TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Gelombang keberangkatan jemaah calon haji (calhaj) asal Kabupaten Sleman resmi dimulai. Sebanyak 354 jemaah diberangkatkan dari Serambi Masjid Agung dr. Wahidin Soedirohoesodo, pada Rabu (22/4/2026).
Keberangkatan ini menandai dimulainya gelombang perjalanan kloter 1 calon haji asal Sleman menuju tanah suci melalui Embarkasi Bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA).
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Sleman, Suryana mengatakan, jemaah calon haji Kabupaten Sleman yang siap diberangkatkan pada tahun ini sebanyak 1.516. Jumlah tersebut terdiri dari 1.407 jamaah asal Sleman, 98 jamaah mutasi, 8 jamaah dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), dan 5 calon jemaah dari luar Sleman.
"Seluruh calon jemaah dinyatakan sehat setelah menjalani pemeriksaan medis dan menerima vaksinasi meningitis serta influenza," katanya.
Ribuan jemaah calhaj asal Sleman ini terbagi dalam lima kloter yaitu kloter 02-YIA hingga 05-YIA. Kemudian ada sebagian jemaah yang diberangkatkan menggunakan kloter 26-YIA yang berisi campuran dengan jemaah asal Kabupaten lain. Kloter 02-YIA sebanyak 354 jemaah diberangkatkan hari ini. Sementara kloter berikutnya diberangkatkan secara bertahap. Sebelum berangkat, para jemaah telah mengikuti serangkaian persiapan berupa manasik haji tingkat kabupaten maupun tingkat kapanewon serta manasik mandiri dan online melalui program Sapa Haji.
Kepala Seksi Bina dan Pengendalian Haji dan Umroh Kemenag Sleman, Siti Bahronah menyampaikan proses administrasi dan persiapan keberangkatan berjalan lancar. Meski ada dinamika terkait kondisi kesehatan jemaah, posisi yang kosong telah tertutup oleh jemaah cadangan.
Adapun mengenai jemaah lansia asal Kabupaten Sleman, tercatat ada nama Muhdi Harjo Kawit sebagai jemaah tertua dengan usia 97 tahun.
Warga yang tergabung dalam KBIHU Ar-Raudhah ini berangkat melalui kuota prioritas lansia 5 persen. Siti menjelaskan bahwa Muhdi didampingi oleh anaknya melalui mekanisme penggabungan mahram.
"Beliau (Muhdi) kalau nggak salah itu mendaftarnya 2019 mungkin nggih, itu tahun ini mendapatkan prioritas lansia. (Berangkat) didampingi anaknya. Kebetulan dulu anaknya daftar bareng dan ketika bapaknya mendapat prioritas, beliau mengajukan penggabungan, mengajukan permohonan toh, alhamdulillah diterima dan bisa mendampingi," jelasnya.
Siti menekankan bahwa syarat pendampingan lansia cukup ketat, yakni pendamping minimal harus sudah terdaftar lima tahun sebelum tahun keberangkatan. Selain pendamping keluarga, Kemenag juga menyiagakan petugas mulai dari Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, hingga tim tenaga kesehatan (Nakes).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya masuk dalam gelombang kedua melalui Embarkasi Solo, tahun ini jemaah asal Sleman masuk dalam gelombang pertama di Embarkasi YIA. Fasilitas penginapan pun mengalami perubahan signifikan.
"Tahun ini kita pakai hotel, bukan lagi asrama haji seperti di Solo. Kuota kita juga naik dari yang biasanya 1.200 menjadi sekitar 1.500-an jemaah. Nggih, tentu berdampak pada percepatan masa tunggu," jelas Siti.
Prosesi pelepasan keberangkatan gelombang pertama jemaah calon haji asal Sleman ini dihadiri langsung Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Susmiarto bersama Forkopimda Kabupaten Sleman. Susmiarto mengatakan, Pemkab Sleman telah melakukan persiapan secara matang termasuk dalam memberikan layanan kepada jemaah calon haji yang beresiko tinggi. Bagi jemaah beresiko seperti lansia ada perlakukan khusus selama perjalanan.
"Misalnya saat menuju bis, tadi sudah didahulukan agar lebih nyaman dan tenang. Begitu juga nanti di sana," jelas Susmiarto. Ia berharap, jemaah calon haji khususnya lansia dapat tetap terjaga kesehatan, sehingga tetap bisa fokus beribadah.(*)