Update Perang Iran: Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu, Konflik Buntu dan Selat Hormuz Tetap Ditutup
SERAMBINEWS.COM – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase penuh ketidakpastian setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan tidak ada batas waktu untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama hampir dua bulan.
Dilansir Serambinews melalui BBC News (23/4/2026), Gedung Putih juga menegaskan bahwa gencatan senjata yang telah diperpanjang tidak memiliki tenggat waktu baru.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa proses diplomasi masih berjalan, namun tanpa arah yang jelas.
Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh tidak akan membuka kembali Selat Hormuz.
Baca juga: AS Tak Berniat Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Trump Puji Teheran: Mereka Negara yang Kuat
Ketua negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut langkah tersebut “tidak mungkin” dilakukan karena adanya pelanggaran gencatan senjata yang dinilai mencolok oleh AS dan Israel.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan damai.
Ia menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk tekanan yang merusak kepercayaan dalam proses negosiasi.
Sementara itu, situasi di lapangan semakin memanas.
Iran dilaporkan menyerang tiga kapal kargo yang mencoba melintasi Selat Hormuz dan menahan awak dari dua kapal di antaranya.
Baca juga: Detik-Detik Negosiasi Batal, Trump Pilih Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran
Langkah ini disebut sebagai respons terhadap tindakan AS yang sebelumnya menyita kapal berbendera Iran.
Pihak Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata.
Di sisi lain, Komando Pusat AS mengungkapkan telah memerintahkan puluhan kapal untuk berbalik arah sebagai bagian dari blokade terhadap Iran.
Sebagian besar kapal tersebut dilaporkan mematuhi perintah tersebut, yang menunjukkan efektivitas kebijakan tekanan ekonomi Washington.
Gedung Putih bahkan mengklaim bahwa blokade tersebut telah berdampak besar terhadap ekonomi Iran.
Baca juga: Update Hari ke-54 Perang Iran: Gencatan Senjata Diperpanjang, Blokade AS Tetap Picu Ketegangan
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut Iran mengalami kerugian hingga 500 juta dolar AS per hari akibat terhambatnya ekspor minyak.
Meski demikian, Iran tetap menunjukkan sikap terbuka terhadap pembicaraan damai.
Namun, Teheran menegaskan bahwa negosiasi hanya dapat berjalan jika tekanan dan ancaman dari AS dihentikan.
Ketegangan ini membuat kedua pihak berada dalam posisi buntu.
Di tingkat regional, dampak konflik juga mulai meluas.
Baca juga: Baru Perpanjang Gencatan Senjata, Trump Langsung Ancam Hancurkan Iran Jika Negosiasi Gagal
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, menyatakan bahwa perang tersebut mulai melemahkan Eropa dan berpotensi menimbulkan dampak lebih besar jika tidak segera diselesaikan melalui pendekatan damai.
Sementara itu, pembicaraan lanjutan antara Israel dan Lebanon dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan di kawasan.
Dengan situasi yang terus berkembang, dunia kini menghadapi ketidakpastian besar.
Meski gencatan senjata masih berlaku, belum ada jaminan konflik akan segera berakhir, sementara risiko eskalasi tetap tinggi di tengah kebuntuan diplomasi.
Baca juga: Tiga Kendala Dalam Negosiasi AS - Iran, Selat Hormuz Masih Jadi Bola Panas