TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Di sebuah sudut bangunan di Jalan Bakti ABRI, Pagambiran Ampalu Nan XX, Padang, suara gesekan plastik terdengar ritmis di antara gumam doa dan tawa kecil.
Pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tenggang Raso, Darima, duduk bersila di tengah kepungan botol plastik bekas yang warnanya sudah memudar.
Di tangan perempuan ini, limbah itu bukan sekadar sampah, melainkan nyawa bagi masa depan ratusan anak asuhnya.
Siang itu, Rabu (22/4/2026), Darima tampak sibuk memegang sebuah pola keranjang. Matanya yang tajam mengamati setiap lekukan plastik, sementara tangannya dengan cekatan memberi instruksi kepada seorang remaja di hadapannya.
Baca juga: Intip Ketangguhan Keranjang Daur Ulang Milik Dalima, Bisa Tahan Bertahun-tahun
Ia tidak sekadar mengajar, ia sedang mentransfer harapan yang dulu pernah hampir hilang dari genggamannya sendiri.
"Kita dilahirkan bukan untuk mengganggu. Ayolah, kumpulkan sampah ini, bersihkan, lalu kita cari ide bersama," ucap Darima lembut. Kalimat itu seolah menjadi mantra yang mampu mengubah rasa rendah diri anak-anak marginal menjadi semangat yang berkobar.
Lahir pada tahun 1960, Darima tumbuh dalam bayang-bayang kemiskinan yang pekat. Masa kecilnya habis di jalanan sebagai penjual kantong plastik. Ia pernah merasakan pedihnya menjadi orang yang dianggap sebelah mata karena tidak mengenyam pendidikan formal.
Nasibnya berubah ketika sebuah tangan baik membantunya mengikuti ujian persamaan hingga akhirnya ia meraih ijazah. Pengalaman pahit itulah yang kemudian memicu lahirnya PKBM Tenggang Raso pada tahun 2000.
Nama "Tenggang Raso" sendiri dipilih bukan tanpa alasan; sebuah filosofi Minang yang berarti tenggang rasa atau kepedulian terhadap sesama.
Baca juga: Melawan Mahalnya Plastik di Padang, Dalima Beralih ke Keranjang Daur Ulang
Awalnya, Darima bergerak di lingkungan terminal. Ia merangkul anak-anak yang putus sekolah dan terlantar berasal dari berbagai daerah. Keprihatinannya memuncak saat melihat tumpukan sampah yang tak terurus.
Logika Darima sederhana namun efektif memberikan solusi atas masalah sampah sekaligus meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat.
Ia mulai mengajarkan cara membuat tas sandang ke pasar, tas kecil, tempat minum, hingga keranjang dari olahan limbah plastik. Semuanya dimulai dengan modal ikhlas dan bantuan beberapa masyarakat lainnya.
Ia sadar bahwa keterampilan tangan saja tidak akan cukup untuk menembus kerasnya dunia kerja modern.
Maka, Darima mengetuk pintu Dinas Pendidikan agar anak-anak binaannya bisa mengikuti program kesetaraan Paket A, B, dan C. Ijazah adalah kunci, tapi keterampilan adalah senjatanya pikirnya saat itu.
Baca juga: Peringati Hari Kartini, RSJ dr. Yaunin Gelar Bakti Sosial dan Survei Kesehatan Mental Korban Banjir
Kini, perjuangan seperempat abad itu membuahkan hasil yang mencengangkan. Darima telah meluluskan sekitar 13.000 orang sejak awal berdiri. Ribuan orang yang dulunya mungkin hanya akan menjadi beban sosial, kini telah bertransformasi menjadi polisi, pengusaha, PNS, hingga anggota DPRD.
Saat ini, PKBM Tenggang Raso beroperasi di dua sekretariat. Pusat pembelajaran berlokasi di Jalan Air Paku, Sungai Sapih, sementara pusat pengolahan kerajinan berada di Pagambiran Ampalu.
Dua tempat ini menjadi ekosistem tempat mimpi-mimpi kecil dirawat dengan sangat hati-hati.
Setiap Sabtu dan Minggu, suasana di kedua tempat ini selalu hidup. Pagi hari digunakan untuk mengejar ketertinggalan materi sekolah, sementara siang harinya diisi dengan memproduksi kerajinan.
Kerja keras anak-anak ini tidak cuma-cuma setiap produk yang mereka selesaikan dihargai oleh PKBM agar mereka memiliki uang saku dan tabungan.
Produk buatan mereka kini bukan lagi barang kelas teri. Dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga ratusan ribu rupiah, kerajinan Tenggang Raso telah menyeberangi samudera.
Pasar di Malaysia, Singapura, hingga Thailand mulai melirik karya anak-anak Padang ini melalui berbagai ajang pameran internasional.
Bagi Darima, kesuksesan ekspor bukanlah segalanya. Baginya, melihat 336 kepala keluarga yang saat ini masih berjuang di jalur Paket A dan B tetap semangat adalah kemenangan harian.
Baca juga: Inovasi UP2K Solok Selatan, Ibu-Ibu Sulap Buah Nangka Jadi Rendang dan Abon
Ia percaya bahwa pemberdayaan harus menyentuh akar rumput agar dampaknya terasa nyata.
Kerja sama dengan Pemerintah Kota Padang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus ia jalin dengan apik.
Ia sering menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan UMKM adalah kunci untuk menciptakan peluang pasar yang lebih luas bagi produk daur ulang.
"Pengolahan sampah itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Usaha kecil seperti ini punya potensi besar jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh," tambahnya sembari merapikan tumpukan keranjang yang siap dikirim.
Atas dedikasinya yang tak goyah oleh waktu, Darima dinobatkan sebagai Perempuan Inspiratif Kota Padang pada tahun 2024.
Baca juga: Menilik Proses Pembuatan Tas hingga Tikar dari Daun Pandan di Sijunjung
Sebuah gelar yang sangat pantas untuk seseorang yang menghabiskan separuh usianya untuk memunguti sampah dan mengubahnya menjadi ijazah.
Di sela-sela kesibukannya, Darima tak pernah lupa untuk bercanda dengan anggota binaannya, termasuk mereka yang sudah lanjut usia. Baginya, semua orang berhak atas kesempatan kedua, tak peduli berapa pun usia mereka.
"Teruslah bekerja dengan hati ikhlas. Lihatlah kakak dan abang kalian yang sudah sukses. Saya ingin kalian bisa lebih hebat dari mereka," pungkas Darima.(*)