PROHABA.CO, ACEH BARAT - Pemandangan memprihatinkan terlihat di Kabupaten Aceh Barat, sejumlah anak sekolah terpaksa belajar di Pustu.
Kondisi ini terjadi karena jembatan penghubung di wilayah itu rusak dan hingga kini belum juga diperbaiki.
Semangat belajar anak-anak di Gampong Canggai, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, menjadi cerminan keteguhan dan harapan di tengah keterbatasan.
Kondisi sulit yang mereka hadapi tidak menyurutkan keinginan untuk terus menimba ilmu, meskipun akses menuju sekolah kini terputus akibat rusaknya jembatan gantung penghubung Canggai–Jambak.
Sejak jembatan tersebut putus total diterjang banjir bandang pada 26 November 2005, aktivitas masyarakat menjadi terganggu, termasuk kegiatan pendidikan anak-anak.
Jembatan yang sebelumnya menjadi jalur utama kini tidak lagi dapat digunakan, sehingga siswa tidak bisa menyeberangi sungai untuk pergi ke sekolah seperti biasanya.
Situasi ini memaksa warga dan pihak terkait mencari solusi alternatif agar proses belajar mengajar tetap berlangsung.
Baca juga: Bangunan SDN 14 Juli Bireuen Sebagian Ambruk ke Sungai, Siswa Belajar di Tenda Darurat
Sebagai langkah darurat, kegiatan belajar kini dipusatkan di aula Pustu Gampong Canggai.
Para guru menunjukkan dedikasi tinggi dengan datang secara bergantian ke desa untuk mengajar para siswa.
Upaya ini dilakukan demi memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan mereka, meskipun dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Keuchik Gampong Canggai, Teuku Sulaiman, Rabu (22/4/2026) menyampaikan bahwa jembatan gantung tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.
Selain menjadi akses utama anak-anak menuju sekolah, jembatan itu juga mendukung berbagai aktivitas sosial dan ekonomi warga.
Tanpa jembatan, mobilitas masyarakat menjadi sangat terbatas.
Alternatif jalur darat yang tersedia pun tidak mudah dilalui, terutama bagi anak-anak sekolah dasar.
Baca juga: Bupati Aceh Timur Buka TMMD Reguler ke-128 di Birem Bayeun
Jika melalui jalur ke Tambang menuju SD Jambak, perjalanan bisa memakan waktu lebih dari satu jam dengan sepeda motor.
Sementara melalui jalur Lango, waktu tempuh bahkan bisa mencapai lebih dari dua jam.
Kondisi ini tentu tidak memungkinkan untuk dijalani setiap hari oleh anak-anak.
Meski demikian, semangat belajar para siswa tetap menyala.
Dengan dukungan para guru dan masyarakat, kegiatan belajar di desa menjadi solusi terbaik sementara waktu.
Namun, harapan besar tetap tertuju pada pemerintah agar segera membangun kembali jembatan tersebut,” harap Teuku Sulaiman.
Warga percaya bahwa dengan pulihnya akses ini, kehidupan akan kembali normal dan anak-anak dapat bersekolah dengan lebih layak.
Kisah ini menjadi bukti bahwa pendidikan tetap bisa berjalan di tengah keterbatasan, selama ada kemauan, kepedulian, dan kerja sama dari semua pihak.
Di tengah keterbatasan, semangat para siswa dan dedikasi para guru menjadi bukti bahwa pendidikan tetap bisa berjalan, meski harus beradaptasi dengan kondisi yang ada.
(Serambinews.com/Sadul Bahri)
Baca juga: Cinta Laura Kunjungi Aceh Pascabencana, Sedih Lihat Anak-anak Belajar di Tenda Tanpa Listrik
Baca juga: Sudah 3 Tahun, Murid SDN 2 Seumanah Jaya Belajar di Areal Parkir Beralas Terpal
Baca juga: Co-Founder ESAS dan Alumni IPB Aceh Dorong Hutan Kota Tibang Jadi Kebun Raya