TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat tajam setelah serangkaian insiden yang melibatkan Iran dan kapal-kapal asing.
Al Jazeera melaporkan, aksi penembakan dan penyitaan kapal terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran.
Berikut lima fakta penting yang menggambarkan situasi terbaru yang semakin memanas di jalur pelayaran paling strategis dunia tersebut:
Insiden paling mencolok adalah ketika kapal perang Iran menembaki kapal kontainer di lepas pantai Oman.
Menurut UKMTO, kapal tersebut didekati oleh unit IRGC sebelum tembakan dilepaskan.
“Kapal mengalami kerusakan pada anjungan, namun tidak ada korban jiwa,” demikian laporan UKMTO.
Seluruh awak kapal dilaporkan selamat dan tidak ada dampak lingkungan yang terjadi.
Baca juga: Iran Sita 2 Kapal di Selat Hormuz, Diduga Melanggar Izin dan Memanipulasi Sistem Navigasi
Insiden ini menjadi sinyal bahwa ketegangan di laut masih tinggi meski ada upaya diplomasi.
Tidak hanya menembaki, Iran juga menyita dua kapal asing di Selat Hormuz.
Keduanya dituduh melanggar aturan pelayaran dan memanipulasi sistem navigasi.
IRGC menegaskan bahwa setiap aktivitas di Selat Hormuz harus berada di bawah koordinasi mereka.
“Keamanan selat adalah garis merah,” tegas pihak IRGC.
Langkah ini memperlihatkan upaya Iran memperkuat kontrol atas jalur strategis tersebut.
Insiden ini juga diwarnai perbedaan versi antara pihak Iran dan pengamat internasional.
Perusahaan keamanan maritim Vanguard Tech menyatakan kapal yang ditembaki sebenarnya telah memiliki izin melintas.
Namun Iran mengklaim kapal tersebut mengabaikan peringatan militer.
Perbedaan narasi ini memperumit situasi dan meningkatkan ketidakpastian bagi pelayaran internasional.
Baca juga: Pengamat Menilai Trump Hanya Menolak Akui Kegagalannya di Iran Lewat Gencatan Senjata
Para analis menilai kondisi ini berpotensi memicu salah tafsir yang berbahaya di lapangan.
Yang membuat situasi semakin sensitif, insiden ini terjadi saat gencatan senjata masih berlaku.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan perpanjangan gencatan senjata untuk memberi ruang diplomasi.
“Kami diminta menunda serangan sampai Iran mengajukan proposal terpadu,” tulis Trump.
Namun di saat yang sama, AS tetap mempertahankan blokade terhadap Iran dan menyiagakan militernya.
Kontradiksi antara diplomasi dan aksi militer ini membuat situasi semakin rapuh.
Selat Hormuz bukan sekadar wilayah konflik biasa.
Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Gangguan kecil saja bisa berdampak besar terhadap harga energi global.
NBC News menyebut aktivitas kapal di selat tetap berjalan, namun di bawah tekanan tinggi.
Lebih dari 30 negara kini mulai membahas langkah pengamanan jalur tersebut.
Menteri Pertahanan Inggris menegaskan bahwa stabilitas ekonomi global sangat bergantung pada kebebasan navigasi di kawasan ini.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)