Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Forum Komunikasi Dewan Komisaris Bank Pembagunan Daerah Seluruh Indonesia, mengikuti Seminar Nasional FKDK BPDSI Wilayah Barat di Bumi Merah Putih.
Seminar nasional ini dihadiri Wakil Gubernur Bengkulu, Mian, jajaran Komisaris hingga Direktur dari Bank Bengkulu, Perwakilan Bank Indonesia, Komisaris Bank Pembagunan Daerah (BPD) se-Indonesia, dan unsur Forkopimda Bengkulu, dilanksanakan di Balai Semarak, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, Rabu (22/4/2026).
Kegiatan ini dimulai dengan makan malam bersama, lalu dilanjutkan dengan tarian persembahan untuk menyambut tamu yang hadir dalam semeninar nasional ini.
Setelah tari persembahan, para tamu yang hadir menyanyikan lagu Indonesia Raya, kegiatan pun dilanjutkan dengan sambutan dari Komisaris Independen Bank Bengkulu, Riduan.
Dalam sambutannya, Riduan mengatakan, Forum Komunikasi Dewan Komisaris (FKDK) Bank Pembangunan Daerah (BPD) Wilayah Barat menggelar seminar nasional di Bengkulu, mulai 22 hingga 24 April 2026.
Kegiatan ini nantinya dilanjutkan seminar dan rapat kerja di Hotel Mercure Bengkulu.
Komisaris Independen Bank Bengkulu, Riduan, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Dewan Komisaris dalam menjalankan tugas dan fungsi pengawasan.
FKDK mengambil peran dalam memfasilitasi peningkatan kapasitas tersebut melalui seminar, pelatihan, dan diskusi yang relevan dengan isu-isu terkini di dunia perbankan.
Selain itu, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan rapat kerja FKDK sebagai sarana konsolidasi dan penyelarasan strategi menjelang Musyawarah Nasional (Munas) FKDK BPD yang akan digelar dalam beberapa bulan ke depan.
Baca juga: HUT ke-55 Bank Bengkulu, Iswahyudi Incar Posisi Nomor Satu Bank di Daerah Sendiri
“Dengan adanya pergantian kepala daerah, banyak terjadi perubahan anggota Dewan Komisaris. Oleh karena itu, diperlukan penyegaran, baik dari sisi kepengurusan maupun arah kebijakan organisasi,” tutur Riduan.
Peserta seminar berasal dari BPD wilayah barat yang mencakup Aceh hingga Lampung.
Seluruh perwakilan hadir, kecuali Bank Riau dan Kepulauan Riau yang berhalangan.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga dihadiri perwakilan BPD dari wilayah tengah dan timur, seperti Bank Kalimantan Barat, Bank Kalimantan Selatan, Bank Sulawesi, Bank Maluku dan Maluku Utara, serta Bank Papua.
Seminar nasional ini mengusung tema Penguatan Pengawasan Dewan Komisaris dalam Penerapan Three Lines of Defense.
Selain agenda utama, panitia juga menyiapkan kegiatan pendamping berupa Ladies Program bagi para istri komisaris, yang diisi dengan kunjungan ke destinasi wisata dan pusat kuliner di Bengkulu.
“Kami juga berharap kegiatan ini dapat menjadi ajang silaturahmi antaranggota Dewan Komisaris dari seluruh Indonesia, sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, khususnya pelaku UMKM,” tutup Riduan.
Senada juga disampaikan, Plt Direktur Utama Bank Bengkulu, Iswahyudi dirinya mengapresiasi atas kehadiran para peserta dari berbagai daerah, seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan-Barat, hingga Papua.
Iswahyudi juga memperkenalkan identitas baru Provinsi Bengkulu yang kini dideklarasikan sebagai Bumi Merah Putih.
“Dulu Bengkulu dikenal sebagai Bumi Raflesia. Bunga Raflesia tetap ada, tetapi sejak tahun lalu kami deklarasikan sebagai Bumi Merah Putih. Ini untuk mengingatkan sejarah bahwa penjahit bendera Merah Putih, Ibu Fatmawati, adalah putri asli Bengkulu,” ujar Iswahyudi.
Semangat Merah Putih menjadi simbol persatuan bangsa yang juga melatarbelakangi keberadaan berbagai institusi, termasuk bank pembangunan daerah.
Dalam kesempatan itu, Iswahyudi menyebut Bank Bengkulu untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah kegiatan FKDK, sejalan dengan arahan pemerintah daerah untuk menghadirkan lebih banyak agenda nasional di Bengkulu.
“Biasanya kita yang datang ke daerah lain, sekarang kita mengundang dan menjadi tuan rumah. Ini bagian dari upaya agar Bengkulu semakin dikenal luas,” kata Iswahyudi.
Bank Bengkulu telah ditunjuk sebagai penyelenggara Undian Nasional Tabungan Sempeda yang akan digelar pada Agustus 2026.
“Seluruh bank daerah akan kembali berkumpul di Bengkulu. Biasanya kegiatan ini juga dimeriahkan dengan acara puncak dan menghadirkan artis nasional,” ujar Iswahyudi.
Lebih lanjut, Iswahyudi menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi bank pembangunan daerah. Salah satunya terkait peningkatan modal inti yang ke depan diperkirakan akan terus mengalami kenaikan.
“Permodalan menjadi tantangan serius. Kita pernah diminta memenuhi modal inti hingga Rp3 triliun, dan ke depan ada wacana peningkatan lagi,” papar Iswahyudi.
Selain itu, ia juga menyoroti semakin ketatnya persaingan dengan bank nasional yang mulai masuk ke pangsa pasar bank daerah.
“Bank nasional bisa masuk ke daerah, tetapi kita tidak bisa masuk ke mereka. Ini perlu perhatian dan dukungan kebijakan dari pemerintah pusat,” tegas Iswahyudi.
Dukungan kebijakan sangat diperlukan, terutama dalam pelaksanaan program pemerintah pusat yang turut melibatkan sektor perbankan.
“Kami diminta mendukung program pemerintah dalam rencana bisnis bank, tetapi di sisi lain belum semua kebijakan berpihak kepada bank daerah. Ini yang perlu disinergikan,” katanya.
Sejumlah kebijakan yang dinilai berdampak pada bank daerah, seperti pemindahan layanan ke bank Himbara tanpa melibatkan bank daerah.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi keberlangsungan bisnis bank pembangunan daerah jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang adil.
Menutup sambutannya, Iswahyudi mengajak seluruh peserta untuk menikmati Bengkulu sebagai kota bersejarah, termasuk jejak Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang pernah tinggal di daerah tersebut.
“Selamat datang di Bengkulu, kota bersejarah tempat Bung Karno pernah tinggal dan bertemu dengan Ibu Fatmawati,” tutup Iswahyudi.
Sementara itu, Wakil Gubernur Bengkulu, Mian mengajak seluruh bank pembangunan daerah (BPD) untuk memperkuat sinergi dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Kolaborasi antarlembaga perbankan daerah menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang saat ini tidak menentu.
“Kondisi dunia saat ini tidak baik-baik saja. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan beberapa negara besar menjadi ancaman nyata bagi ekonomi, termasuk dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat,” ujar Mian.
Menurutnya, dampak konflik global tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi, gangguan jalur logistik, hingga tekanan inflasi di daerah.
Namun demikian, Mian menyebut pemerintah pusat telah menetapkan arah yang jelas melalui target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
“Untuk mencapai target tersebut, bank-bank daerah harus berkolaborasi dan memberikan kontribusi nyata melalui kerja-kerja konkret,” lanjutnya.
Ia juga mengingatkan agar bank pembangunan daerah tidak kalah bersaing dengan bank milik pemerintah pusat atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
“Jangan sampai bank daerah menjadi penonton di negeri sendiri. Diperlukan terobosan dan inovasi dari seluruh jajaran, baik direksi maupun komisaris,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Bengkulu sebelumnya telah menginisiasi pertemuan dengan pelaku usaha agar tetap memanfaatkan layanan bank daerah.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga eksistensi dan peran strategis BPD dalam pembangunan daerah.
Selain itu, ia berharap kegiatan seminar yang akan dilaksanakan keesokan harinya tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menghasilkan rekomendasi konkret.
“Kalau hanya sebatas kunjungan, itu seremonial. Tapi kalau ada adopsi praktik baik dari daerah lain dan bisa diterapkan, itu yang kita harapkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mian juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Sumatera, Papua, dan Maluku.
Ia turut mempromosikan potensi Provinsi Bengkulu, mulai dari kekayaan sejarah, bentang alam, hingga kuliner khas daerah.
Acara gala dinner tersebut sekaligus menjadi pembuka rangkaian kegiatan FKDK yang akan dilanjutkan dengan seminar pada hari berikutnya.
“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, acara dinner malam ini sekaligus seminar esok hari secara resmi dibuka,” tutup Mian.