Harga Minyak Goreng di Palembang Melonjak Imbas Geopolitik Timur Tengah, Tembus Rp24 Ribu per Liter
Odi Aria April 23, 2026 08:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Harga minyak goreng di sejumlah ritel di Palembang mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir, baik kemasan refill pouch maupun botol.

Sebelumnya, harga minyak goreng premium berkisar Rp20.000–Rp21.000 per liter. Kini naik menjadi Rp22.000–Rp24.000 per liter, atau sekitar Rp45.000 untuk kemasan 2 liter.

Meski ada produk dengan harga promo Rp22.000–Rp23.000 per liter, stoknya kerap kosong.

Kenaikan ini terjadi pada hampir semua merek, baik produk ritel maupun produsen.

Selain itu, sejumlah supermarket menerapkan pembatasan pembelian. Konsumen hanya diperbolehkan membeli maksimal 2 hingga 4 kemasan per hari.

Di Hypermart, tidak ada pembatasan pembelian, namun harga tetap naik hingga Rp45.000 per kemasan 2 liter.

Pembatasan juga berlaku untuk gula pasir dan beras. Di Super Indo, gula pasir dibatasi maksimal 4 kg dan beras 4 sak per konsumen per hari. Sementara di Hypermart, gula pasir dibatasi maksimal 2 kg per hari.

Di sisi lain, minyak goreng bersubsidi “Minyak Kita” dilaporkan mulai langka di pasaran.

Analis Perdagangan Ahli Muda Dinas Perdagangan Palembang, Yulius Priansyah SE, MSi, mengatakan kenaikan harga dipengaruhi faktor global, salah satunya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Menurutnya, konflik tersebut menyebabkan kenaikan harga bahan baku plastik, termasuk kemasan minyak goreng.

“Harga plastik kresek naik hingga 50 persen, sementara plastik kemasan pouch juga mengalami kenaikan signifikan,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Hal ini membuat biaya produksi meningkat dan berdampak pada harga jual ke konsumen.

Yulius juga mengungkapkan stok beras di Bulog sebenarnya mencukupi, namun distribusi terhambat karena keterbatasan bahan kemasan.

“Pengemasan diperkirakan baru bisa dilakukan bulan depan setelah ketersediaan plastik terpenuhi,” jelasnya.

Ia menilai pembatasan pembelian dilakukan untuk mencegah panic buying.

Masyarakat diimbau berbelanja sesuai kebutuhan dan tidak menimbun barang.

“Panic buying dapat memicu kelangkaan dan kenaikan harga,” tegasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.