TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Pondok Pesantren Minhajurrosyidiin, K.H. Chairul Baihaqi, menegaskan komitmen pesantren dalam menjaga lingkungan melalui penerapan konsep ekoteologi dan ekonomi hijau.
Ia menjelaskan, Pondok Pesantren Minhajurrosyidiin menjadi salah satu pesantren yang didorong Kementerian Agama untuk menerapkan ekoteologi.
Ekoteologi, adalah pendekatan yang mengintegrasikan ajaran agama dengan kepedulian terhadap lingkungan.
"Kita tidak hanya memperingati Hari Bumi, tetapi bagaimana menjaga bumi ini agar tetap hijau dan bersahabat dengan kita," ujar Chairul saat peluncuran Reverse Vending Machine (RVM) dan peringatan Hari Bumi di Pondok Pesantren Minhajurrosyidiin, Jakarta Timur, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, pendidikan di pesantren tidak hanya berfokus pada kitab dan Al-Qur’an, tetapi juga praktik menjaga kelestarian alam.
Pondok Pesantren Minhajurrosyidiin merupakan lembaga pendidikan Islam di kawasan Cipayung, Lubang Buaya, Jakarta Timur, yang mengintegrasikan sistem pesantren tradisional dengan pendidikan formal modern.
Dalam pengelolaan sampah, pesantren ini menargetkan konsep zero waste.
Zero Waste adalah sebuah konsep pengelolaan sumber daya dan sampah yang bertujuan agar tidak ada limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Prinsip utamanya adalah mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sehingga siklus material bisa terus berputar tanpa menghasilkan residu yang mencemari lingkungan.
Saat ini, sekitar 80 persen sampah telah berhasil diolah secara mandiri.
Sementara sisanya masih dibuang karena belum dapat didaur ulang.
"Cita-cita kami tidak ada sampah yang keluar dari pesantren. Walaupun saat ini masih ada sekitar 20 persen yang belum bisa kita recycle," katanya.
Chairul juga mengungkapkan, pesantren telah mengembangkan berbagai sistem pengolahan sampah, mulai dari budidaya maggot untuk mengolah sampah organik, hingga pemanfaatan limbah untuk pertanian hidroponik dan perikanan, seperti lele, ikan mas, dan belut.
Menurutnya, upaya menjaga lingkungan tidak harus dilakukan secara besar-besaran, tetapi bisa dimulai dari tingkat rumah tangga.
"Kita bertindak untuk lingkungan itu tidak harus secara komunal, tetapi juga personal, rumah per rumah," ujarnya.
Ia juga menyebut pesantren yang memiliki lahan sekitar 12 hektare itu berkomitmen menjaga kawasan tetap hijau.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Direktorat Edukasi Perlindungan Konsumen OJK, Nuning Isnainijati, menyebut peluncuran RVM ini merupakan yang pertama di lingkungan pesantren di Indonesia.
"Ini merupakan RPM pertama di pondok pesantren di seluruh Indonesia," ujarnya.
Nuning menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong literasi keuangan dan inklusi keuangan syariah, khususnya bagi perempuan sebagai pengelola keuangan keluarga.