TRIBUNSORONG.COM, SORONG - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Papua Barat dan Papua Barat Daya menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di RSUD Sele Be Solu, Kota Sorong, Kamis (13/4/2026).
Kegiatan ini berupa skrining penyakit jantung pada anak serta pelatihan bagi tenaga kesehatan.
Program ini bekerja sama dengan Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi Anak dan berfokus pada deteksi dini penyakit jantung bawaan (PJB) pada bayi baru lahir hingga anak-anak.
Baca juga: Papua Barat Daya Dorong Hilirisasi dan Kawasan Industri untuk Dongkrak Ekonomi
Ketua IDAI Papua Barat–Papua Barat Daya dr. Sri Riyanti mengatakan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan untuk skrining awal, sekaligus memberikan layanan pemeriksaan gratis kepada masyarakat.
“Selama ini, pasien dengan dugaan penyakit jantung harus dirujuk ke luar daerah dengan biaya besar,” katanya.
Melalui kegiatan ini, diagnosis awal dapat terlaksana di Sorong sehingga hanya kasus yang membutuhkan penanganan lanjutan yang dirujuk.
Selain itu, kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun sistem rujukan berjenjang serta memperkuat layanan kesehatan anak di Papua Barat Daya.
Pengurus Pusat IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, bahwa kegiatan ini melibatkan sekitar 11 konsultan jantung anak dari berbagai wilayah di Indonesia.
Baca juga: Pemprov Papua Barat Daya Perkuat Akuntabilitas, Gelar Rakor Rekonsiliasi SILPA 2025
Tim memberikan pelatihan kepada bidan, perawat, dan dokter umum terkait skrining awal menggunakan pulse oximetry, alat yang sebelumnya banyak digunakan saat pandemi Covid-19 untuk mengukur saturasi oksigen.
Alat tersebut kini dimanfaatkan untuk mendeteksi kemungkinan penyakit jantung bawaan kritis pada bayi usia satu hari.
“Jika saturasi oksigen rendah, tenaga kesehatan dapat mencurigai adanya kelainan jantung yang memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti USG jantung (echocardiography),” kata Yanuarso.
Selain itu, dokter anak juga mendapat pelatihan dasar penggunaan echocardiography agar dapat melakukan pemeriksaan awal secara mandiri sebelum berkonsultasi dengan konsultan jantung anak melalui sistem telemedicine.
Langkah ini dinilai dapat menghemat biaya karena tidak semua pasien harus dirujuk, namun kasus yang membutuhkan penanganan lanjut tetap dapat ditangani tepat waktu.
Dalam kegiatan tersebut, tim IDAI menemukan sejumlah kasus serius pada anak, termasuk bayi dengan kelainan jantung kompleks yang membutuhkan operasi segera.
“Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko menyebabkan stunting dan gangguan pertumbuhan,” katanya.
Baca juga: AFP Papua Barat Daya Siapkan Piala Gubernur, Ajang Seleksi Talenta Futsal Berjenjang
Selain itu, ditemukan pula kasus komplikasi tuberkulosis yang berdampak pada selaput jantung dan memerlukan tindakan operasi.
Berdasarkan temuan lapangan, kasus penyakit jantung pada anak di wilayah Papua tergolong cukup tinggi.
IDAI mengimbau orang tua untuk mewaspadai tanda-tanda awal penyakit jantung bawaan pada anak, seperti berat badan tidak naik dalam tiga bulan pertama, kesulitan menyusu, serta perubahan warna kebiruan pada bibir, lidah, atau ujung jari.
Jika gejala tersebut muncul, orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter, terutama saat jadwal imunisasi, agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Melalui kegiatan ini, IDAI berharap deteksi dini semakin meningkat, kapasitas tenaga kesehatan semakin kuat, serta angka kematian dan kesakitan akibat penyakit jantung bawaan di Papua Barat Daya dapat ditekan, khususnya di Kota Sorong. (tribunsorong.com/ismail saleh)