Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Stigma koperasi sebagai tempat pinjam uang belum bergeser, meski ribuan koperasi di Jawa Barat bergerak di sektor usaha riil, dari produsen, pemasaran, hingga jasa yang menembus pasar ekspor.
Ia menilai, persepsi publik yang sempit menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan koperasi ke depan.
“Kalau bicara koperasi, kebanyakan langsung ke simpan pinjam. Padahal jenis usaha koperasi itu banyak ada konsumen, produsen, jasa, sampai pemasaran,” ujar Supriadi.
Berdasarkan data per akhir Desember 2025, jumlah koperasi di Jawa Barat tercatat sekitar 38.060 unit.
Dari angka tersebut, sekitar 33.405 merupakan koperasi eksisting di luar program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Kendati demikian, tidak semuanya aktif. Dari total koperasi eksisting, hanya sekitar 16 ribu yang masih berjalan. Sisanya, jumlahnya hampir setara, tercatat tidak aktif.
“Ini jadi pekerjaan rumah bersama. Banyak koperasi berdiri, tapi tidak semua bertahan,” katanya.
Menurut Supriadi, stigma negatif terhadap koperasi juga dipicu oleh maraknya kasus atau oknum yang mengatasnamakan koperasi, terutama di sektor simpan pinjam.
Menurutnya, kasus-kasus semacam ini kerap mendapat sorotan media, sehingga memperkuat citra buruk di masyarakat.
Padahal, lanjut dia, tidak sedikit koperasi di Jawa Barat yang menunjukkan kinerja positif.
Beberapa di antaranya bahkan memiliki aset miliaran rupiah dan mampu menembus pasar internasional.
"Salah satu contoh di wilayah Ciparay yang menjadi pemasok kopi untuk jaringan global seperti gerai kopi skala Internasional," tuturnya.
Selain itu, ada pula koperasi di Garut yang mengembangkan usaha berbasis agrobisnis hingga ekspor komoditas.
“Koperasi seperti ini sebenarnya banyak, tapi belum terangkat ke publik,” katanya.
Di sisi lain, kata dia, minat masyarakat untuk mendirikan koperasi justru masih tinggi.
Hal ini terlihat dari terus bertambahnya jumlah koperasi baru, termasuk melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
"Di Jawa Barat, jumlah KDMP mencapai 5.957 unit, menyesuaikan jumlah desa dan kelurahan. Mayoritas masih dalam tahap awal pembentukan, mulai dari pengurusan legalitas hingga perintisan usaha," jelasnya.
Pemerintah daerah pun mendorong percepatan melalui beberapa fase, mulai dari penguatan kelembagaan, pelatihan pengurus, hingga pembangunan gerai koperasi.
Saat ini, ribuan gerai KDMP tengah dalam proses pembangunan, dengan ratusan lainnya telah rampung.
"Pemerintah juga menyiapkan berbagai program pendampingan, termasuk pelatihan manajemen, pengembangan usaha, hingga akses permodalan," katanya.
Ke depan, Supriadi berharap peran media ikut membantu mengubah narasi tentang koperasi.
“Pengembangan KDMP yang sudah berjalan usahanya, ini juga kita dorong untuk bisa mendukung bersama program strategis lainnya," kata dia.