3 BERITA POPULER PADANG: Pencarian Bocah Hanyut Nihil, Mengubah Limbah Plastik dan Truk Rusak
Rahmadi April 23, 2026 08:27 AM

Pertama, pencarian dua bocah yang hanyut terseret ombak masih nihil di kawasan Pantai Ujung Karang, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, , Rabu (22/4/2026).

Diketauhi bahwa dua orang bocah bernama Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9) dilaporkan terseret ombak di kawasan pantai yang berada tepatnya di belakang Universitas Bung Hatta (UBH) pada Sabtu (18/4/2026).

Kedua, di sebuah sudut bangunan di Jalan Bakti ABRI, Pagambiran Ampalu Nan XX, Padang, suara gesekan plastik terdengar ritmis di antara gumam doa dan tawa kecil.

Pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tenggang Raso, Darima, duduk bersila di tengah kepungan botol plastik bekas yang warnanya sudah memudar.

Di tangan perempuan ini, limbah itu bukan sekadar sampah, melainkan nyawa bagi masa depan ratusan anak asuhnya.

Ketiga, truk rusak di Panorama 1 Sitinjau Lauik Padang menghambat sebagian badan jalan pada pendakian tersebut, Kota Padang, Rabu (22/4/2026) pagi.

Kendaraan besar berwarna hijau itu tertahan saat melaju dari arah Padang menuju Kabupaten Solok.

Baca selengkapnya berikut ini:

1. Pencarian Rasyid dan Zafran di Padang Nihil, Warga Duga Korban Hanyut Tersangkut Kayu Sisa Banjir

Lokasi dua bocah yang hanyut terseret ombak di kawasan Pantai Ujung Karang, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, dipenuhi material kayu yang terbawa banjir bandang, Rabu (22/4/2026).

Hal itu disampaikan oleh warga sekitar, Jon Lawer, saat ditemui TribunPadang.com di lokasi pencarian dua korban hanyut terseret ombak.

Diketauhi bahwa dua orang bocah bernama Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9) dilaporkan terseret ombak di kawasan pantai yang berada tepatnya di belakang Universitas Bung Hatta (UBH) pada Sabtu (18/4/2026).

Petugas gabungan telah berupaya melakukan pencarian secara bersama-sama. Namun, hingga pencarian hari kelima, tanda-tanda keberadan korban belum diketahui.

Baca juga: Tak Kunjung Ditemukan, Tim Gabungan Kerahkan Penyelam Cari 2 Bocah Tenggelam di Padang

Setiap harinya, petugas terus melakukan evaluasi dan memperluas area pencarian yang juga dibantu nelayan sekitar.

Jon Lawer menyebut area korban terseret ombak dipenuhi oleh material berupa kayu dan pasir yang terbawa saat banjir bandang pada akhir November 2025 lalu.

Selain banyaknya material kayu dan sedimen pasir, beberapa karang laut juga terhampar di sekitar lokasi korban hilang.

"Iya, di sini memang banyak kayu dan pasir yang terbawa saat galodo (banjir bandang). Banyak juga kayu dan bambu yang mengapung," kata Jon memberikan keterangan di lokasi pencarian korban.

Baca juga: Hari Kelima Pencarian 2 Bocah Hanyut di Pantai Ujung Karang Padang, Nelayan Ikut Bantu Penyisiran

Ia menduga, dua korban yang belum ditemukan hingga pencarian hari kelima, diduga tersangkut di material kayu di dalam laut.

Selain itu, dugaannya terhadap korban berkemungkinan juga tersangkut di karang yang ada di tengah laut.

"Kalau dugaan saya memang tersangkut di kayu atau bambu, karena saat galodo banyak material yang terbawa ke laut ini," ujarnya.

Kata dia, lokasi hilangnya korban juga berada dekat palung laut. Masyarakat lokal maupun nelayan meyakini adanya palung tersebut sejak dahulunya.

Akan tetapi, terkait kemungkinan korban terseret ombak ke pulau terdekat di lokasi terakhir hanyut, Jon membantahnya.

Baca juga: Jadwal dan Harga Tiket Bioskop Padang Hari Ini 22 April 2026: Ada Film Michael

"Kalau palung ini kata orang tua kita dulu memang ada, tapi tidak tahu masuk ke sana, dugaan saya tersangkut di kayu. Tapi kalau terbawa ombak hingga ke pulau, saya rasa tidak, karena ini sudah pencarian hari kelima," sebutnya.

Ia sebagai warga lokal mengatakan, pada umumnya cuaca akan hujan dan badai saat ada korban hanyut.

Fenomena itu sudah muncul jelang hari kelima pencarian kata Jon, namun korban belum kunjung ditemukan.

"Seharusnya usai hujan dan badai, korban sudah ditemukan, biasanya tanda alam khususnya di laut seperti itu, saya tidak tahu juga kenapa belum ditemukan. Bisa saja memang tersangkut, meski cuaca buruk sudah muncul," tambahnya.

Jon diketahui masih bagian dari keluarga korban hanyut di sekitar Pantai Ujung Karang. Di lokasi ia juga menyusuri pinggir laut di dekat bebatuan, untuk mencari korban hanyut.

Pencarian Hari Kelima Masih Nihil

PENCARIAN ORANG HILANG- Proses pencarian korban hanyut menggunakan perahu karet tim gabungan dan perahu nelayan di hari kelima, Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Rabu (22/4/2026).
PENCARIAN ORANG HILANG- Proses pencarian korban hanyut menggunakan perahu karet tim gabungan dan perahu nelayan di hari kelima, Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Rabu (22/4/2026). (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Proses pencarian hari kelima korban hanyut di Pantai Ujung Karang, belakang kampus Universitas Bung Hatta (UBH), Kecamatan Padang Utara, Kota Padang tengah berlangsung, Rabu (22/4/2026) sore.

Korban hanyut berjumlah dua orang, identitas mereka yakni Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9), warga Gunung Pangilun.

Dua orang ini sebelumnya dilaporkan hanyut saat berenang bersama teman-temannya pada Sabtu (18/4/2026) siang lalu.

Hingga kini, pencarian belum membuahkan hasil sejak dilaporkan hilang Sabtu siang lalu.

Baca juga: Harga BBM dan Gas Elpiji Naik, Kepala BGN Jamin Kualitas Makan Bergizi Gratis Tetap Terjaga

Pantauan TribunPadang.com di lapangan sekira pukul 16.03 WIB, pencarian masih berlangsung di lokasi terakhir hilangnya korban.

Di tengah laut, tampak lima perahu karet milik tim gabungan tengah menyusuri sekitar lokasi hilangnya korban.

Selain itu, terdapat tiga kapal nelayan yang juga ikut membantu proses pencarian di hari kelima ini.

Sementara di pinggir pantai, masyarakat sangat ramai menyaksikan proses pencarian yang dilakukan oleh tim gabungan.

Baca juga: Haru dan Bahagia Warnai Pelepasan Calon Jemaah Haji dan Purna Tugas di UIN Imam Bonjol Padang

Hingga pukul 16.23 WIB, pencarian masih berlangsung di tengah cuaca panas dan terik.

Pantauan di lapangan, air laut tampak surut, batu-batu di pinggir pantai terlihat. Sebelumnya batu-batu ini sempat tertutup oleh air laut.

Di bagian tengah, air laut tampak keruh, namun ombak tak begitu besar pada pencarian hari kelima.

Meski begitu, perahu karet dan perahu nelayan terus memutari sekitar lokasi untuk mencari dua bocah tersebut.

Warga: Tiba-Tiba Ada Teriakan Minta Tolong

Upaya menyelamatkan bocah yang tenggelam kawasan Pantai Ujung Karang, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sabtu (18/4/2026), dilakukan warga, sesaat setelah mengetahui kejadian.

Mayang seorang warga yang ada di lokasi bahkan sempat melarang anak-anak yang hendak berenang saat mereka ada di pantai yang berada di belakang kampus Universitas Bung Hatta itu. 

Sebelum kejadian, dirinya sempat melihat enam orang anak berada di lokasi pantai. 

Dua orang berada di pinggir, sementara empat lainnya berada di bagian tengah laut.

“Awalnya saya melihat ada dua anak di pinggir dan empat di tengah. Tiba-tiba saya mendengar teriakan minta tolong, lalu saya lihat ke arah pantai, ternyata ada yang hanyut,” ujarnya.

Pegangan Terlepas Akibat Ombak

Berdasarkan informasi dari teman korban, dua anak yang pertama kali hanyut adalah Rasyid dan seorang lainnya yang akrab disapa Popo.

Mayang menyebut, saat kejadian sempat ada upaya penyelamatan oleh salah seorang teman korban bernama Naufal. 

Namun usaha tersebut gagal akibat kuatnya ombak.

“Saya lihat Naufal sempat menarik temannya yang hanyut, tapi karena ombak besar, pegangannya terlepas. Akhirnya mereka terpisah, satu ke arah pantai, satu lagi ke arah laut,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, Mayang langsung berupaya mencari pertolongan. 

Ia berlari menuju arah kampus dan meminta bantuan kepada petugas keamanan yang ditemuinya.

“Saya sempat ke kampus, ketemu satpam yang sedang makan, lalu dia langsung meninggalkan makanannya dan menuju ke pantai,” katanya.

Baca juga: Breaking News 2 Bocah Tenggelam di Pantai Ujung Karang Padang Belakang Kampus Bung Hatta

Pinjam Ban Bekas untuk Evakuasi

Tak berhenti di situ, Mayang juga berusaha mencari alat bantu untuk evakuasi. 

Ia menuju kawasan pintu muara dan meminta bantuan nelayan yang baru pulang melaut untuk meminjam pelampung dari ban bekas.

Namun saat kembali ke lokasi, para korban sudah tidak terlihat lagi di permukaan air.

“Waktu saya kembali, anak-anak yang hanyut sudah tidak nampak. Teman-temannya juga sudah tidak ada di lokasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sebelumnya dirinya bersama beberapa warga juga sempat berinisiatif melakukan penyelamatan.

Bahkan ada dua pemuda yang mencoba menuju ke tengah laut, namun terhambat karena kondisi karang yang melukai kaki.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.49 WIB. 

Saat itu, menurut Mayang, kondisi pantai relatif sepi dan tidak ada pengawasan.

“Saya sebenarnya sudah heran melihat mereka berenang di sana. Saya sempat melarang dan menyuruh mereka naik, tapi tidak dihiraukan. Tidak lama setelah itu, mereka hanyut,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyampaikan bahwa dua anak yang dilaporkan tenggelam masing-masing bernama Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9), warga Kelurahan Gunung Pangilun.

Ia menjelaskan, kejadian bermula saat enam anak berenang di lokasi dengan kondisi ombak yang tidak bersahabat serta air yang keruh.

“Empat anak berada di tengah dan berusaha kembali ke pinggir. Namun dua anak diduga terseret ombak dan hilang,” kata Hendri.

Terus Berdoa Demi Cucu

BERHARAP- Yulidar, nenek Zafran Al Malik Akbar (9), bocah yang tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kota Padang. Dirinya terus berdoa dan berharap agar sang cucu yang duduk ke kelas 3 SD itu ditemukan.
BERHARAP- Yulidar, nenek Zafran Al Malik Akbar (9), bocah yang tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kota Padang. Dirinya terus berdoa dan berharap agar sang cucu yang duduk ke kelas 3 SD itu ditemukan. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Sabak mengungkung wajah Yulidar, nenek Zafran Al Malik Akbar (9), bocah yang tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kota Padang, Sabtu (18/4/2026) sore

Cucu Yulidar hanyut di pantai tersebut saat berenang bersama teman-temannya sekira pukul 12:40 WIB.

Sabtu siang sekira pukul 16:00 WIB, kabar tak mengenakan itu sampai juga ke telinga Yulidar.  Dengan hati kacau balau, ia melangkah ke Pantai Ujung Karang.

Di sana, mata merah dan tetesan tangis tak terbendung, melihat dua perahu karet milik Kantor SAR Kelas A Padang ditarik ke daratan. Sementara, sang cucu tak kunjung ditemukan hingga pukul 18:00 WIB. 

Pergi Bermain Bersama Teman, Keluarga Tidak Tahu

Yulidar tak tahu jika sang cucu pergi meninggalkan rumah untuk pergi berenang ke Pantai Ujung Karang.

Tiba-tiba, kabar duka datang, mengabarkan sang cucu telah hanyut saat berenang di pantai bersama teman-temannya.

"Tidak tahu kalau pergi berenang, tiba-tiba dapat informasi kalau dia hanyut di sini," terang Yulidar dengan tatapan kosong ke arah laut.

Sementara di lokasi, masyarakat begitu ramai menyaksikan proses pencarian. 

Bahkan saat dua perahu milik Kantor SAR Kelas A Padang ditarik ke daratan, rasa penasaran masyarakat tak kunjung mereda.

Perlahan, matahari mulai tenggelam ke laut, awan mulai meredup, pertanda pergantian siang ke malam.

Baca juga: SAR Padang Ungkap Alasan Hentikan Proses Pencarian 2 Bocah Tenggelam di Malam Hari

Di tengah suasana itu, keluarga lainnya tak berhenti berharap terhadap korban. 

Sembab mata cukup membuktikan bagaimana mereka kehilangan sosok anak atau cucu kesayangan.

Mulai dari ibu, ayah, kakak dan kerabat lainnya. Kesedihan mereka tak terbendung, dan harus ditenangkan oleh masyarakat sekitar.

"Saya berdoa terus, bertemu lah cucu saya, dia sekarang kelas 3 di SDN 06 Padang," terangnya.

Perlahan, gelap pun datang, para keluarga masih berharap di tengah derasnya gelombang. 

Menanti cucu kesayangan balik ke daratan.

2. Tangan Dingin Darima: Mengubah Limbah Plastik Menjadi Harapan Ribuan Anak Putus Sekolah

Di sebuah sudut bangunan di Jalan Bakti ABRI, Pagambiran Ampalu Nan XX, Padang, suara gesekan plastik terdengar ritmis di antara gumam doa dan tawa kecil.

Pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tenggang Raso, Darima, duduk bersila di tengah kepungan botol plastik bekas yang warnanya sudah memudar.

Di tangan perempuan ini, limbah itu bukan sekadar sampah, melainkan nyawa bagi masa depan ratusan anak asuhnya.

Siang itu, Rabu (22/4/2026), Darima tampak sibuk memegang sebuah pola keranjang. Matanya yang tajam mengamati setiap lekukan plastik, sementara tangannya dengan cekatan memberi instruksi kepada seorang remaja di hadapannya.

Baca juga: Intip Ketangguhan Keranjang Daur Ulang Milik Dalima, Bisa Tahan Bertahun-tahun

Ia tidak sekadar mengajar, ia sedang mentransfer harapan yang dulu pernah hampir hilang dari genggamannya sendiri.

"Kita dilahirkan bukan untuk mengganggu. Ayolah, kumpulkan sampah ini, bersihkan, lalu kita cari ide bersama," ucap Darima lembut. Kalimat itu seolah menjadi mantra yang mampu mengubah rasa rendah diri anak-anak marginal menjadi semangat yang berkobar.

Berawal dari Terminal dan Pahitnya Masa Lalu

PKBM Tenggang Raso ditemui di Pagambiran Ampalu 22/4/2026
PKBM- Darima pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tenggang Raso ditemui di Pagambiran Ampalu Nan XX, Padang, Rabu (22/4/2026).

Lahir pada tahun 1960, Darima tumbuh dalam bayang-bayang kemiskinan yang pekat. Masa kecilnya habis di jalanan sebagai penjual kantong plastik. Ia pernah merasakan pedihnya menjadi orang yang dianggap sebelah mata karena tidak mengenyam pendidikan formal.

Nasibnya berubah ketika sebuah tangan baik membantunya mengikuti ujian persamaan hingga akhirnya ia meraih ijazah. Pengalaman pahit itulah yang kemudian memicu lahirnya PKBM Tenggang Raso pada tahun 2000.

Nama "Tenggang Raso" sendiri dipilih bukan tanpa alasan; sebuah filosofi Minang yang berarti tenggang rasa atau kepedulian terhadap sesama.

Baca juga: Melawan Mahalnya Plastik di Padang, Dalima Beralih ke Keranjang Daur Ulang

Awalnya, Darima bergerak di lingkungan terminal. Ia merangkul anak-anak yang putus sekolah dan terlantar berasal dari berbagai daerah. Keprihatinannya memuncak saat melihat tumpukan sampah yang tak terurus.

Logika Darima sederhana namun efektif memberikan solusi atas masalah sampah sekaligus meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat.

Senjata Ijazah dan Keterampilan Tangan

Ia mulai mengajarkan cara membuat tas sandang ke pasar, tas kecil, tempat minum, hingga keranjang dari olahan limbah plastik. Semuanya dimulai dengan modal ikhlas dan bantuan beberapa masyarakat lainnya.

Ia sadar bahwa keterampilan tangan saja tidak akan cukup untuk menembus kerasnya dunia kerja modern.

Maka, Darima mengetuk pintu Dinas Pendidikan agar anak-anak binaannya bisa mengikuti program kesetaraan Paket A, B, dan C. Ijazah adalah kunci, tapi keterampilan adalah senjatanya pikirnya saat itu.

Baca juga: Peringati Hari Kartini, RSJ dr. Yaunin Gelar Bakti Sosial dan Survei Kesehatan Mental Korban Banjir

Kini, perjuangan seperempat abad itu membuahkan hasil yang mencengangkan. Darima telah meluluskan sekitar 13.000 orang sejak awal berdiri. Ribuan orang yang dulunya mungkin hanya akan menjadi beban sosial, kini telah bertransformasi menjadi polisi, pengusaha, PNS, hingga anggota DPRD.

Saat ini, PKBM Tenggang Raso beroperasi di dua sekretariat. Pusat pembelajaran berlokasi di Jalan Air Paku, Sungai Sapih, sementara pusat pengolahan kerajinan berada di Pagambiran Ampalu.

Dua tempat ini menjadi ekosistem tempat mimpi-mimpi kecil dirawat dengan sangat hati-hati.

Menembus Pasar Internasional dan Kemandirian Ekonomi

Setiap Sabtu dan Minggu, suasana di kedua tempat ini selalu hidup. Pagi hari digunakan untuk mengejar ketertinggalan materi sekolah, sementara siang harinya diisi dengan memproduksi kerajinan.

Kerja keras anak-anak ini tidak cuma-cuma setiap produk yang mereka selesaikan dihargai oleh PKBM agar mereka memiliki uang saku dan tabungan.

Produk buatan mereka kini bukan lagi barang kelas teri. Dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga ratusan ribu rupiah, kerajinan Tenggang Raso telah menyeberangi samudera.

Pasar di Malaysia, Singapura, hingga Thailand mulai melirik karya anak-anak Padang ini melalui berbagai ajang pameran internasional.

Bagi Darima, kesuksesan ekspor bukanlah segalanya. Baginya, melihat 336 kepala keluarga yang saat ini masih berjuang di jalur Paket A dan B tetap semangat adalah kemenangan harian.

Baca juga: Inovasi UP2K Solok Selatan, Ibu-Ibu Sulap Buah Nangka Jadi Rendang dan Abon

Ia percaya bahwa pemberdayaan harus menyentuh akar rumput agar dampaknya terasa nyata.

Kerja sama dengan Pemerintah Kota Padang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus ia jalin dengan apik.

Ia sering menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan UMKM adalah kunci untuk menciptakan peluang pasar yang lebih luas bagi produk daur ulang.

"Pengolahan sampah itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Usaha kecil seperti ini punya potensi besar jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh," tambahnya sembari merapikan tumpukan keranjang yang siap dikirim.

Atas dedikasinya yang tak goyah oleh waktu, Darima dinobatkan sebagai Perempuan Inspiratif Kota Padang pada tahun 2024.

Baca juga: Menilik Proses Pembuatan Tas hingga Tikar dari Daun Pandan di Sijunjung

Sebuah gelar yang sangat pantas untuk seseorang yang menghabiskan separuh usianya untuk memunguti sampah dan mengubahnya menjadi ijazah.

Di sela-sela kesibukannya, Darima tak pernah lupa untuk bercanda dengan anggota binaannya, termasuk mereka yang sudah lanjut usia. Baginya, semua orang berhak atas kesempatan kedua, tak peduli berapa pun usia mereka.

"Teruslah bekerja dengan hati ikhlas. Lihatlah kakak dan abang kalian yang sudah sukses. Saya ingin kalian bisa lebih hebat dari mereka," pungkas Darima.

3. Truk Rusak di Panorama 1 Sitinjau Lauik Padang Hambat Jalan, Lalu Lintas Masih Lancar Rabu Pagi

Truk rusak di Panorama 1 Sitinjau Lauik Padang menghambat sebagian badan jalan pada pendakian tersebut, Kota Padang, Rabu (22/4/2026) pagi.

Kendaraan besar berwarna hijau itu tertahan saat melaju dari arah Padang menuju Kabupaten Solok.

Truk tersebut tampak terparkir di pendakian Panorama 1 dan menghambat badan jalan. 

Akan tetapi, berdasarkan laporan pengendara yang melintas, belum terjadi kemacetan pada Rabu pagi di kawasan tersebut.

Pengendara, Abdul Fatah mengatakan bahwa truk tersebut tertahan saat hendak menuju Solok dari arah Padang.

"Lokasi tepatnya, di sebelah kiri pendakian Panorama 1. Apakah gagal menanjak atau rusak, namun truk terparkir di sana," katanya saat dikonfirmasi.

Baca juga: Hulu Batang Kuranji Rusak, Revitalisasi Sungai Bukan Solusi

Meski truk rusak dan hambat badan jalan, arus lalu lintas masih terpantau lancar dan terkendali di kawasan Sitinjau Lauik.

Kata Abdul Fatah, berkemungkinan kemacetan belum terjadi karena volume kendaraan masih sepi.

"Volume kendaraan belum ramai, jadi belum macet di sekitar lokasi," ujar Abdul Fatah.

Senada, pengendara lainnya bernama Firman mengatakan arus lalu lintas di Sitinjau Lauik tidak terjadi hambatan.

Arus di kawasan ini terpantau lancar sejak 06:17 hingga 07:30 WIB, belum ada laporan kemacetan dari pengendara yang melintas.

"Meski ada truk rusak, arus tetap aman pagi ini," tegasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.