TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Yogyakarta tengah melakukan langkah dalam mendorong perkembangan kawasan transmigrasi di Indonesia.
Sebanyak 60 transmigran penggerak yang berasal dari wilayah Poso, Sulawesi Tengah, dan Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat mengikuti program Peningkatan Kapasitas Transmigran Penggerak Angkatan I dan II.
Baca juga: Kementerian Transmigrasi Percepat Penyelesaian Status Lahan Ribuan Keluarga Transmigran
Program yang berlangsung selama tujuh hari ini bertujuan untuk mengasah kemampuan para transmigran dalam memetakan serta mengembangkan potensi ekonomi di wilayah masing-masing.
Kepala BBPPMT Yogyakarta, Tunggak Santosa menjelaskan pelatihan ini merupakan jenjang lanjutan bagi para transmigran yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dasar.
Kini, fokusnya adalah pada produktivitas dan kemandirian.
"Ini adalah pelatihan lanjutan bagaimana meningkatkan skill para transmigran. Mereka kan sudah dapat pelatihan dasar. Sekarang bagaimana meningkatkan produktivitas serta melihat peluang peningkatan ekonomi di kawasan mereka," ujar Tunggak, Rabu (22/4/2026).
Tunggak menambahkan, para peserta yang hadir tidak dipilih sembarangan.
Mereka merupakan orang-orang pilihan yang direkomendasikan oleh Dinas Transmigrasi wilayah masing-masing berdasarkan kualitas, keuletan, dan peran aktif mereka di tengah masyarakat.
Sebagai bentuk komitmen, para transmigran penggerak ini juga menandatangani pakta integritas agar ilmu yang didapat benar-benar diimplementasikan untuk kemajuan kawasan secara berkelanjutan.
"Ke depannya, akan ada juga penghargaan bagi yang berprestasi. Selain itu disiapkan juga business matching saat ada pertumbuhan ekonomi baru di wilayah transmigran," tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Staf Ahli Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan, dan Lingkungan Hidup Kementerian Transmigrasi, Harlina Sulistyorini menekankan bahwa paradigma pembangunan transmigrasi kini telah bergeser.
Menurut Harlina, keberhasilan sebuah kawasan tidak lagi hanya diukur dari pembangunan infrastruktur fisik, melainkan sangat bergantung pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
"Fokus utama kita hari ini adalah membangun manusia dan membangun penggerak. Upaya peningkatan kapasitas ini bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari proses yang berkelanjutan," terangnya.
Manfaat pelatihan ini pun dirasakan langsung oleh para peserta.
Sularso, seorang transmigran dari UPT Torire, Kabupaten Poso, mengaku sangat membutuhkan suntikan ilmu pengetahuan dan motivasi untuk mengembangkan wilayahnya yang berada di pedalaman.
"Tambah ilmu, tambah motivasi. Tanpa ilmu susah mengembangkan wilayah pedalaman. Kami butuh ilmu pertanian jangka pendek dan juga pertanian tanaman jangka panjang seperti kopi dan durian," ungkap Sularso.
Sebagai informasi, kegiatan Peningkatan Kapasitas Transmigran Penggerak ini dilaksanakan mulai tanggal 22 hingga 28 April 2026 di BBPPMT Yogyakarta.
Selama satu minggu, para peserta akan mengikuti total 56 jam pembelajaran yang dirancang untuk mempercepat kemandirian kawasan transmigrasi di Indonesia.