Dari Bungkus Tempe ke Baitullah, Tabungan 30 Tahun yang Diperkuat Nilai Manfaat
Ikrob Didik Irawan April 23, 2026 01:14 AM

SEPEDA kayuh tua melaju pelan menebus jalan perkampungan. Di bagian belakangnya mengangkut bronjong. Muatannya tidak penuh. Hanya beberapa bungkus tempe garit. Kisaran 5-10 kilogram beratnya.

Namun bobot itu bisa jadi cukup berat bagi sosok perempuan 75 tahun yang mengendarainya. Dia adalah Mbah Kasidah. Perempuan perkasa yang sudah puluhan tahun setia berjualan tempe di Pasar Panjatan, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak ada kios. Hanya lapak berlantai semen beralas karung untuk menggelar tempe bungkus daun pisang dagangannya. Tempe itu ia produksi sendiri di rumah. "Saya sudah 40 an tahun berjualan tempe sejak awal menikah," katanya.

Aktivitas berjualan ini nyaris ia lakukan saban hari, hingga saat ini telah memiliki 5 cucu. Jumat 17 April 2026, Mbah Kasidah tampak berada di Aula Adikarta, Kantor Sekretariat Daerah Pemkab Kulon Progo. Pakaiannya rapi. Berjilbab putih berpadu dress biru langit bermotif batik. 

Wajahnya bersih, segar seperti bercahaya. Senyumnya lepas mengembang, tak malu meski gigi-giginya sudah banyak yang tanggal. Di situ sedang ada acara Pamitan Jemaah Haji. Ya! Mbah Kasidah menjadi satu diantara 384 jemaah calon haji dari Kabupetan Kulon Progo yang berangkat naik haji di 2026 ini.

NAIK HAJI - Mbah Kasidah penjual tempe di Pasar Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Ia menabung selama 30 tahun dari hasil berjualan tempe dan sapu lidi agar bisa naik Haji.
NAIK HAJI - Mbah Kasidah penjual tempe di Pasar Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo. Ia menabung selama 30 tahun dari hasil berjualan tempe dan sapu lidi agar bisa naik Haji. 

Ia terbang ke Tanah Suci pada 21 April 2026, masuk dalam Kloter I. Semua dari hasil menabung berjualan tempe selama sekitar 30 tahun. "Sejak usia 35 tahun, saya ada keinginan naik haji. Kemudian mulai menabung sedikit-sedikit dari hasil berjualan tempe. Sekitar 30 tahun (menabungnya)," katanya. 

Rupiah demi rupiah Mbah Kasidah terkumpul hingga Rp25 juta. Kemudian digunakan untuk membuka tabungan mendaftar haji pada 2012. Ia yakin uang yang disetorkan itu tersimpan, terkelola baik dan aman di Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Karena sebelumnya hanya tersimpan di celengan.

"14 tahun menunggu antrean naik haji. Alhamdulillah, di 2026 ini saya mendapat panggilan," katanya. Bagaimana dengan pelunasan biaya hajinya? Mbah Kasidah mengaku semua sudah ia bayar lunas pakai uang hasil keringat sendiri. Selain jualan tempe, ia juga berjualan sapu lidi buatan sendiri untuk menambah penghasilan.

Nilai Manfaat

Sebagai informasi, biaya haji 2026 ditetapkan melalui Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sebesar Rp87.409.365,45 per jemaah. Namun, tidak seluruh biaya tersebut dibebankan langsung kepada jemaah calon haji. Biaya yang harus dibayar per jemaah calon haji hanya Rp54.193.806,58 saja.

Lalu bagaimana dengan sekitar Rp33.215.000 kekurangannya? Di sini Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) berperan. Lembaga ini bertugas mengelola dana haji mulai dari setoran awal, penerimaan, dan pengembangannya secara profesional dan syariah untuk memaksimalkan nilai manfaat. Hasilnya dikembalikan lagi kepada jemaah calon haji.

Sehingga jemaah calon haji, termasuk Mbah Kasdah tak perlu menanggung pusing Rp 33 juta kekurangannya tadi. Melainkan sudah ditanggung BPKH lewat nilai manfaat dari hasil pengelolaan dana haji yang sudah disetor saat pendaftaran.

Bahasa lebih mudah dipahaminya adalah subsidi. Skema ini dibuat agar biaya ibadah haji tetap terjangkau masyarakat. Mbah Kasidah bisa jadi tak paham dengan angka-angka ini dan bagaimana sistem berjalan. Namun yang pasti, ia turut merasakan langsung manfaatnya. 

Tabungannya selama 30 tahun telah diperkuat dengan nilai manfaat dari BPKH. "Alhamdulillah saya bisa melunasi biaya haji pakai uang sendiri, dari pendaftaran sampai pelunasan," katanya.

Kesiapan Likuiditas 

Dikutip dari website resmi bpkh.go.id, BPKH telah menyalurkan dana BPIH 2026 sebesar Rp12,92 triliun atau 70,95 persen dari total anggaran Rp18,21 triliun per 8 April 2026. 

Penyaluran dilakukan kepada Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia sebagai tindak lanjut permohonan resmi, sekaligus untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.

Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah
Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah (BPKH)

Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menyatakan realisasi tersebut menunjukkan kesiapan likuiditas dalam memenuhi kebutuhan penyelenggaraan haji secara tepat waktu.

“Realisasi ini mencerminkan kesiapan likuiditas BPKH. Pengelolaan dilakukan secara hati-hati agar kebutuhan jemaah terpenuhi optimal,” ujarnya.

BPKH mencatat nilai manfaat dana haji tahun ini mencapai Rp6,69 triliun. Dana tersebut digunakan untuk subsidi biaya haji, yakni Rp6,31 triliun untuk kebutuhan di Arab Saudi dan Rp376,8 miliar untuk kebutuhan dalam negeri.

BPKH menargetkan sisa penyaluran dana sebesar Rp5,29 triliun atau 29,05 persen dapat diselesaikan secara bertahap hingga Juli 2026.

Uang Saku

Selain itu, BPKH menyiapkan biaya hidup (living cost) bagi jemaah haji Indonesia tahun 2026 sebesar SAR (Riyal Saudi) 152.490.000. 

Dana tersebut akan dibagikan kepada 203.320 jemaah haji reguler melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI). Setiap jemaah akan menerima uang saku sebesar SAR 750 atau sekitar Rp3,3 juta.

Uang saku ini digunakan untuk kebutuhan pribadi jemaah selama di Tanah Suci, seperti konsumsi tambahan, keperluan darurat, hingga pembayaran DAM (denda haji).

Anggota Badan Pelaksana BPKH, Amri Yusuf, menyatakan penyediaan dana dilakukan sesuai prinsip syariah melalui mekanisme akad sharf atau pertukaran mata uang secara tunai. 

“Nilai pokok diserahterimakan secara tunai, sementara biaya distribusi dibayarkan setelah layanan selesai. Ini bagian dari transparansi pengelolaan dana haji,” ujarnya.

Haji di DIY

Pelaksanaan Embarkasi Haji DIY secara perdana telah dimulai pada Selasa 21 Maret 2026 malam. Pelaksanaan ditandai dengan keberangkatan pertama dari Kloter I berisi 354 jemaah dan 6 petugas haji melalui Yogyakarta International Airport (YIA).

Ratusan jemaah calon haji asal Sleman mulai diberangkatkan dari Serambi Masjid Agung dr. Wahidin Soedirohoesodo, pada Rabu (22/4/2026). Keberangkatan ini menandai dimulainya gelombang perjalanan kloter 1 calon haji asal Bumi Sembada menuju tanah suci melalui Embarkasi Bandara Yogyakarta.
Ratusan jemaah calon haji asal Sleman mulai diberangkatkan dari Serambi Masjid Agung dr. Wahidin Soedirohoesodo, pada Rabu (22/4/2026).

General Manager YIA Kulon Progo, Muhammad Thamrin mengeklaim keberangkatan perdana jemaah haji pada Selasa kemarin berjalan lancar. "Kami bersyukur jemaah haji Kloter I yang seluruhnya dari Kulon Progo telah berangkat ke Tanah Suci dengan lancar," kata Thamrin Rabu (22/04/2026).

Kloter I diberangkatkan menuju Madinah, Arab Saudi pada Selasa tengah malam. Mereka berangkat dengan armada pesawat Airbus A330-300 dari maskapai Garuda Indonesia, dengan nomor penerbangan GA 6501.

Ratusan jemaah diberangkatkan dari hotel Ibis YIA sebagai Asrama Haji sekitar pukul 21.30 WIB menuju YIA dengan bus. Setibanya di bandara, mereka langsung diarahkan menuju ruang tunggu dan masuk pesawat melalui garbarata yang tersedia.

Thamrin mengatakan pihaknya masih melayani sebanyak 25 kloter lagi untuk Embarkasi Haji DIY. Total ada 9.320 jemaah yang terbagi dalam 26 kloter, mereka berasal dari 5 kabupaten/kota di DIY serta 6 kabupaten/kota di Eks Karesidenan Kedu, Jawa Tengah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.