah kembali unggul melalui gol Luke Thomas yang memanfaatkan umpan silang dari Bobby De Cordova-Reid.
Namun keunggulan tersebut juga tidak bertahan lama.
Pada menit ke-63, Oli McBurnie mencetak gol penyeimbang bagi Hull City setelah memanfaatkan serangan balik cepat.
Gol ini sekaligus menjadi pukulan telak bagi Leicester.
Di sisa waktu pertandingan, Leicester terus menekan demi mencari gol kemenangan.
Sejumlah peluang tercipta, termasuk tembakan Patson Daka yang membentur tiang, namun tak ada gol tambahan hingga laga berakhir 2-2.
Keuangan Leicester Alami Penurunan Pendapatan
Dikutip dari skysports, Leicester City mengalami penurunan pendapatan yang signifikan di musim depan League One.
Diprediksi pendapatan mereka turun sekitar 50 persen dibandingkan dengan Championship, dan hanya sekitar sepertiga dari pendapatan mereka di Premier League tahun sebelumnya.
Bagi klub yang pernah memenangkan Premier League 10 tahun yang lalu dan Piala FA lima tahun yang lalu, penurunan pendapatan ini akan sangat terasa.
Meskipun mereka menikmati pendapatan tahunan sebesar £187 juta atau Rp4,3 triliun per tahun, tapi kemungkinan pendapatan mereka hanya akan diatas £100 juta atau Rp2,3 triliun pada akhir musim Championship.
Pendapatan ini diperkirakan kembali akan turun menjadi £60 juta atau Rp1,3 triliun per tahun di League One.
Meski pendapatan mereka menurun drastis, Leicester masih akan menjadi klub dengan pemasukan terbesar pada musim depan, karena rata-rata pendapatan klub League One hanya sekitar seperenam dari Leicester, yakni sekitar £10 juta atau Rp232 miliar.
Leicester masih akan mendapat penopang finansial dari pembayaran “parachute” Premier League yang diberikan setelah degradasi pada 2025.
Bantuan ini tetap berlaku meski klub kembali terdegradasi lagi.
Namun, nilainya akan terus menurun setiap tahun sekitar 55 persen pada tahun pertama, 45 persen tahun kedua, dan 20 persen tahun ketiga sehingga totalnya makin kecil, termasuk penurunan sekitar £10 atau Rp232 miliar juta untuk musim depan.
Akibatnya, bahkan jika Leicester langsung promosi kembali ke Championship dalam setahun, nilai bantuan tersebut tetap akan semakin berkurang pada musim 2027/28.
Dari sisi operasional, klub juga harus memangkas beban gaji sekitar 30–40 persen.
Penyesuaian ini sebagian otomatis melalui klausul kontrak pemain, tetapi tetap berpotensi diikuti perombakan besar skuad karena banyak pemain dianggap terlalu mahal atau tidak cocok untuk bermain di League One.
Satu di antara pemain yang terdampak adalah Abdul Fatawu.
Saat Leicester turun dari Premier League, ia sempat bisa dihargai sekitar £35 juta atau Rp813 miliar dan diminati klub papan atas.
Namun dengan Leicester kini di League One, nilai pasarnya diperkirakan turun drastis, bahkan bisa £10–15 juta atau Rp232-348 miliar lebih rendah, meski klub tetap berusaha menjual dengan harga terbaik.
(TribunWow.com/Peserta Magang dari STMIK Amikom Surakarta/Lifia Anggraini)