TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri mendorong optimalisasi pemanfaatan embung sebagai sumber irigasi alternatif untuk menghadapi musim kemarau 2026.
Langkah ini dinilai penting guna menjaga keberlangsungan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan agar tetap stabil meski curah hujan menurun.
Kepala Dispertabun Kabupaten Kediri Sukadi melalui Kepala Bidang Pengelolaan Pangan Rini Pudyastuti menyampaikan, saat ini terdapat empat embung yang telah dimanfaatkan petani.
"Ada 4, 1 di Puncu 3 di Kepung," ucap Rini, Kamis (23/4/2026).
Baca juga: PG Meritjan Ramaikan Kota Kediri Jelang Giling 2026, Ada Pasar Malam, Jaranan Hingga Jalan Sehat
Embung tersebut berfungsi menampung berbagai sumber air, mulai dari air hujan, limpasan, hingga suplai dari sumur bor di sekitar lokasi.
Menurut Rini, keberadaan embung sangat membantu petani dalam menjaga ketersediaan air, terutama di tengah ancaman kemarau panjang.
Selain itu, pihaknya juga telah mengusulkan pembangunan embung baru untuk memperluas jangkauan irigasi, khususnya di wilayah barat Sungai Brantas yang rawan kekeringan.
"Ada satu usulan di barat sungai di Desa Parang Kecamatan Banyakan," jelasnya.
Tak hanya mengandalkan embung sebelumnya, Dispertabun juga mendorong petani menggunakan varietas padi genjah atau berumur pendek sebagai strategi mengurangi risiko gagal panen.
"Langkah pertama pakai varietas yang genjah, jadi benih padinya itu cepat panen," jelasnya.
Selain itu, optimalisasi jaringan irigasi juga dilakukan bersamaan dengan penggunaan pupuk organik padat untuk menjaga kelembapan tanah.
"Karena dengan pupuk organik padat itu dia akan nyerap air. Jadi dia akan nyimpen air lebih lama," imbuhnya.
Menurut Rini, tanah yang diberi pupuk organik akan lebih poros sehingga air tidak mudah terbuang dan bisa bertahan lebih lama di sekitar akar tanaman.
Di sisi lain, para petani juga mulai melakukan berbagai upaya mandiri untuk menghadapi musim kemarau.
Salah satunya dilakukan oleh Romadhon, petani asal Kecamatan Kepung yang menyiapkan cadangan air menggunakan tong di area persawahannya.
Madhon mengaku harus mengangkut air dari rumah menggunakan galon untuk mengisi tong-tong tersebut ketika suplai irigasi terbatas.
"Untuk antisipasi kekeringan, saya siapkan tong air di sawah. Kalau irigasi tidak ada, saya ambil air dari rumah," ucapnya.
Madhon berharap musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu lama agar tanaman cabai dan padi yang ditanamnya tetap bisa tumbuh optimal.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)